BREAKING NEWS
 

Catatan Ekonomi Bamsoet

Kadin Indonesia: Mengubah Tantangan Ekonomi Menjadi Jalan Naik Kelas Bangsa

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Jumat, 30 Oktober 2026 21:34 WIB
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bambang Soesatyo. (Foto: Dok. Bamsoet)

Oleh: Bambang Soesatyo
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Pertahanan & Keamanan Kadin Indonesia/Anggota Wantimpres/Ketua MPR ke-15/Ketua DPR ke-20/ Ketua Komisi III DPR ke-7/ Dosen Pascasarjana (S3) Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya, dan Universitas Pertahanan (Unhan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia sedang diuji oleh pelemahan nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap daya beli, serta perubahan arah perdagangan global. Namun, tantangan ini tidak boleh dibaca sebagai alasan untuk berhenti. Justru inilah saatnya dunia usaha, khususnya para anggota Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), mengambil peran yang lebih nyata: bukan semata sebagai pelaku pasar, melainkan sebagai mitra strategis negara dalam menjaga produksi, pekerjaan, dan kepercayaan ekonomi.

Fondasi ekonomi Indonesia sesungguhnya masih cukup kuat. Ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026, sementara pertumbuhan semester I-2026 mencapai 5,45 persen. Inflasi September 2026 berada pada level 3,28 persen, masih dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen. Realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun dan menyerap hampir 1,45 juta tenaga kerja langsung. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa mesin ekonomi nasional masih bergerak; tugas bersama kita adalah memastikan mesin itu bekerja lebih merata, produktif, dan tahan terhadap guncangan.

Baca juga : Jawab Tekanan Rupiah-IHSG dengan Kepercayaan, Produktivitas & Kepastian Kebijakan

Pertama, Kadin perlu memimpin gerakan menjaga daya beli melalui penguatan produksi dalam negeri dan efisiensi biaya. Dunia usaha dapat menahan laju kenaikan harga bukan dengan mengorbankan kualitas atau tenaga kerja, melainkan dengan memperbaiki rantai pasok, memperpendek jalur distribusi, memperkuat kemitraan antarpelaku usaha, serta meningkatkan penggunaan bahan baku lokal yang kompetitif. Kadin di pusat dan daerah dapat membangun business matching antara industri besar, UMKM, koperasi, petani, nelayan, dan produsen lokal agar tercipta kepastian pasar sekaligus harga yang lebih stabil.

Kedua, pengusaha perlu memperkuat ketahanan terhadap risiko nilai tukar. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya bahan baku, mesin, dan komponen impor. Karena itu, perusahaan harus lebih disiplin melakukan lindung nilai atau hedging, memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal dengan negara mitra, serta menata kembali struktur utang dan kebutuhan devisa. Kadin dapat menjadi penghubung antara perbankan, Bank Indonesia, dan dunia usaha untuk memperluas literasi serta akses instrumen perlindungan nilai, khususnya bagi eksportir dan industri yang masih sangat bergantung pada impor.

Ketiga, ekspor harus dijadikan gerakan bersama, bukan hanya urusan perusahaan besar. Nilai ekspor Indonesia Januari–Agustus 2026 mencapai 193,64 miliar dolar AS, tumbuh 4,74 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, impor tumbuh lebih cepat, yakni 19,84 persen. Ini adalah peringatan sekaligus peluang. Kadin dapat membantu pelaku usaha menembus pasar baru melalui konsolidasi produk, standardisasi mutu, sertifikasi internasional, penguatan merek, promosi digital, serta koneksi langsung dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri. Setiap kenaikan ekspor berarti tambahan devisa, perluasan produksi, dan pembukaan kesempatan kerja.

Baca juga : Jaga Rupiah Bersama, Bamsoet Dorong Langkah Terukur & Optimisme Ekonomi Nasional

Keempat, hilirisasi harus diperluas dari sektor mineral ke sektor yang menyentuh kehidupan rakyat. Investasi hilirisasi pada semester I-2026 mencapai Rp 300,1 triliun atau hampir 30 persen dari total investasi nasional. Momentum ini perlu diteruskan pada agroindustri, perikanan, perkebunan, pangan olahan, farmasi, tekstil, industri kreatif, dan energi terbarukan. Indonesia tidak boleh hanya menjual bahan mentah; kita harus menjual nilai tambah, teknologi, desain, merek, dan keahlian tenaga kerja Indonesia.

Kelima, Kadin perlu menjadikan penciptaan lapangan kerja berkualitas sebagai ukuran keberhasilan investasi. Investasi bukan hanya angka komitmen, tetapi harus menghasilkan pekerjaan, transfer teknologi, penggunaan pemasok lokal, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Pengusaha besar perlu membuka ruang lebih luas bagi UMKM untuk masuk dalam rantai pasok nasional. Kemitraan yang sehat akan membuat UMKM tidak berhenti sebagai pelengkap, melainkan tumbuh menjadi pemasok yang berstandar, bankable, dan siap menembus pasar ekspor.

Keenam, dunia usaha harus ikut menjaga ketahanan pangan dan energi. Tekanan inflasi pangan masih menjadi perhatian, terutama akibat gangguan cuaca dan produksi di sejumlah sentra. Pengusaha dapat berinvestasi dalam pergudangan, cold chain, pengolahan hasil panen, irigasi modern, pupuk, benih, serta digitalisasi distribusi. Di sektor energi, investasi pada efisiensi energi, energi baru-terbarukan, bioenergi, dan teknologi rendah karbon bukan hanya tanggung jawab lingkungan, tetapi juga strategi menekan biaya produksi dan memperkuat daya saing jangka panjang.

Baca juga : Bamsoet: Peredaran Vape Bermuatan Narkotika Cair Sudah Sangat Mengkhawatirkan

Ketujuh, Kadin perlu memperkuat tradisi dialog kebijakan yang objektif dan solutif. Dunia usaha harus menyampaikan persoalan perizinan, logistik, pembiayaan, perpajakan, tenaga kerja, dan kepastian hukum secara jujur, berbasis data, serta disertai solusi yang dapat dilaksanakan. Pemerintah memerlukan kritik yang membangun; pengusaha pun memerlukan regulasi yang konsisten dan kepastian berusaha. Hubungan keduanya tidak boleh bersifat transaksional, melainkan kemitraan strategis untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.

Kita harus percaya bahwa ekonomi Indonesia tidak dibangun hanya oleh kebijakan pemerintah dan angka-angka APBN. Ekonomi Indonesia dibangun setiap hari oleh pabrik yang tetap berproduksi, UMKM yang berani memperluas pasar, petani yang terus menanam, nelayan yang melaut, pekerja yang meningkatkan keterampilan, serta pengusaha yang memilih bertahan dan berinvestasi di Tanah Air.

Kadin Indonesia memiliki posisi yang sangat penting untuk menyatukan seluruh kekuatan tersebut. Ketika pengusaha besar membimbing yang kecil, ketika investasi berpihak pada penciptaan nilai tambah dan pekerjaan, ketika ekspor diperluas, serta ketika dunia usaha menjadi bagian dari solusi atas persoalan rakyat, maka tekanan ekonomi tidak akan melemahkan bangsa ini. Sebaliknya, tekanan itu dapat menjadi momentum untuk membangun Indonesia yang lebih mandiri, lebih produktif, dan lebih berkeadilan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense