BREAKING NEWS
 

Era Digital vs Kesehatan: Layar Makin Dekat, Gerak Semakin Sedikit

Writer : IKM10 UINSU Stambuk 2026 d
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 18 Oktober 2026 21:46 WIB
Ilustrasi tantangan kesehatan masyarakat di era digital. (Gambar: Istimewa)

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Berbagai aktivitas yang dahulu membutuhkan banyak gerakan fisik kini dapat dilakukan hanya melalui layar. Belanja, belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mencari hiburan dapat dilakukan menggunakan smartphone atau komputer.

Kemudahan tersebut memang membuat kehidupan menjadi lebih praktis, tetapi disisi lain dapat membuat masyarakat semakin banyak duduk dan semakin sedikit bergerak. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di era digital. 

Aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Aktivitas fisik tidak hanya berupa olahraga, tetapi juga mencakup berjalan kaki, bersepeda, melakukan pekerjaan rumah, dan berbagai aktivitas sehari-hari lainnya. Aktivitas fisik memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan mental masyarakat.

Baca juga : Membangun Masyarakat Sehat Dimulai dari Lingkungan

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik tidak hanya meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM), tetapi juga berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas pada masyarakat yang menderita penyakit tersebut (Jurnal National Institutes of Health (NHI) 2022)

Namun, pengguna teknologi yang semakin tinggi dapat mendorong perilaku sedentari, yaitu kebiasaan menghabiskan banyak waktu dalam keadaan duduk atau kurang bergerak. Menonton video, bermain gim, menggunakan media sosial, belajar melalui perangkat digital, dan bekerja di depan komputer dapat membuat seseorang duduk selama berjam-jam.

Adsense

Kalau dilakukan terus-menerus, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk berjalan, berolahraga atau melakukan aktivitas fisik menjadi berkurang. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas sedentari, semakin penting adanya upaya untuk mengurangi waktu duduk dan meningkatkan aktivitas fisik. 

Baca juga : KSP Kawal Peningkatan Kelas Rumah Sakit Daerah

Masalah kurang bergerak tidak boleh dianggap sepele. Perilaku sedentari dalam waktu lama berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan yang merugikan. Kurangnya aktivitas fisik dan tingginya waktu sedentari dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM), seperti penyakit jantung dan diabetes tipe 2, serta dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat (Jurnal National Institutes of Health (NHI) 2020).

Persoalan tersebut juga dapat dialami oleh anak-anak, remaja, mahasiswa dan dewasa. Penggunaan perangkat digital untuk belajar dan hiburan membuat waktu di depan layar semakin bertambah. Waktu yang sebelumnya dapat digunakan untuk berjalan kaki, bermain di luar rumah, berolahraga, atau melakukan kegiatan aktif justru dapat tergantikan oleh aktivitas pasif di depan layar. Kebiasaan kurang bergerak dapat membuat tubuh menjadi lebih mudah lelah, menurunkan kebugaran, dan dalam jangka panjang meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada masyarakat. 

Meski demikian, teknologi tidak selalu menjadi penyebab masalah. Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan aktivitas fisik. Aplikasi penghitung langkah, jam pintar, pengingat bergerak, dan berbagai program kesehatan digital dapat membantu seseorang memantau aktivitasnya. Intervensi digital memiliki potensi untuk membantu meningkatkan aktivitas fisik sekaligus mengurangi perilaku sedentari pada masyarakat (Jurnal National Institutes of Health (NHI) 2025).

Baca juga : Warga Lebih Mudah Bawa Hewan Berobat

Karena itu, tantangan di era digital bukanlah menjauhi teknologi itu, melainkan menggunakannya secara seimbang. Masyarakat dapat membiasakan diri mengisi menyelingi waktu duduk dengan bergerak, memilih berjalan kaki untuk jarak yang memungkinkan, melakukan olahraga secara rutin, serta mengurangi waktu layar yang tidak diperlukan. Sekolah, kampus, keluarga, tempat kerja, dan pemerintah juga perlu menciptakan lingkungan yang mendorong masyarakat untuk lebih aktif. 

Kemajuan teknologi seharusnya berjalan seiring dengan kepedulian terhadap kesehatan. Layar boleh semakin dekat, tetapi tubuh tetap memerlukan gerak. Dengan membangun kebiasaan hidup aktif di tengah perkembangan digital, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.

Artikel ini ditulis oleh Amira Layla Harahap, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense