RM.id Rakyat Merdeka - TOP GRC Awards 2026 kembali digelar dengan mendorong perusahaan di Indonesia memperkuat kematangan Governance, Risk, and Compliance (GRC).
Memasuki penyelenggaraan ke-8 sejak pertama kali digelar pada 2019, ajang ini menyempurnakan kriteria penilaian untuk mendorong pembelajaran, benchmarking, dan kesiapan perusahaan menuju assessment GRC Maturity Index yang lebih komprehensif.
TOP GRC Awards 2026 mengusung tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”.
Tema tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tidak cukup ditempatkan sebagai target akhir atau program tambahan, tetapi perlu dirancang sejak awal dan ditanamkan dalam strategi.
Kemudian, tata kelola, pengambilan keputusan, manajemen risiko, kepatuhan, pengendalian, proses bisnis, budaya organisasi, serta pemanfaatan data dan teknologi.
TOP GRC Awards diselenggarakan Majalah TOP Business bekerja sama dengan Asosiasi GRC Indonesia, IRMAPA (Indonesia Risk Management Professional Association), ICoPI (Institute Compliance Professional Indonesia), Perkumpulan Profesional Governansi Indonesia (PaGI), dan LKN Astacita.
Kegiatan ini juga didukung para praktisi, konsultan GRC, serta akademisi dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran Bandung.
Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2026 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah TOP Business, M. Lutfi Handayani, mengatakan karakter penting ajang ini terletak pada perpaduan antara penilaian, penghargaan, dan pembelajaran GRC.
Menurutnya, peserta tidak hanya memperoleh pengakuan atas capaian implementasi GRC, tetapi juga mendapat ruang untuk merefleksikan praktik yang telah berjalan, memperoleh masukan dari Dewan Juri, melakukan benchmarking, serta mengidentifikasi area yang masih perlu diperkuat.
“Penghargaan merupakan bentuk apresiasi atas capaian. Namun, proses penilaian dan penjurian harus memberikan nilai tambah berupa insight dan agenda improvement. Kami berharap peserta tidak hanya bertanya ‘berapa bintang yang kami peroleh’, tetapi juga ‘di mana posisi kematangan GRC kami, apa gap-nya, dan apa yang perlu ditingkatkan berikutnya’,” ujar Lutfi.
Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026, Dr. Antonius Alijoyo, menekankan bahwa Intelligent GRC bukan sekadar digitalisasi dokumen atau proses GRC.
Intelligent GRC diarahkan pada pemanfaatan data, teknologi, analitik, dan artificial intelligence secara tepat untuk memperkuat kualitas informasi, mempercepat deteksi risiko, meningkatkan efektivitas kontrol, serta membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih cepat, akurat, beretika, dan bertanggung jawab.
“Perjalanan menuju Intelligent GRC adalah perjalanan menjadikan GRC semakin terintegrasi dengan bisnis—dari sekadar memenuhi kewajiban, menuju GRC yang memberi insight, mendukung keputusan strategis, memperkuat resiliensi, dan menciptakan sustainable value,” kata Antonius.
Rangkaian TOP GRC Awards 2026 juga menghadirkan empat keynote speaker dari Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), Kementerian Keuangan RI, dan BPI Danantara.
Perspektif tersebut memperkaya tema besar acara dari sisi governansi korporat, pengelolaan keuangan negara, investasi dan ketahanan portofolio, serta akuntabilitas dan assurance.
Baca juga : Brantas Abipraya Sabet 4 Penghargaan TOP GRC Awards 2026
Ketua Umum KNKG, Prof. Dr. Mardiasmo, mengangkat evolusi Pedoman Umum GCG Indonesia dari lima asas yang dikenal sebagai TARIF menuju empat pilar PUG-KI 2021, yakni Perilaku Beretika, Transparansi, Akuntabilitas, dan Keberlanjutan (ETAK).
Pesan yang disampaikan adalah penguatan governansi tidak berhenti pada kepatuhan dan kelengkapan struktur, tetapi harus tercermin dalam perilaku etis, kualitas keputusan, perlindungan pemangku kepentingan, ketahanan, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Menurut Mardiasmo, sustainability perlu dirancang sejak purpose, strategi, risk appetite, dan alokasi sumber daya. Sementara Intelligent GRC harus memperkuat akuntabilitas manusia, bukan menggantikannya.
Tema “Sustainability by Design” menuntut perusahaan menanamkan keberlanjutan dan aspek ESG (Environment, Social, Governance) secara fundamental ke dalam DNA bisnis inti sebagai katalis inovasi, bukan sekadar pelengkap pemenuhan regulasi.
Untuk mengeksekusi visi tersebut, organisasi membutuhkan Intelligent GRC yang proaktif, integratif, dan berwawasan ke depan guna menyeimbangkan kepatuhan dengan akselerasi bisnis.
“Transformasi ini mengharuskan perusahaan meruntuhkan batasan ‘silo’ antar-departemen dengan menyinergikan tiga standar global utama: ISO 37000 sebagai penentu arah governansi yang berbasis tujuan, ISO 31000 sebagai radar manajemen risiko yang strategis, dan ISO 37301 sebagai fondasi bagi budaya kepatuhan organisasi,” kata Mardiasmo.
Sejalan dengan upaya internalisasi GRC tersebut, KNKG tengah memutakhirkan Pedoman Umum Governansi Korporat Indonesia (PUG-KI) dengan menitikberatkan pada empat nilai dasar ETAK.
Pemutakhiran ini membawa perluasan strategis, seperti etika pemanfaatan AI pada aspek perilaku, outcome-based governance pada akuntabilitas, kewajiban pengungkapan isu keberlanjutan pada transparansi, serta integrasi aspek ESG hingga ke skema remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi.
“Perpaduan antara desain keberlanjutan dan kecerdasan eksekusi GRC ini akan membentuk ketahanan jangka panjang yang memastikan perusahaan tetap relevan dan dipercaya oleh pasar global,” ujar Mardiasmo.
Sementara itu, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan RI, Dr. Nur Rachmad, membawa perspektif penguatan GRC dalam menjaga kredibilitas pengelolaan keuangan, akuntabilitas, pengendalian intern, dan transformasi digital.
Arah pesannya menempatkan GRC sebagai bagian dari keputusan strategis. Strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance perlu dibaca dalam satu kesatuan.
Risk dashboard juga perlu berkembang dari sekadar reporting menuju early warning dan decision intelligence. Sementara pemanfaatan data dan artificial intelligence harus dibangun di atas digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.
Dari BPI Danantara, Managing Director, Risk & Sustainability, Effendi Hengki, mengatakan GRC kini tidak lagi cukup dipandang sebagai fungsi kepatuhan semata, tetapi harus menjadi strategic enabler dan instrumen penciptaan nilai bagi perusahaan.
“GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis,” kata Effendi.
Dengan pendekatan tersebut, GRC pada akhirnya harus mampu mendukung terciptanya nilai perusahaan yang berkelanjutan (sustainable value).
Baca juga : Jasaraharja Putera Raih TOP GRC Awards 2026 #5 Star
Effendi menambahkan, di tengah risiko digital yang bergerak dalam hitungan menit, perusahaan perlu meninggalkan pola GRC yang bersifat “snapshot” atau sekadar aktif ketika menjelang audit, menuju pendekatan continuous assurance.
Pengawasan dan pengujian kontrol perlu berjalan secara terus-menerus dengan dukungan data real-time, otomatisasi, serta sistem yang terintegrasi.
Transformasi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan teknologi, tetapi harus dibangun melalui tiga fondasi utama, yakni people & culture, process & control, serta technology.
“Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat,” ujar Effendi.
Lutfi mengatakan, benang merah dari para keynote speaker mempertegas arah TOP GRC Awards 2026. GRC harus bergerak dari compliance menuju capability dan value; dari reporting menuju early warning dan decision intelligence; serta dari sistem yang berdiri sendiri menuju kapabilitas yang terintegrasi dengan strategi, kinerja, investasi, sustainability, teknologi, assurance, dan continuous improvement.
Salah satu pembaruan penting pada TOP GRC Awards 2026 adalah penyempurnaan kriteria penilaian.
Kerangka penilaian dirancang agar tidak berhenti pada pemeriksaan keberadaan kebijakan, struktur, sistem, atau dokumen, tetapi semakin melihat bagaimana kapabilitas GRC dijalankan, diintegrasikan, menghasilkan nilai, dan diperbaiki secara berkelanjutan.
Kerangka penilaian 2026 dikelompokkan dalam empat variabel besar yang menggambarkan perjalanan kematangan GRC, yakni Value and Business Impact, Governance and Integration, GRC Execution Excellence, serta Continuous Maturity.
Keempat variabel tersebut dielaborasi ke dalam 12 dimensi penilaian, mencakup antara lain business performance, value proposition, governance model, GRC integration, risk management excellence, compliance and integrity, internal control and assurance, sustainability by design, data and technology, leadership and culture, hingga continuous improvement.
Melalui pendekatan tersebut, hasil penilaian diharapkan tidak hanya menghasilkan level penghargaan, tetapi juga menjadi cermin bagi perusahaan untuk memperkuat praktik yang sudah baik, mengidentifikasi gap, dan menyusun roadmap peningkatan GRC.
Dewan Juri menekankan, maturity bukan sekadar skor, melainkan perjalanan perbaikan yang terarah dan berkelanjutan.
Dalam konteks pengembangan GRC ke depan, MSI Institute, bagian dari MSI Group, menegaskan pentingnya GRC Maturity Index (GRC-MI) sebagai instrumen untuk membantu organisasi memahami tingkat kematangan kapabilitas GRC secara lebih sistematis.
Perspektif kematangan GRC diperlukan agar organisasi tidak hanya mengetahui apakah kebijakan dan sistem GRC telah tersedia, tetapi juga sejauh mana sistem tersebut efektif, terintegrasi dengan bisnis, didukung leadership dan culture, memanfaatkan data dan teknologi, serta menghasilkan dampak terhadap kinerja dan keberlanjutan.
GRC Maturity Index yang dikembangkan MSI Institute diarahkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip OCEG GRC Capability Model.
Dengan perspektif tersebut, assessment tidak diposisikan sebagai kegiatan pemberian skor semata, melainkan sebagai diagnostic tool untuk mengetahui posisi saat ini, menemukan gap, menetapkan prioritas improvement, dan menyusun roadmap peningkatan kapabilitas GRC.
Baca juga : BAZNAS Raih Dua Penghargaan TOP GRC Awards 2026
“Yang paling penting dari maturity assessment bukan hanya mengetahui levelnya. Nilai strategisnya adalah mengetahui apa yang sudah kuat, apa yang masih menjadi gap, mengapa gap itu terjadi, dan improvement apa yang harus diprioritaskan agar GRC semakin efektif mendukung tujuan bisnis,” kata Lutfi.
Karena itu, penyempurnaan kriteria TOP GRC Awards 2026 juga menjadi bagian dari proses pembelajaran menuju assessment GRC Maturity Index yang lebih komprehensif.
Dengan mengikuti kriteria baru, peserta mulai terbiasa mengenali area, dimensi, evidence, serta pola pikir yang dibutuhkan dalam menilai kematangan GRC.
Materi Presentasi Berbasis Evidence Untuk mendukung penyempurnaan tersebut, Panitia TOP GRC Awards 2026 memberikan Overview/Penjelasan Teknis Penyusunan Materi Presentasi kepada peserta.
Langkah ini bukan untuk menyeragamkan cerita keberhasilan masing-masing perusahaan, tetapi untuk memastikan materi yang dipresentasikan relevan dengan kriteria yang hendak didalami Dewan Juri.
Peserta didorong menyiapkan materi yang lebih terstruktur, fokus, dan evidence-based. Bukan hanya menjelaskan sistem atau kebijakan yang dimiliki, tetapi menunjukkan bagaimana implementasinya, bagaimana integrasinya, apa hasil dan dampaknya terhadap bisnis, serta bagaimana continuous improvement dijalankan.
Dengan demikian, wawancara penjurian dapat lebih banyak digunakan untuk pendalaman atas praktik, keberhasilan, tantangan, dan peluang perbaikan.
Dari proses penjurian, Dewan Juri mencatat sejumlah agenda penting penguatan GRC. Pertama, GRC perlu semakin terintegrasi dengan strategi dan proses bisnis.
Kedua, orientasi GRC perlu bergerak dari sekadar compliance-driven menjadi value-driven, tanpa mengurangi pentingnya kepatuhan sebagai fondasi.
GRC yang matang harus membantu organisasi melindungi dan menciptakan nilai, meningkatkan kualitas keputusan, serta menjaga keberlanjutan kinerja.
Ketiga, leadership dan culture tetap menjadi faktor penentu. Tone at the top harus diterjemahkan menjadi tone in the middle dan perilaku nyata di seluruh organisasi.
Keempat, data, teknologi digital, dan AI perlu dimanfaatkan secara cerdas dan bertanggung jawab untuk risk sensing, monitoring, assurance, analisis, dan decision support, dengan tetap memperhatikan governance, kontrol, kualitas data, keamanan, transparansi, dan etika.
Pada akhirnya, TOP GRC Awards 2026 diharapkan mendorong semakin banyak organisasi di Indonesia menuju Principled Performance, yakni mampu mencapai tujuan, menghadapi ketidakpastian secara cerdas, dan bertindak dengan integritas.
Penghargaan bukanlah titik akhir, melainkan salah satu milestone dalam maturity journey untuk membangun GRC yang semakin terintegrasi, adaptif, intelligent, dan berdampak nyata pada sustainability.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.