BREAKING NEWS
 

Apoteker di Era Digital: Menimbang Ulang Peran Manusia di Tengah Gemuruh AI

Writer : Tia Sukma Ningsih
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 18 Agustus 2026 21:46 WIB
Ilustrasi apoteker di ujung tanduk. (Gambar dibuat dengan AI)

Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar istilah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan diucapkan di mana-mana, mulai dari dunia perbankan, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan. Namun bagi saya, sebagai seorang mahasiswa yang bergelut di bidang farmasi, penerapan AI di sektor ini adalah salah satu yang paling menarik sekaligus mencemaskan.

Mengapa? Karena bidang ini menyentuh langsung nyawa dan keselamatan manusia. Obat yang kita minum, resep yang diberikan apoteker, hingga proses panjang penemuan senyawa baru, kini mulai bersinggungan dengan algoritma cerdas yang bekerja jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia biasa. Pertanyaannya, apakah kehadiran AI ini benar-benar membawa kemajuan, atau justru menjadi ancaman eksistensial bagi profesi apoteker?

AI Mengubah Wajah Farmasi dari Hulu ke Hilir

Integrasi AI ke dalam industri farmasi telah membawa transformasi nyata. Jika dahulu proses penemuan obat baru diibaratkan sebagai perjalanan panjang yang memakan waktu 10 hingga 15 tahun dengan biaya miliaran dolar AS, kini AI hadir sebagai katalis yang mampu memangkas waktu dan biaya secara signifikan . Kemampuan AI untuk menganalisis dataset besar dan memprediksi interaksi obat-target secara efektif telah mempercepat proses penemuan obat berkali-kali lipat .

Salah satu tonggak penting terjadi pada 2025, ketika dunia menyaksikan keberhasilan pertama obat yang ditemukan dan dikembangkan sepenuhnya oleh AI—Rentosertib dari Insilico Medicine—yang hasil uji klinisnya dipublikasikan di Nature Medicine. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan bukti nyata bahwa AI mampu menembus apa yang selama ini dianggap sebagai "tembok" dalam penelitian farmasi.

Tak hanya di laboratorium riset, AI juga mulai merambah praktik farmasi sehari-hari. Di apotek komunitas, implementasi teknologi AI telah menunjukkan hasil yang menggembirakan: peningkatan kepatuhan minum obat hingga 40% dan pengurangan 55% dalam kasus resep yang tidak ditebus . Di rumah sakit, penerapan AI mampu mengurangi kesalahan distribusi resep hingga 75% dan meningkatkan deteksi reaksi obat merugikan hingga 65% .

Baca juga : Farmasi di Era AI: Antara Efisiensi Revolusioner dan Tanggung Jawab Etis

Di Indonesia, Kementerian Perindustrian telah mempercepat transformasi digital sektor farmasi melalui pemanfaatan AI. Salah satu contoh nyata adalah implementasi sistem predictive maintenance berbasis AI di PT Kalbe Farma Tbk yang dikembangkan bersama PT NEC Indonesia. Teknologi ini memanfaatkan AI dan machine learning untuk menganalisis kondisi mesin produksi secara prediktif, sehingga potensi gangguan dapat dideteksi lebih dini, mengurangi risiko downtime, dan meningkatkan efisiensi operasional .

Apakah Apoteker Akan Tergantikan?

Di tengah gemuruh kemajuan ini, kekhawatiran akan tergantikannya peran manusia oleh mesin semakin menguat. Survei terhadap mahasiswa farmasi di kawasan MENA mengungkapkan bahwa 60,5% responden mengkhawatirkan AI dapat mengurangi aspek humanistik dari profesi farmasi . Kekhawatiran ini bukanlah ketakutan berlebihan.

Namun, Guru Besar Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Maksum Radji, menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan profesi apoteker, melainkan mendorong lahirnya "Apoteker 5.0" yang memadukan kompetensi kefarmasian dengan penguasaan teknologi digital . Menurutnya, aspek pengambilan keputusan klinis, etika profesi, komunikasi terapeutik, dan empati kepada pasien tetap menjadi kompetensi yang hanya dapat dilakukan oleh manusia .

Adsense

Prof. Maksum menjelaskan bahwa terdapat sejumlah peran utama apoteker yang tidak dapat digantikan oleh teknologi: memberikan edukasi kepada pasien mengenai penggunaan obat, memastikan keamanan terapi, hingga melakukan konseling untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. "AI merupakan mitra strategis yang membantu meningkatkan akurasi dan efisiensi pelayanan kefarmasian. Namun, keputusan klinis, pertimbangan etis, serta komunikasi dengan pasien tetap membutuhkan keahlian seorang apoteker," tegasnya .

AI sebagai Mitra, Bukan Pengganti

Baca juga : Farmasi di Era Kecerdasan Buatan: Antara Janji Kemajuan dan Tanggung Jawab Etis

Setelah menimbang berbagai sisi tersebut, pandangan pribadi saya cukup jelas: AI adalah alat bantu yang sangat berharga bagi dunia farmasi, namun bukan solusi ajaib yang bisa berdiri sendiri tanpa pengawasan manusia. Saya meyakini bahwa masa depan farmasi bukanlah farmasi yang sepenuhnya dikendalikan mesin, melainkan farmasi yang diperkuat oleh kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.

Ada tiga hal yang menurut saya perlu menjadi perhatian utama ke depan. Pertama, literasi AI bagi para tenaga farmasi. Seperti halnya literasi AI bagi guru yang terbukti mempengaruhi keyakinan diri dan kesadaran etika, para apoteker dan mahasiswa farmasi juga perlu dibekali pemahaman yang memadai tentang cara kerja AI, keterbatasannya, serta implikasi etisnya. Di kampus, metode pembelajaran pun perlu beradaptasi—dari sekadar menghafal menjadi berpikir kritis. Mahasiswa perlu dilatih untuk mengkritisi output AI, bukan sekadar menyalin-tempel .

Kedua, penguatan regulasi dan etika. Federasi Farmasi Internasional (FIP) dengan tegas menyatakan bahwa AI akan mengubah masa depan farmasi hanya jika diintegrasikan secara bertanggung jawab dan etis. Perlindungan kuat untuk privasi pasien, keamanan data, dan upaya mengatasi bias algoritma harus menjadi prioritas. Ketiga, kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia—terutama di daerah—siap secara infrastruktur maupun tenaga ahli untuk mengadopsi AI .

Pada akhirnya, kehadiran AI di dunia farmasi bukanlah tentang menggantikan manusia, melainkan tentang bagaimana kita memanfaatkannya secara bijak. Profesi apoteker tidak akan hilang, tetapi akan bertransformasi. Apoteker masa depan bukan lagi sekadar "peracik obat", melainkan analis data, konsultan terapi, dan pengawas implementasi AI yang sesuai dengan regulasi dan etika pelayanan kesehatan. Jadi, apakah apoteker di ujung tanduk? Tergantung pada pilihan kita: apakah kita akan menjadi korban dari perubahan, atau menjadi pelaku yang membentuk masa depan profesi ini.

Referensi

Maksum Radji, Guru Besar Program Studi Farmasi Universitas Esa Unggul, dalam wawancara dengan Disway (2026) .

Baca juga : Pemanfaatan AI di Dunia Farmasi: Peluang,Tantangan, dan Peran Tenaga Kefarmasian

R. Siti Nadia, "Kecerdasan Buatan di Dunia Farmasi: Antara Revolusi dan Tanggung Jawab Etis," RM.ID, 10 Agustus 2026 .

Kemenperin, "Kemenperin Percepat Transformasi Digital Industri Farmasi Dengan AI," RM.ID, 20 Juli 2026 .

Dr. Fendi Hidayat, "TOT AI untuk Guru: Mempersiapkan Literasi AI dan Pengajaran Etis di Kelas," RM.ID, 22 Juli 2025 .

Riztiani Ramadhaniyah, "Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Farmasi: Antara Harapan dan Kehati-hatian," RM.ID, 9 Agustus 2026 .

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense