RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pilihan tersebut mendapat apresiasi Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas) Prof. Yuddy Chrisnandi.
Suyudi dilantik bersama Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96/POLRI Tahun 2026 dan Nomor 97/POLRI Tahun 2026.
Yuddy yang juga pernah menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) periode 2014-2016, menilai keputusan Presiden Prabowo menunjukkan pertimbangan terhadap rekam jejak dan kebutuhan institusi.
Dia bilang, keputusan Presiden Prabowo mengangkat Jenderal Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri adalah hak prerogatif konstitusional yang dijalankan dengan sangat matang.
“Sebagai akademisi yang mendalami hubungan sipil-militer, saya melihat Presiden tidak sekadar menjalankan hak formalnya, tetapi memilih dengan pertimbangan rekam jejak yang jelas dan terukur," ujar Yuddy, Jumat (2/10/2026).
Baca juga : Jelang Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Lakukan Reshuffle Ke-7 Kali
Sebelum dilantik sebagai Kapolri, Suyudi merupakan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Presiden mengusulkan namanya melalui Surat Presiden Nomor R57/Pres/09/2026 tertanggal 30 September 2026.
Usulan tersebut kemudian diproses DPR. Komisi III DPR menyetujui Suyudi secara aklamasi setelah menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Keputusan itu selanjutnya dibawa ke rapat paripurna sebelum pengangkatan dilakukan.
Yuddy menilai pengalaman Suyudi di BNN menjadi salah satu catatan penting dalam melihat pilihan Presiden.
Dia menyoroti sejumlah keberhasilan yang disebutnya terjadi selama Suyudi memimpin BNN, antara lain pengungkapan penyelundupan narkotika dalam jumlah besar, penangkapan buronan Interpol Dewi Astutik, serta penyitaan aset yang berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.
"Hanya dalam waktu sekitar tiga bulan sejak dilantik sebagai Kepala BNN, Jenderal Suyudi berhasil memimpin pengungkapan penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun di Kamboja," kata Yuddy.
Dia juga menyebut pendekatan follow the money yang digunakan dalam pemberantasan kejahatan narkotika sebagai bagian dari rekam jejak Suyudi.
Baca juga : Jadi Kapolri Baru, Suyudi Usung Polri Bersama Masyarakat
Bawa Visi Polisi Bersama Masyarakat
Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Suyudi memaparkan visi "Polisi Bersama Masyarakat" sebagai arah kepemimpinannya hingga 2029.
Dalam paparannya, dia mengangkat sejumlah persoalan yang perlu dibenahi di tubuh Polri. Di antaranya kecepatan merespons laporan, kesetaraan di hadapan hukum, pungutan liar, penyalahgunaan kewenangan, serta fenomena "no viral no justice".
"Bagi korban, laporan polisi adalah harapan bahwa negara hadir. Logika yang harus diubah, bukan 'lapor, menunggu, viral baru diperhatikan', tetapi 'lapor, diverifikasi, ditangani, diberi kabar perkembangan, diselesaikan sesuai dengan hukum'," ujar Suyudi dalam uji kelayakan.
Dia juga menegaskan pendekatan humanis tidak berarti membiarkan kejahatan, sementara ketegasan harus tetap berada dalam koridor hukum.
"Humanis tidak berarti permisif terhadap kejahatan. Tegas tidak berarti sewenang-wenang," tegasnya.
Baca juga : Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih
Yuddy menilai keterbukaan Suyudi membahas persoalan tersebut menjadi bagian penting dari agenda pembenahan Polri.
"Yang sangat saya hargai dari paparan Jenderal Suyudi adalah keberaniannya menyentuh fenomena no viral no justice dan sembilan isu pembenahan Polri lainnya," ujarnya.
Pergantian Kapolri juga diikuti penempatan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan. Yuddy mengapresiasi keputusan tersebut.
Menurut dia, penempatan Listyo di posisi strategis menunjukkan keberlanjutan pengabdian di lingkungan pemerintahan setelah memimpin Polri.
"Keputusan Presiden menempatkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Staf Kepresidenan menunjukkan kelas kepemimpinan Presiden Prabowo," kata Yuddy.
Kini, tongkat komando Korps Bhayangkara berada di tangan Suyudi dengan Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri. Keduanya resmi menjalankan tugas setelah dilantik Presiden Prabowo di Istana Negara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.