BREAKING NEWS
 

Signifikansi Multipolarisme Berkelanjutan

Jumat, 25 September 2026 18:32 WIB
Adri Arlan Sinaga
mahasiswa PhD School of Internasional Relations (SIR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan luar negeri Indonesia saat ini merespons pergeseran kutub kekuasaan global dengan manuver strategis yang bertumpu pada keterlibatan lintas kawasan. Diversifikasi keterlibatan ini terlihat dari partisipasi proaktif dalam berbagai instrumen multilateral seperti BRICS, G20, ASEAN, Uni Eropa (EU), OECD, MIKTA, hingga penjajakan kemitraan dengan Eurasian Economic Union (EAEU). Langkah multipolar ini diambil karena tatanan dunia tidak lagi berpusat pada satu hegemoni tunggal, melainkan terdistribusi ke berbagai blok ekonomi yang menawarkan peluang strategis tanpa memaksakan syarat aliansi politik atau militer yang kaku.

Signifikansi dari manuver multipolar ini terjustifikasi kuat oleh skala demografi dan potensi ekonomi riil yang ditawarkan oleh blok-blok tersebut. Berdasarkan rilis World Bank dan IMF (2026), blok BRICS pasca-ekspansi mewakili 3,9 miliar jiwa atau setara 49,5 persen dari total populasi dunia, dengan proyeksi rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 3,9 persen per tahun. Pemanfaatan perluasan pasar raksasa ini beresonansi langsung dengan tren positif fundamental perekonomian domestic. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja ekspor Indonesia sukses mempertahankan surplus neraca perdagangan di kisaran 41,05 miliar dolar AS (BPS, 2026).

Keterlibatan di berbagai instrumen tersebut memiliki portofolio dan fungsi spesifik yang dirangkai layaknya jaring pengaman kepentingan nasional. ASEAN secara konsisten difokuskan untuk menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara dan integrasi ekonomi regional, sementara BRICS dan G20 dimanfaatkan sebagai panggung untuk mendesain ulang arsitektur tata keuangan global dan menyuarakan kepentingan Global South. Di sisi lain, interaksi dengan OECD dan EU ditujukan untuk menyerap standar tata kelola dan regulasi tingkat tinggi guna mendorong reformasi serta inovasi industri domestik. Melengkapi elemen tersebut, inisiatif MIKTA memperluas daya jangkau diplomasi ke ranah kekuatan menengah (middle power) lintas benua, sedangkan EAEU membuka koridor alternatif bagi penetrasi pasar non-tradisional yang menjanjikan di kawasan Eurasia.

Pendekatan Konstruktivisme untuk Perdagangan yang Lebih Adil 

Dari perspektif konstruktivisme, arah kebijakan luar negeri sebuah negara tidak semata-mata dikendalikan oleh tekanan struktural atau kalkulasi materi global, melainkan dibangun secara sosial melalui interaksi intensif, diskursus historis, dan identitas nasional (Arifin, 2023). Identitas institusional diplomatik Indonesia bersandar secara mutlak pada prinsip Bebas Aktif yang telah menjadi norma internal bangsa sejak awal kemerdekaan. Doktrin ini bukanlah bentuk non-blok yang pasif, melainkan sebuah strategi yang terus direkonstruksi agar Indonesia dapat beradaptasi secara dinamis, memastikan bahwa setiap interaksi dagang dilandasi oleh semangat kemerdekaan dan kesetaraan (Wicaksana & Yakti, 2025).

Sebagai analogi, Indonesia memosisikan doktrin Bebas Aktif bukan sebagai dinding benteng tinggi yang mengisolasi negara dari gejolak luar, melainkan sebagai sebuah jembatan penghubung yang kokoh dan luwes untuk mengamankan keuntungan dua arah. Melalui konstruksi identitas inilah, Indonesia memiliki keberanian moral dan landasan politik untuk secara presisi menuntut kesepakatan yang adil (fair agreement) di setiap perundingan internasional. Penolakan tegas terhadap dikte ekonomi asimetris dari pihak asing membuktikan bahwa posisi tawar yang setara sangat krusial guna menjamin realisasi agenda pembangunan domestik seperti visi Asta Cita, tanpa harus mengorbankan kedaulatan negara (Juned & Sutiono, 2024).

Baca juga : Jelang Laga ASEAN Cup, SUGBK Diseterilkan dari Benda Berbahaya

Pendekatan konstruktivis ini pada akhirnya memfasilitasi Indonesia untuk berevolusi menjadi agen pembentuk norma (norm maker) di kawasan, bukan sekadar penerima aturan (norm taker). Dengan memandang relasi ekonomi internasional sebagai realitas sosial yang dapat dibentuk ulang, Indonesia aktif menantang praktik proteksionisme sepihak melalui aliansi ekonomi alternatif. Upaya pembentukan rezim perdagangan yang lebih adil ini menegaskan bahwa kemajuan ekonomi menuntut identitas nasional yang ajeg sebagai penyeimbang hegemoni pasar global.

