Pengamat Transportasi
RM.id Rakyat Merdeka - Keselamatan jalan raya ditentukan oleh kesadaran, keterampilan, dan etika pengemudi. Maraknya kecelakaan akibat kelalaian manusia menjadikan sekolah mengemudi sebelum ujian SIM sebagai kebutuhan mendesak. Kebijakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah nyata menggeser cara pandang dari sekadar "bisa nyetir" menjadi "berkendara aman". Membuka lapangan pekerjaan baru.
Berdasarkan data Korlantas Polri (2026), kecelakaan lalu laintas disebabkan faktor manusia (human error) 61 persen, faktor jalan dan lingkungan 30 persen dan faktor kendaraan 9 persen. Faktor manusia merupakan penyebab dominan, seperti melebihi batas kecepatan, tidak menjaga jarak aman, menggunakan telepon seluler saat berkendara, mengemudi dalam kondisi lelah, mengantuk, melawan arus, berkendara di bawah umur, tidak memaki helm SNI, kurangnya keterampilan berkendara.
Upaya menekan human error perlu dimulai dari kewajiban mengikuti sekolah mengemudi sebelum menempuh ujian SIM. Sekolah mengemudi berperan sebagai pondasi utama untuk membentuk budaya keselamatan, etika berlalu lintas, serta pemahaman regulasi secara komprehensif. Selain itu, pelatihan terstruktur ini menyiapkan pengemudi dari segi penguasaan teknik dasar, kesiapan mental, hingga kepatuhan terhadap standar legalitas.
Sekolah mengemudi memegang peranan krusial yang lebih dari sekadar sarana belajar mengoperasikan kendaraan atau kemudahan mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM). Lebih jauh dari itu, sekolah mengemudi menjadi pondasi utama dalam membangun budaya keselamatan berkendara. Setidaknya ada beberapa alasan utama mengapa keberadaannya begitu penting.
Pertama, pembentukan pemahaman hukum dan etika berlalu lintas. Berbeda dengan belajar mandiri yang cenderung hanya mengasah keterampilan teknis, sekolah mengemudi membekali calon pengemudi dengan pemahaman regulasi secara menyeluruh. Peserta diajarkan aturan rambu, markah, batas kecepatan, serta etika berkendara, seperti menghargai pejalan kaki, mengutamakan prioritas di persimpangan dan perlintasan sebidang, serta menjaga toleransi demi mencegah konflik lalu lintas.
Baca juga : Menimbang Akhir Era Ganjil-Genap Jakarta
Kedua, penguasaan teknik berkendara aman. Instruktur profesional membekali peserta keterampilan mengantisipasi bahaya, seperti scanning pandangan, pengawasan blind spot, dan pengereman darurat. Peserta juga dilatih mengontrol kendaraan dalam kondisi menantang, mulai dari jalan licin dan menanjak hingga manuver parkir di ruang sempit.
Ketiga, pengurangan risiko kecelakaan fatal. Karena human error dan kepanikan menjadi pemicu utama kecelakaan, sekolah mengemudi membekali peserta dengan refleks berkendara yang tepat. Hal ini terbukti signifikan dalam menekan potensi kecelakaan fatal di jalan raya.
Keempat, fasilitas dan lingkungan belajar yang aman. Kehadiran kendaraan khusus berpapan kontrol ganda memungkinkan instruktur mengintervensi potensi bahaya secara langsung. Pembelajaran bersama instruktur profesional secara bertahap juga efektif menghilangkan rasa panik dan cemas yang kerap timbul jika belajar mandiri bersama keluarga.
Kelima, kesiapan menghadapi ujian SIM. Sekolah resmi membantu calon pengemudi memahami standar kelulusan ujian teori maupun praktik yang ditetapkan oleh kepolisian, sehingga peserta lebih siap secara teknis dan mental.
