BREAKING NEWS
 

Gambaran Guru Penggerak Di Perbatasan: Bermental Baja dan Pantang Menyerah

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 19 September 2024 19:42 WIB
Foto: Didi Rustandi/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Menjadi guru penggerak di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) seakan sudah menjadi garis tangan Azis Wahyudi, Rohani Sidangoli dan Fanny.

Banyak hambatan dan tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangkan dunia pendidikan di daerah.

Hanya mereka yang bermental baja, bernyali besar dan kemauan kuat yang mampu bertahan. Hal itulah yang tercermin dari 3 orang guru penggerak di Maluku Utara.

Azis Wahyudi merupakan Guru SMP Negeri 23 Halmahera Barat, Maluku Utara.

Dengan segudang pengalaman selama mengikuti program pertukaran guru di Amerika Serikat, berpredikat guru dedikatif tingkat nasional 2023 serta menjadi guru penggerak, Azis sebenarnya bisa menentukan pilihan di jalur kehidupan yang lebih mapan dan nyaman daripada menjadi guru di daerah tertinggal.

Tetapi alumni Universitas Negeri Malang itu punya alasan untuk menentukan pilihannya mengajar di daerah terluar dan tertinggal tersebut.

"Anak&anak di daerah 3T mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Mereka juga ingin bisa menulis membaca dan menjadi sarjana seperti yang lain," kata Asiz, saat berbincang dengan RM.id, di Ternate, Maluku Utara, belum lama ini.

Faktanya, guru asal Desa Pagu, Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur ini melihat kenyataan di lapangan bahwa tidak semua guru dari kota bersedia mengajar di daerah 3T.

Mereka ingin tetap berkumpul di daerah yang baik-baik saja bersama keluarga, tidak mau keluar dari zona nyaman.

Menjadi guru di daerah 3T, pengalaman Azis mencatat tidak cukup hanya berbekal sarjana. Harus memiliki jiwa pejuang dan dedikasi.

Baca juga : Presiden Minta Maaf, Para Menteri Terharu

Sebab di daerah 3T berbeda dengan kehidupan di kota yang fasilitasnya serba ada, bisa berselancar di internet dengan nyaman tanpa kendala sinyal.

Pertama Kali menghadapi anak didik di daerah Halmahera Barat, Azis merasa prihatin, lantaran mereka berpakaian seadanya, tanpa alas kaki sandal atau sepatu alias nyeker saat ke sekolah. Bahkan ada yang tidak mandi.

Kegiatan belajar mengajar di Halmahera Barat juga masih tertinggal dibanding dengan Ternate, Ibukota Provinsi Maluku Utara.

"Saya menjumpai anak kelas tujuh (kelas 1 SMP) yang membacanya masih plegak-pleguk, tidak lancar, belum bisa membedakan bacaan K dan Q," kenang Azis.

Sebelum Azis mengenal karakter dan psikologi anak didiknya, pernah mengingatatkan muridnya, kalau sekolah harus mandi dulu, berpakaian rapi, supaya di sekolah tidak ngantuk.

Keesokan harinya, banyak murid yang tidak masuk sekolah, bersembunyi di kebun. Mereka mau belajar kalau tidak merasa digurui dan mau bekerja kalau tidak merasa dipemetintah.

Persoalan ini disampaikan pada guru yang lain. Dan sesudah menarima masukan baru menyadari ia telah melakukan kesalahan.

Menyamakan anak-anak di daerah 3T dengan anak-anak di kota. Bersekolah dengan penampilan necis, berseragam, bersepatu dan memaki parfum.

Adsense

"Sejak itu saya punya PR baru, harus mengenali karekter anak didik dan orang tuanya supaya kehadiraanya bisa diterima, dan jangan sampai menimbulkan gejolak sosial," ujarnya.

Ia menyadari, melakukan perubahan harus dilakukan secara bertahap, tidak bisa seketika seperti membalik telapan tangan.

Baca juga : Takut Dipindah, Ada Guru Penggerak Di Malut Yang Menolak Diangkat Jadi Kepsek

Sebagai guru penggerak di daerah 3T Asiz juga mempunyai pengalaman yang cukup unik saat akan melakukan pemeotretan untuk ujian.

Ternyata ada menolak dan beralasannya wajahnya tidak cantik. Mengingat foto ini penting, Asiz pun sedikit memaksa, tapi siswa tidak tetap tidak mau, bahkan lari ke kebun.

"Saya kejar, tapi larinya lebih kencang," ujar pria lajang berusia 32 tahun tersebut sambil tertawa.

Dengan kapasitasnya sebagai koordinator guruk penggerak, Azis memotivasi guru guru yang lain untuk bergerak dan maju bersama.

Hasilnya, Azis melihat ada perubahan yang cukup menyenangkan. Semua siswa kalau akan sekolah mandi dulu, berpakain rapi meskipun berbahan sederhana, bahkan sudah yang memakai wangi wangian atau parfum.

"Mereka memahami pentingnya menuntut ilmu, tidak ada lagi yang protes, dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar," jelas Azis.

Kepala Sekolah PAUD Ake Gaale Malaha Rohani Sidangoli mengatakan, banyak kegiatan telah dilakukan sebagai sekolah penggerak, terutama program merdeka belajar dan enam dimensi merdeka belajarnya.

“Enam dimensi itu telah dilaksanakan yakni beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bergotong royong Berkebinekaan Global Bernalar Kritis dan Kreatif,” kata Rohani.

Sekolah yang dipimpinnya juga meski dari sebuah yayasan kecil, telah melakukan berbagai upaya terutama kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan sekolah.

“Kolaborasi yang kami lakukan ini dengan organisasi Pemuda, Pemerintah Kelurahan dunia usaha dan orang tua siswa,” ujarnya.

Baca juga : Survei Terbaru Indikator: Di Jawa Barat, Gerindra Paling Merakyat

Kepala Sekolah SMPLB Negeri Ternate mengatakan, banyak tantangan menjadi kepala sekolah SMPLB. Karena harus menghadapi siswa-siswa yang spesial.

Namun hal itu tidak menjadi hambatan. Bagi Fanny, mengajarkan kebaikan merupakan suatu kebaikan yang akan terus diingat.

Untuk memudahkan dalam proses belajar mengajar, Fanny melakukan inovasi dengan menciptakan Kebun Literasi.

Sarana itu ia gunakan untuk memudahkan bagi siswa berkebutuhan khusus dalam berkebun dan mengenal tumbuhan.

Kebun Literasi merupakan, lahan pertanian di sekitar SMPLB Negeri Ternate.

Dalam kebun tersebut terdapat beberapa macam tanaman. Di kebun itu juga dilengkapi dengan speaker di beberapa sudut, yang digunakan untuk memberi informasi bagi siswa tentang tumbuhan.

"Siswa lebih tertarik dengan menanam tumbuhan, daripada belajar di kelas. Mereka lebih aktif menerima informasi di Kebun Literasi. Kami ajarkan berkebun, mengenal tumbuhan, menggunakan pupuk," tandas Fanny.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense