BREAKING NEWS
 

Kilang Balongan Tanam Energi Harapan di Sawah Gagal Panen

Reporter & Editor :
FAZRY
Jumat, 17 Oktober 2025 22:11 WIB
Program ESG PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan ubah sawah gagal panen di Indramayu jadi kebun mangga Agremania beromzet ratusan juta dan mandiri secara ekonomi. (Foto: Fazry/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dari sawah yang dulu gagal panen di pesisir Indramayu, kini tumbuh ratusan pohon mangga yang menghidupi warga.

Program tanggung jawab sosial PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) VI Balongan menghadirkan energi baru — bukan dari kilang, tapi dari tanah yang kembali subur dan manusia yang kembali berdaya.

Lewat budidaya mangga Agremania, warga menemukan makna keberlanjutan: menanam harapan, memanen kemandirian.

Sore itu, Jumat 17 Oktober 2025, angin pesisir bertiup lembut menyusuri perumahan Bumi Patra di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Di antara deretan rumah dan tanggul bekas sawah, barisan pohon mangga tumbuh rapi, daunnya hijau tua, buahnya bergelantungan nyaris menyentuh tanah.

Siapa sangka, lahan yang dulu mandul kini menjelma menjadi sumber rezeki bagi warga.

“Dulunya sawah ini nggak menghasilkan. Hasil padinya kecil, kadang rugi,” kenang Salamun, Ketua Kelompok Tani Wong Tanggul Ceblok (WTC) Agremania, sambil menunjuk petak kebun seluas 4,5 hektare yang kini penuh pohon mangga.

Kisah perubahan itu bermula pada 2018. Saat itu, lahan kosong di sekitar perumahan Bumi Patra terbengkalai. Program tanggung jawab sosial Kilang Balongan hadir membawa ide baru: mengganti tanaman padi yang gagal panen dengan Mangga Agremania, varietas unggul khas Indramayu.

Baca juga : Pertamina Dan Kemenko Pangan Bersinergi Wujudkan Ketahanan Pangan

Bibit pertama datang dari Haji Urib di Nunuk, pembibit lokal yang dikenal sebagai pencetus varietas Agremania. “Pertamina bantu bibit, pupuk, dan obat-obatan. Kami warga yang merawat,” tutur Salamun.

Dari 15 Menjadi 12 Pejuang Mangga

Warga di sekitar kompleks membentuk Kelompok Tani WTC Agremania, terdiri dari warga penyangga di tepi pagar perumahan. Dari 15 orang awal, kini tersisa 12 yang tetap bertahan mengurus ratusan pohon mangga.

“Awalnya cuma coba-coba. Sekarang malah jadi andalan ekonomi,” ujar Salamun tersenyum.

Dari lahan 4,5 hektare itu, mereka menanam sekitar 630 pohon, didominasi varietas Agremania, namun juga ada Irwin, Agak Hijoy, Kasington, Jabekan, Mahathir, dan varietas baru Miyazaki yang mulai berbuah tahun depan.

Salamun

Program pemberdayaan masyarakat ini menjadi bagian dari inisiatif ESG (Environmental, Social, and Governance) Kilang Balongan, yang menekankan keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di wilayah operasi.

Buah Manis dari Tanah Gersang

Panen pertama menjadi bukti kesabaran mereka. Dalam kondisi cuaca mendukung, produksi mencapai delapan ton per musim. Pada 2023, omset kelompok mencapai Rp 200 juta.

Adsense

“Kalau cuacanya bagus, bisa dua kali panen setahun. Tapi rata-rata satu kali. Puncaknya Oktober sampai November,” ujar Salamun.

Tahun ini hasil menurun karena cuaca tak menentu, bunga banyak rontok saat hujan. Namun semangat mereka tak padam. Hasil panen dijual ke berbagai kota — dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Bali dan Padang.

Baca juga : Kemen Imipas Sulap Lahan Tidur Jadi Sentra Pertanian

“Kalau di Indramayu kurang respon, tapi di luar kota banyak yang cari,” katanya. Harga di tingkat kebun sekitar Rp 50.000 per kilogram, sementara di luar daerah bisa mencapai Rp 65.000.

Ciri khas Mangga Agremania: ukuran besar, warna mencolok, daging tidak berserat, dan biji kecil. “Kalau orang sudah coba sekali, pasti cari lagi,” ujar Salamun bangga.

Dukungan dan Keberlanjutan

Kilang Balongan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi motor awal keberhasilan ini.

Sejak tahap awal, perusahaan energi tersebut menyediakan bibit, pupuk, dan pestisida alami hingga tahun 2023.

“Dulu semua kebutuhan produksi dibantu. CSR Kilang Balongan juga bantu promosi,” kata Salamun.

Kini, kelompok tani itu sudah mandiri. Mereka bahkan mengembangkan pembibitan mangga Agremania yang dijual ke petani di daerah lain.

Beberapa petani di Kuningan berhasil menanam dan berbuah, meski rasa buahnya sedikit berbeda karena faktor cuaca.

“Kalau di daerah dingin, rasanya kurang manis,” ujarnya.

Baca juga : Kalah Tipis Lawan Irak, Indonesia Gagal Ke Piala Dunia

Untuk perawatan, biaya per tahun sekitar Rp 30 juta, meliputi pupuk, bahan bakar, dan insektisida organik. “Kami usahakan semua alami. Jadi mangganya sehat, tanpa bahan kimia,” katanya.

Buah Harapan dari Warga Pesisir

Bagi warga pesisir Indramayu, proyek ini bukan sekadar bantuan, melainkan bentuk nyata kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat dalam mewujudkan ekonomi hijau.

Di balik aroma manis buah mangga, tersimpan kisah perubahan sosial dan semangat kemandirian. “Sekarang kami bisa hidup dari sini. Dulu tanggulnya jeblok, sawahnya gagal. Tapi dari situ lahir semangat baru,” ujar Salamun sambil tersenyum.

Bagi Pertamina Kilang Balongan, keberhasilan warga menanam Agremania menjadi bukti bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari skala lokal.

Program ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menghadirkan energi yang tidak hanya menggerakkan industri, tapi juga memberdayakan manusia dan menjaga alam. Dari tanah pesisir Indramayu, warga belajar bahwa kemandirian bisa tumbuh dari akar – dari pohon-pohon mangga yang mereka tanam sendiri.

Dan di balik setiap buah yang matang di dahan, tersimpan cerita tentang energi, ketekunan, dan harapan yang bersemi bersama Pertamina Kilang Balongan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense