RM.id Rakyat Merdeka - Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (FISIP UNAS) menggelar Round Table Discussion bertajuk “Bersama Merawat Ilmu Pengetahuan: Menggugat Birokratisasi Pengetahuan dan Pendidikan Indonesia”, di Exhibition Room UNAS Pejaten, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi intelektual yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan guru besar untuk membahas tantangan pendidikan tinggi Indonesia di tengah meningkatnya birokratisasi kampus, logika pasar dalam pendidikan, hingga memudarnya budaya berpikir kritis di lingkungan akademik.
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni UNAS Prof. Erna Ermawati Chotim, bersama para panelis diskusi, yakni Prof. Sigit Rochadi, Prof. Paisal Halim, Prof. Aris Munandar, dan Prof. Syamsiah Badrudin.
Dekan FISIP UNAS, Dr. Aos Yuli Firdaus, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan nilai kritis dan kemanusiaannya di tengah tuntutan administratif yang semakin kompleks.
“Tema ini bukan sekadar diskusi akademik biasa. Dunia pendidikan tidak boleh kehilangan ruh kritis dan nilai kemahasiswaannya. Hari ini kampus sering kali dituntut menjadi serba terukur, penuh laporan, capaian, dan birokrasi. Padahal ilmu sosial memiliki tugas menjaga akal sehat publik dan merawat kepekaan sosial masyarakat,” ujarnya.
Baca juga : Gelar Diskusi, Forwatan Dan Stakeholder Sawit Bahas Strategi Percepatan PSR
Menurut Aos, perguruan tinggi harus tetap hadir sebagai ruang pembentukan kesadaran sosial dan keberpihakan terhadap masyarakat.
“Saya mengapresiasi Prodi Sosiologi yang menghadirkan forum ini. Saya juga senang melihat mahasiswa terlibat aktif, berani bertanya, dan menunjukkan cara berpikir yang kritis,” tambahnya.
Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UNAS, Andi Achdian, menyampaikan apresiasi kepada seluruh panelis yang hadir. Ia menilai diskusi tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat tradisi intelektual di lingkungan kampus.
“Kami sangat mengapresiasi kehadiran para panelis. Prodi Sosiologi memiliki kekuatan akademik yang luar biasa dengan hadirnya empat profesor yang terus mendorong tradisi berpikir kritis di lingkungan akademik,” katanya.
Dalam sesi diskusi, Sigit Rochadi menegaskan bahwa sikap kritis merupakan identitas utama ilmu sosiologi. “Kritik dan sikap kritis adalah DNA-nya sosiologi. Karena itu ruang-ruang diskusi seperti ini penting untuk terus dirawat,” ungkapnya.
Baca juga : SIM Keliling Tangerang Kota Selasa 19 Mei, Hadir di 2 Lokasi
Pandangan kritis juga disampaikan Aris Munandar yang menyoroti fenomena pendidikan tinggi yang mulai bergerak mengikuti logika pasar dan kepentingan ekonomi.
“Kita tidak hanya sedang berbicara tentang persoalan personal, tetapi tentang masa depan ilmu pengetahuan di Indonesia. Hari ini muncul wacana pemecahan program studi karena dianggap tidak diminati dan dinilai dari sisi efisiensi finansial. Ini menunjukkan bahwa pendidikan mulai dilihat dengan logika pasar, sementara ilmu pengetahuan dinilai berdasarkan aspek ekonominya,” jelasnya.
Menurut Aris, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi dunia akademik untuk mempertahankan esensi pendidikan sebagai ruang pencarian pengetahuan dan pembentukan peradaban.
Dalam diskusi, Syamsiah Badrudin menegaskan pentingnya mahasiswa memiliki kepercayaan diri untuk terus maju dan berkembang di tengah perubahan dunia yang semakin kompetitif. Menurutnya, keberanian untuk tampil, berpikir, dan mengambil peluang menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja maupun kehidupan sosial di masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Erna Ermawati Chotim menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan pilar utama dalam membangun peradaban bangsa. “Orientasi perguruan tinggi bukan sekadar menciptakan lulusan, tetapi membangun peradaban bangsa melalui pengetahuan. Manusia tidak diciptakan karena teknologi, melainkan karena mental dan nilai-nilai kemanusiaan,” tegasnya.
Baca juga : Golkar Dukung Polri Sikat Begal dan Premanisme
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin keberlangsungan pendidikan sebagai amanat konstitusi, sekaligus mendorong perguruan tinggi untuk terus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia.
Sementara, Paisal Halim mengajak mahasiswa memiliki keberanian menciptakan perubahan dan peluang di tengah tantangan dunia kerja saat ini. “Jadikan diri Anda sebagai nilai. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan perubahan bagi masyarakat. Tidak mungkin ada perubahan tanpa perubahan,” tambahnya.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa tampak antusias menyampaikan pertanyaan dan pandangan kritis terkait masa depan pendidikan Indonesia. Melalui forum tersebut, FISIP UNAS menegaskan komitmennya untuk terus menjaga tradisi intelektual, memperkuat budaya berpikir kritis, dan merawat ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.