RM.id Rakyat Merdeka - Labuan Bajo, salah satu etalase wisata menawan dunia yang berada di Indonesia bagian tengah. Pesona alamnya sangat menakjubkan. Bukit-bukit yang menjulang di tengah lautan membuat siapapun yang datang tak ingin pulang.
Kekayaan alam di sudut Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara (wisman). Banyak wisman menyukai dan menikmati keindahan wisata bahari di Labuan Bajo.
Soal fasilitas, Labuan Bajo tidak kaleng-kaleng. Ratusan penginapan, mulai dari hotel bintang 2 hingga bintang 5 tersedia di sini. Namun, siapa sangka di balik megahnya fasilitas tersebut ada peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Lihat saja kawasan tempat pelelangan ikan, yang semula terkesan kumuh, sukses disulap menjadi kawasan elite nan indah. Perubahan ciamik ini hasil kolaborasi salah satu BUMN, yakni PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama PT Pembangunan Perumahan, yang melakukan joint venture.
Mereka pun membangun Hotel Meruorah Komodo Labuan Bajo yang dikelola oleh PT Indonesia Ferry Property (IFPRO), anak usaha PT ASDP Indonesia Ferry.
Hotel ini berada di Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo yang meliputi area komersial, hotel bintang 5, marina, serta pengembangan dermaga penyeberangan.
Direktur Utama IFRO Ferry Snyders mengatakan, kontribusi Meruorah terhadap ekonomi sekitar cukup signifikan. Dari total pekerja yang ada, 80 persennya merupakan penduduk sekitar.
“Yang paling utama itu kan penyerapan tenaga kerja,” ujar Ferry membuka perbincangan dengan Rakyat Merdeka di Labuan Bajo, Kamis (22/5/2025).
Baca juga : Menteri Trenggono Janji Stop Impor Garam 2027
Ferry lalu menyebut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN atau The Association of Southeast Asian Nation (ASEAN) Summit, yang digelar 9-11 Mei 2023.
Selain sukses menyerap banyak tenaga kerja, event tersebut juga memberikan berkah kepada hotel dan Labuan Bajo.
“Hotel meraih revenue dan menggerakkan ekonomi pulau. Hotel ini bisa juga disebut sebagai etalase bangsa,” cetus Ferry.
Hitungannya, dalam setahun Meruorah dapat menghasilkan pendapatan setara Rp 150 miliar. Namun, Ferry menyebut hotelnya tidak semata-mata mengejar keuntungan.
Sebab, ASDP juga turut membangun Sumber Daya Manusia (SDM), serta berkontribusi terhadap pengembangan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Ferry mencontohkan kegiatan di sekitar hotel. Dengan nada berseloroh, dia menyebut wisata kuliner di Kampung Ujung terkenal sebagai penghasil pendapatan bagi rumah sakit setempat. Mengingat, banyak tamu yang sakit perut usai makan di sana. Itu kala kawasan kuliner tersebut belum diberdayakan.
Selain menu yang disajikan kurang higienis, para pedagang di sana juga belum memiliki standarisasi harga.
“Di kios 1 harga lobster itu Rp 800 ribu, tapi dua tiga kios di sebelahnya bisa menjual Rp 1,2 juta. Kami mau standarkan itu,” tutur Ferry.
Baca juga : Pacar Lebih Tua, Bak Dapat Durian Runtuh
Lalu, ASDP melalui koki Hotel Merourah juga rutin memberikan pelatihan memasak kepada para pedagang. “Kalau membangun infrastrukturnya saja tanpa human capital-nya, sebentar juga sudah rusak,” imbuh Ferry.
Menurut catatannya, keberadaan Meruorah dan hotel lain bisa meningkatkan pendapatan daerah hingga 30 persen. Lebih rincinya, pajak perhotelan bisa menyumbang 11 persen ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun jika ditambah pajak restoran, sumbangan ke PAD mencapai 20 persen.
Sebagai Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo, Ferry juga terus meningkatkan sinergi dengan pengusaha phinisi. Berdasarkan data Syahbandar Labuan Bajo, terdapat 748 pinisi, dan 45 persen di antaranya memiliki kamar.
Jika 1 phinisi memiliki rata-rata 5 kamar, berarti ada sekitar 1.400 kamar yang ada di lautan. Sedangkan Meruorah hanya memiliki 145 kamar.
“Kalau kami tidak melakukan kolaborasi yang baik dengan teman-teman phinisi, selesai bisnis kami,” aku Ferry.
Wisata Bahari
Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo menambahkan, bisnis perusahaannya tidak hanya soal penyeberangan.
ASDP terus berupaya melakukan penguatan wisata maritim berbasis pelabuhan, melalui pengembangan destinasi wisata bahari berkonsep waterfront destination.
Baca juga : LSM yang Dibiayai Asing Mengadu Domba Politik
Kini, imbuh Heru, pelabuhan bukan hanya gerbang logistik, melainkan gerbang pengalaman pertama bagi wisatawan. Melalui pendekatan waterfront yang holistik, pihaknya ingin mendorong pelabuhan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Sekaligus pemberdayaan UMKM, dan pengungkit daya saing pariwisata,” tutur Heru.
Heru mengatakan, ASDP akan terus memperkuat konektivitas maritim dari Sabang hingga Merauke, menjangkau wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta mendorong pengembangan waterfront destination kelas dunia.
Heru pun mengatakan, ASDP hadir sebagai bagian dari solusi besar dalam memperkuat konektivitas nasional, mendukung kelancaran logistik, membuka isolasi wilayah 3T.
“Serta mengakselerasi tumbuhnya destinasi wisata berdaya saing global,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.