Strategic Ambiguity dan Kemandirian Bebas Aktif 

Manuver lincah diplomasi Indonesia di antara pusaran berbagai blok adidaya berakar pada taktik rasional yang diidentifikasi oleh Rizal Sukma sebagai strategic ambiguity atau ambiguitas strategis. Sukma (2014) menyoroti bahwa dalam mengelola relasi bilateral dan multilateral, khususnya saat bernavigasi di tengah pusaran rivalitas antara kekuatan Barat dan Tiongkok, arah kebijakan Jakarta senantiasa dibungkus dalam ruang ambiguitas yang terkalibrasi. Ambiguitas ini bukanlah wujud dari inkompetensi atau kebingungan dalam mengambil sikap, melainkan sebuah instrumen taktis yang dirancang secara sadar untuk memberi fleksibilitas maksimal bagi negara.

Strategi ambiguitas ini berfungsi secara efektif sebagai tameng pelindung dari tekanan penyelarasan absolut (alignment) yang acap kali dipaksakan oleh negara-negara hegemoni. Dengan memelihara ketidakjelasan mengenai keberpihakan strategis dan keamanan militer (Rüland, 2016), Indonesia mampu meredam potensi friksi diplomatik secara langsung seraya membiarkan keran investasi dan kerja sama ekonomi terbuka lebar dari seluruh kubu. Pendekatan ini adalah manifestasi paling rasional dari kata 'bebas' dalam kerangka kerja Bebas Aktif, yang memastikan negara tidak terseret atau tereduksi menjadi sekadar bidak proksi dalam konflik geopolitik entitas lain (Sukma, 2025).

Perpaduan presisi antara ambiguitas strategis dan multipolarisme proaktif menjamin kemandirian murni bagi haluan kebijakan Indonesia. Sikap pragmatis dan non-ideologis ini menggarisbawahi bahwa seluruh inisiatif kerja sama internasional ditundukkan pada satu parameter absolut yaitu ketahanan dan kesejahteraan ekonomi domestik. Dengan menolak untuk meletakkan seluruh nasib diplomatiknya pada satu keranjang aliansi, Indonesia berhasil mengubah disrupsi dan fragmentasi global saat ini menjadi arena bermain yang lebih luas.

Adsense

Profil Penulis
Adri Arlan Sinaga adalah Mahasiswa Doktoral (S3) Hubungan Internasional di University of International Business and Economics (UIBE), Beijing. Fokus kajiannya mencakup kebijakan luar negeri, keamanan global, serta dinamika geopolitik ASEAN dan BRICS. Kontak email: de202458004@uibe.edu.cn.

Daftar Pustaka

Baca juga : 2 Laga FIFA ASEAN Cup di GBK, Polisi Siapkan Rekayasa Lalin

Arifin, S. (2023). Joko Widodo's 'Bebas-Aktif' Foreign Policy Approach: Continuity and Change. Muslim Politics Review, 2, 318–340. https://doi.org/10.56529/mpr.v2i2.205

Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Berita Resmi Statistik: Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia. Jakarta: BPS.

International Monetary Fund (IMF). (2026). World Economic Outlook (April 2026). Washington, DC: IMF.

Juned, M., & Sutiono, P. (2024). Discussion of Indonesia-EU comprehensive economic partnership agreement: European interest in Indo-Pacific and Bebas Aktif foreign policy. Cogent Social Sciences, 10. https://doi.org/10.1080/23311886.2024.2417805

Rüland, J. (2016). Democratizing Foreign-Policy Making in Indonesia and the Democratization of ASEAN: A Role Theory Analysis. TRaNS: Trans -Regional and -National Studies of Southeast Asia, 5, 49–73. https://doi.org/10.1017/trn.2016.26

Baca juga : 3.852 Personel Polri Kawal 2 Laga FIFA ASEAN Cup 2026 di SUGBK

Sukma, R. (2014). Dikutip dalam Indonesia and China’s energy security ambitions in the South China Sea. The ASPI Strategist.

Sukma, R. (2025). “Do Not Be a Proxy”: Indonesia, ASEAN and the Sino-US Rivalry. Southeast Asian Affairs 2024, Cambridge University Press.

Wicaksana, I. G. W., & Yakti, P. D. (2025). Indonesia’s New Partial Multialignment Strategy: A Conceptual and Empirical Analysis. TRaNS: Trans -Regional and -National Studies of Southeast Asia, 1–18. https://doi.org/10.1017/trn.2025.1

World Bank. (2026). World Development Indicators. Washington, DC: World Bank.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense