Ruang kelas selalu punya momen yang sunyi. Dosen menyebut sebuah nama, lalu seisi ruangan menoleh. Mahasiswa yang dipanggil berdiri dengan kertas di tangan, dan tiba-tiba kalimat yang sudah dihafal semalam menguap begitu saja. Suara bergetar, mata menempel pada slide, dan tangan sibuk memegang apa saja yang bisa digenggam. Pemandangan ini begitu lazim, padahal yang berdiri di depan adalah orang dewasa muda yang sudah menempuh pendidikan belasan tahun. Mengapa presentasi di depan kelas masih menjadi momok bagi begitu banyak mahasiswa?
Pertama, rasa takut ini bukan kelemahan segelintir orang. Dalam psikologi, ketakutan berbicara di depan umum dikenal sebagai glossophobia. Sebuah studi dalam Jurnal Neuropsychiatric Disease and Treatment (2013) menyebut berbicara di depan umum menimbulkan kecemasan pada sekitar 77 persen populasi umum. Di kampus, gambaran serupa muncul dalam penelitian kecil. Studi kualitatif di UIN Sultan Syarif Kasim Riau terhadap 30 mahasiswa menemukan 86,66 persen responden mengalami kecemasan sedang hingga tinggi saat public speaking. Sampelnya terbatas sehingga belum bisa digeneralisasi, tetapi temuan itu sejalan dengan pengalaman banyak orang di ruang kuliah.
Lalu, apa yang sebenarnya ditakutkan? Jawabannya jarang berupa berbicara itu sendiri. Mahasiswa takut dinilai. Penelitian di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menemukan bahwa ketakutan akan penilaian dan kekhawatiran soal kompetensi menjadi perhatian utama mahasiswa. Takut salah istilah, takut ditanya hal yang tidak bisa dijawab, takut dianggap kurang pintar. Presentasi pun berubah dari kesempatan menyampaikan gagasan menjadi ajang pengadilan kecil.
Faktor kedua adalah minimnya jam terbang. Kurangnya pengalaman berbicara di depan umum membuat rasa percaya diri tidak terbentuk, sementara tekanan lingkungan akademik memperparah kecemasan saat tampil. Banyak mahasiswa melewati sekolah dengan pola belajar yang lebih banyak mendengar dan mencatat. Ketika tiba di perguruan tinggi, tuntutan berubah drastis: presentasi kelompok, diskusi panel, sidang proposal, hingga ujian skripsi. Keterampilan berbicara diperlakukan seolah bakat bawaan, padahal ia adalah kebiasaan yang dibentuk lewat pengulangan.
Faktor ketiga adalah budaya kelas itu sendiri. Di banyak ruang kuliah, kesalahan masih dipandang sebagai aib. Mahasiswa yang keliru menjawab kadang mendapat tawa kecil atau komentar tajam. Trauma psikologis di masa lalu, misalnya dihakimi atau dipermalukan saat berbicara di depan umum, dapat memicu ketakutan dan kecemasan berlebihan di kemudian hari. Satu kali dipermalukan bisa membuat seseorang menghindari panggung bertahun-tahun.
Format presentasi pun sering memperkuat kecemasan. Banyak presentasi hanya berupa pembacaan slide padat teks. Mahasiswa menghafal, bukan memahami, sehingga satu kata yang terlupa bisa meruntuhkan seluruh rangkaian. Pada presentasi kelompok, mahasiswa yang gugup kerap memilih bagian aman, seperti mengurus slide, dan menyerahkan panggung kepada rekan yang lebih berani. Nilai kelompok tetap aman, tetapi yang takut tetap takut dan makin jarang berlatih.
Perbedaan karakter individu juga berperan. Sebuah kajian pustaka tentang mahasiswa di Aceh melaporkan bahwa sejumlah penelitian menemukan kecemasan berbicara di depan umum lebih tinggi pada mahasiswa perempuan dibanding laki-laki. Temuan ini perlu dibaca hati-hati, sebab bisa dipengaruhi ekspektasi sosial dan cara seseorang dibesarkan, bukan semata faktor bawaan. Intinya, tidak ada satu resep yang cocok untuk semua mahasiswa.
Dampaknya melampaui nilai mata kuliah. Mahasiswa yang menghindari panggung kehilangan kesempatan bertanya dalam seminar, menyampaikan ide dalam organisasi, atau tampil meyakinkan dalam wawancara kerja. Dunia profesional menuntut kemampuan menjelaskan gagasan dengan jelas kepada atasan, rekan, dan klien. Ijazah mungkin membuka pintu, tetapi cara kita berbicara sering menentukan apakah kita dipercaya melangkah lebih jauh. Ada pula ongkos yang lebih senyap: gagasan bagus yang tidak pernah terdengar hanya karena pemiliknya terlalu takut mengucapkannya.
Kabar baiknya, kecemasan ini bisa dikelola. Teknik manajemen stres, latihan terstruktur, dan lingkungan belajar yang mendukung disebut dapat membantu mahasiswa mengatasinya. Bagi dosen, ini berarti memberi latihan dalam porsi kecil sejak awal semester, misalnya dua menit memaparkan pendapat sebelum menuntut presentasi panjang. Beri umpan balik yang membangun, hargai keberanian mencoba, dan pastikan semua anggota kelompok mendapat porsi bicara. Bagi kampus, keterampilan komunikasi layak menjadi bagian inti kurikulum, lengkap dengan pelatihan public speaking, klub debat, dan layanan konseling yang mudah dijangkau.
Bagi mahasiswa sendiri, langkah pertama adalah berdamai dengan rasa gugup. Gugup tidak berarti tidak mampu, sering kali ia menandakan bahwa kita peduli pada hasil. Persiapkan materi dengan memahami intinya, bukan menghafal kata per kata. Berlatihlah di depan cermin atau teman, atur napas sebelum mulai, dan ingat bahwa audiens umumnya lebih sibuk memikirkan giliran mereka sendiri daripada mencari kesalahan kita. Ambil kesempatan kecil seperti bertanya di kelas atau menjadi moderator diskusi.
Ketakutan berbicara di depan kelas bukan cerminan kurangnya kecerdasan, melainkan kombinasi rasa takut dinilai, minimnya latihan, dan budaya belajar yang belum ramah terhadap kesalahan. Selama ruang kelas hanya menghargai jawaban benar dan bukan proses belajar, mahasiswa akan terus memilih diam. Sudah saatnya kita menjadikan kelas sebagai tempat paling aman untuk mencoba, salah, dan mencoba lagi, karena dari sanalah suara yang percaya diri lahir.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.