BREAKING NEWS
 

Taman Ismail Marzuki Didorong Jadi Ruang Kolaborasi Seniman Indonesia dan Dunia

Reporter : FATIMAH AZ ZAHRA
Editor : MARULA SARDI
Kamis, 3 September 2026 16:34 WIB
Konferensi pers Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta,” di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026.  (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Taman Ismail Marzuki (TIM) terus memperkuat perannya sebagai salah satu ruang seni dan budaya di Jakarta. Tidak hanya menjadi tempat pertunjukan dan kegiatan kebudayaan, TIM juga berkembang sebagai ruang pertemuan bagi seniman dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.

Dengan fasilitas seni dan ruang publik yang semakin lengkap dan terintegrasi, TIM memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, membangun relasi, hingga memperluas jejaring lintas komunitas.

Ekosistem seni tersebut semakin diperkuat dengan kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS), yang menjadi salah satu fasilitas pendukung aktivitas para seniman yang datang dan berkegiatan di kawasan TIM.

“PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM,” ujar Anya Aprilia, Head of SBU TIM, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro. 

Salah satu bentuk kolaborasi antara Jakpro dan para seniman terlihat melalui penyelenggaraan Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta.” Pameran tersebut berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026. 

Pameran ini dikuratori oleh Syakieb Sungkar dan menghadirkan karya dari 35 seniman yang berasal dari tiga kota, yakni Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Baca juga : Pemprov DKI Jakarta Buka Ruang Kolaborasi Ekonomi Global melalui CIEIE 2026

Pameran mengusung semangat untuk mengenang warisan Ali Sadikin sekaligus menggagas masa depan Jakarta sebagai kota seni dan budaya. Karya-karya yang ditampilkan menjadi salah satu cara untuk melihat kembali perjalanan dan dinamika Jakarta melalui perspektif seni rupa.

Kehadiran PRS dalam ekosistem TIM juga tidak hanya dipandang sebagai fasilitas akomodasi. Ruang tersebut dapat menjadi tempat perjumpaan yang mempertemukan seniman lokal dengan seniman dari berbagai daerah di Indonesia maupun seniman internasional.

“TIM saat ini bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan dan menghubungkan para seniman, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari dunia internasional,” ujar Seno Joko Suyono selaku Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran.

Fasilitas yang semakin memadai dan akomodatif membuat TIM memiliki ruang yang lebih luas bagi seniman untuk berkarya, berkolaborasi, berdiskusi, dan membangun jejaring.

Adsense

Berbagai fasilitas pendukung tersebut juga memperkuat posisi TIM sebagai rumah bersama bagi ekosistem seni dan budaya. Kehadiran ruang-ruang tersebut memungkinkan aktivitas seni berlangsung tidak hanya dalam bentuk pertunjukan, tetapi juga melalui proses pertemuan dan pertukaran gagasan.

“Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia. Inilah yang semakin mengokohkan Jakarta sebagai kota global yang modern dan terbuka, namun tetap memiliki akar budaya dan seni yang kuat,” tambahnya.

Baca juga : Ikut Kompetisi,100 Foto Terbaik Sekolah Rakyat Dipamerkan di TIM

Dengan ekosistem tersebut, Taman Ismail Marzuki diharapkan semakin kuat sebagai rumah seni yang ramah bagi seniman Indonesia dan dunia. Selain itu, TIM juga menjadi ruang publik yang mendorong tumbuhnya interaksi dan kolaborasi kebudayaan.

Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta” juga menjadi bagian penting dalam upaya mengenang perjalanan Jakarta melalui karya seni.

Kurator pameran, Hairus Salim, mengatakan pameran yang digelar dalam rangka memperingati 100 tahun Ali Sadikin tersebut menjadi momentum untuk mengenang sosok salah satu Gubernur DKI Jakarta yang dikenal terbuka terhadap masukan dari para seniman.

Menurut Hairus, kepemimpinan Ali Sadikin tidak hanya membawa Jakarta menuju perkembangan sebagai kota metropolitan, tetapi juga mendorong terbentuknya kehidupan budaya yang kuat.

“Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan,” kata Hairus.

Ia menambahkan, semangat tersebut kembali terasa melalui kolaborasi penyelenggaraan pameran seni rupa yang digagas bersama Jakpro. 

Baca juga : 32 Aktor dan 200 Kreator Hidupkan Dunia Futuristik di Musikal Senja Teduh Pelita

Sementara itu, kurator lainnya, Syakieb Sungkar, mengatakan Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin merupakan karya sejarah yang dibangun melalui arsip. Arsip tersebut menjadi pijakan bagi para seniman untuk melihat kembali berbagai peristiwa dan dinamika pembangunan Jakarta pada masa Ali Sadikin.

“Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri,” ujar Syakieb.

Karena itu, para seniman yang dilibatkan dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam mengolah tema sejarah dan pembangunan melalui pendekatan realis maupun karikaturis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense