RM.id Rakyat Merdeka - Perjuangan santri tak hanya soal spiritualitas, tapi juga soal kebangsaan. Ranah ini kerap diabaikan kelompok ideolog radikal transnasional yang sering mengklaim secara ahistoris bahwa santri adalah ujung tombak penegakan “hukum Tuhan” versi mereka.
Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU, KH. M. Hilmi Assiddiqi Al-Aroky, menegaskan santri adalah identitas yang lahir dan tumbuh dari rahim Nusantara—menghidupi Indonesia jauh sebelum ideologi transnasional yang memusuhi konsep negara-bangsa datang.
“Arah perjuangan santri inilah yang bersenyawa dengan tema Hari Santri Nasional 2025: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia. Tema ini menegaskan bahwa perjuangan santri tak boleh berhenti di ranah domestik, tapi harus berdampak global,” ujar Kiai Hilmi.
Baca juga : Santri Papua di AFKN Teguhkan Keislaman dan Nasionalisme
Menurutnya, semangat Mengawal Indonesia Merdeka merupakan bentuk tertinggi penegakan hukum Allah di bumi Nusantara, sebagaimana ditunjukkan melalui Resolusi Jihad yang menegaskan hubbul wathan minal iman—cinta Tanah Air adalah bagian dari iman. Dalam konteks kekinian, kata Kiai Hilmi, jihad santri adalah jihad kebangsaan: perjuangan sungguh-sungguh untuk kemaslahatan bangsa dengan semangat nasionalisme dan ajaran agama.
“Ini bukan perjuangan dengan mengangkat senjata, tapi berjuang menghadapi persoalan bangsa di era modern. Jihad kebangsaan berarti ikut membangun bangsa sesuai kemampuan yang dimiliki dengan berlandaskan Pancasila,” jelasnya.
Ia menegaskan, perbedaan mendasar antara jihad kebangsaan dan jihad radikal transnasional terletak pada orientasinya. “Jihad ala santri menjaga dan mengisi NKRI dengan kebaikan, sementara jihad radikal justru ingin mengganti bentuk negara menjadi kekhalifahan,” tegasnya.
Baca juga : Dukung Satu Tahun Pemerintahan, Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Melalui Transformasi
Selain jihad kebangsaan, Kiai Hilmi menekankan pentingnya jihad intelektual—penguasaan ilmu agama dan ilmu umum untuk menjawab tantangan zaman. “Santri tak boleh hanya fokus pada kitab kuning. Mereka harus menguasai sains, teknologi, dan ilmu sosial agar mampu berkontribusi positif bagi bangsa,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran santri di dunia digital. “Santri harus jadi agen perubahan sosial dan penyebar nilai damai di media sosial. Bangun narasi positif dan inklusif untuk meredam konflik akibat hoaks dan provokasi,” ujarnya.
Wakil Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok ini menegaskan nilai-nilai pesantren seperti tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) harus menjadi fondasi menjaga keutuhan NKRI. “Nilai-nilai itu harus hidup dalam keseharian sebagai wujud nyata pengamalan Pancasila,” katanya.
Baca juga : Refleksi HSN 2025: Santri Penjaga Iman dan Ke-Indonesiaan di Tengah Globalisasi
Kiai Hilmi menambahkan, di era digital ini santri harus menjadi penjaga nilai luhur sekaligus pembangun peradaban damai. “Tantangan terbesar datang dari derasnya arus informasi dan narasi radikal yang membanjiri media sosial,” ujarnya mengingatkan.
“Giatlah belajar dengan guru dan lembaga yang moderat serta berjiwa nasionalis. Santri harus jadi pilar penting menjaga persatuan dan kedamaian Indonesia,” pesannya.
Ia pun berharap, santri Indonesia mampu berprestasi di kancah global. “Santri harus memberi kontribusi nyata bagi ukhuwah basyariah—persaudaraan antar-manusia—sebagai wujud Islam rahmatan lil’alamin,” pungkas mantan pengurus PCNU Sudan itu.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.