Nama Sekolah Mengemudi di Berbagai Negara
Berbagai negara dengan tingkat kecelakaan lalu lintas rendah telah lama mewajibkan kelulusan sekolah mengemudi sebelum seseorang dapat mengikuti ujian SIM. Penamaan dan penataan istilah untuk lembaga pelatihan ini pun beragam di setiap negara, menyesuaikan dengan bahasa lokal, budaya, dan regulasi pemerintah setempat. Berikut adalah penamaan sekolah mengemudi di berbagai negara dan kawasan.
Negara-negara Asia dan Asia Tenggara
Baca juga : Menyingkap Fenomena Manipulasi Pelat Nomor: Motif, Hukum, dan Solusinya
Institut Memandu atau Sekolah Memandu di Malaysia
Driving Centre atau Driving School di Singapura
Rongrian Son Khap Rot atau Driving School di Thailand
Ssekolah Memandu atau Sekolah Latihan Memandu di Brunei Darussalam
Land Transportasiton Office/LTO di Filipina
Thongsangnang Driving School/TSN di Laos
Hoang Gia Driving School di Vietnam
Gold Steer Driving School Kamboja
Escola de Conducao di Timor Timur
Automobile School (Jidōsha Gakkō atau Jidōsha Kyōshūjo) di Jepang.
Aunjeon Myeonheo Hangwon (Akedemi Lisensi Mengemudi) di Korea Selatan.
Jiàxiào singkatan dari Jiàshǐ Yuán Xúnliàn Xuéxiào yang berarti Sekolah Pelatihan Pengemudi d China
Madrasat Ta'leem Al-Qiyaadah/Sekolah Pengajaran Mengemudi di Arab Saudi dan Timur Tengah
Negara-negara Berbahasa Inggris (Anglosphere)
British School of Motoring/BSM di Inggris
Driving School di AS
Driving School Australia
Driver's Education (sering disingkat Driver's Ed) di Kanada
Negara-Negara Eropa
Fahrschule di Jerman dan Austria
Auto-école atau École de conduit di Prancis
Autoescuela di Spanyol
Escuela de Manejo/Escuela de Conducción di Meksiko dan Argentina.
Autoscuola atau Scuola Guida di Italia
Rijschool di Belanda
Avtoshkola di Rusia
Kurikulum
Kurikulum sekolah mengemudi yang komprehensif dirancang tidak hanya untuk melatih kemampuan teknis mengendalikan kendaraan, tetapi juga membangun kesadaran keselamatan jalan (road safety) dan pemahaman regulasi lalu lintas.
Setidaknya ada 4 modul yang harus disiapkan, yaitu Modul Teori Dasar dan Regulasi, Modul Praktek Lapangan Tertutup, Modul Praktek Jalan Raya, Modul Perawatan dan Tanggap Darurat. Setelah itu dilakukan evaluasi berupa Ujian Teori (Tes pemahaman rambu, etika, dan hukum lalu lintas) dan Ujian Praktek (evaluasi kelulusan berbasis skor pada manuver parkir, tanjakan, dan pengemudian jalan raya). Setelah lulus ujian teori dan praktek diterbitkan sertifikat kompetensi mengemudi yang dapat digunakan sebagai syarat penerbitan SIM.
Penutup
Baca juga : Trans Banyumas: Mengubah Budaya Bertransportasi di Daerah
Penerbitan SIM tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai lisensi hukum untuk berkendara, melainkan bentuk legitimasi atas tanggung jawab terhadap keselamatan publik. Pengalaman dari berbagai negara membuktikan bahwa standardisasi sekolah mengemudi serta kurikulum pelatihan yang komprehensif merupakan investasi jangka panjang paling efektif untuk menekan tingkat fatalitas jalan raya.
Mengubah budaya lalu lintas memang memerlukan proses, dan langkah tersebut harus dimulai dari regulasi yang tegas. Salah satunya melalui kewajiban mengikuti sekolah mengemudi sebelum ujian SIM dalam revisi UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menjadi fondasi krusial dalam membentuk budaya berkendara yang aman, selamat, dan beretika.
Djoko Setijowarno
Akademisi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.