RM.id Rakyat Merdeka - Sebanyak 64.913 balita terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Karhutla juga telah merenggut empat nyawa petugas dan relawan pemadam api.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) hingga Rabu (14/10/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah kumulatif kasus ISPA di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak mencapai 288.540 kasus. Sebanyak 64.913 kasus di antaranya dialami balita berusia 0-5 tahun, dengan tambahan 3.295 kasus baru yang dilaporkan pada hari tersebut.
Sumatera Selatan mencatat kasus ISPA tertinggi dengan 76.460 kasus, disusul Kalimantan Selatan sebanyak 75.804 kasus. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena paparan kabut asap dapat mengancam kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang masih rentan terhadap polusi udara.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan, pihaknya terus menyosialisasikan upaya penanganan ISPA kepada dinas kesehatan di daerah terdampak.
Baca juga : Mantan Pejabat Bea Cukai Dituntut 11,5 Tahun Penjara
Masyarakat yang berada di wilayah dengan paparan asap parah juga disarankan segera menghubungi puskesmas atau tenaga kesehatan setempat jika mengalami gangguan pernapasan.
“Langkah cepat dan tepat sangat dibutuhkan mencegah fatalitas pada balita yang sistem kekebalan tubuh dan organ pernapasannya masih sangat rentan terhadap polusi udara,” kata Aji.
Kemenkes juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh di wilayah terdampak.
Di Palembang, Sumatera Selatan, Dinas Kesehatan setempat membuka posko kesehatan khusus penanganan ISPA di 18 kecamatan yang beroperasi selama 24 jam dengan dukungan tenaga medis dari sejumlah puskesmas. Selain itu, enam puskesmas disiagakan untuk memberikan pelayanan kesehatan selama 24 jam bagi warga yang mengalami gejala ISPA.
Baca juga : Trubus Rahardiansah: Sistemnya Harus Dipersiapkan Dulu
Sementara itu, Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, membuka layanan Cek Kesehatan Gratis di berbagai kelurahan untuk melayani warga yang terdampak ISPA.
Melihat tingginya jumlah kasus ISPA, Anggota Komisi IX DPR Arzeti Bilbina mendorong Pemerintah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) atau krisis kesehatan tingkat nasional. Menurut dia, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga harus memastikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang terus terpapar asap.
Arzeti mengapresiasi pengerahan 2.106 tenaga medis dan distribusi 2,8 juta masker oleh Kemenkes di daerah terdampak. Namun, dia menilai, diperlukan payung hukum di tingkat nasional agar koordinasi antardaerah, pengerahan tenaga kesehatan, dan distribusi bantuan medis dapat dilakukan lebih cepat.
Korban Jiwa
Sementara itu, karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, menewaskan empat orang pada Kamis (15/10/2026). Salah satu korban meninggal adalah Hendra Rony Wagiyanata, yang sebelumnya sempat dirawat di RSUD Tongas bersama dua korban luka bakar lainnya.
Baca juga : Dede Yusuf: Hak ASN Harus Terjamin, Aman Dan Tepat Waktu
Pranata Humas Balai Besar TNBTS Endrip Wahyutama mengatakan, Hendra merupakan bagian dari tim gabungan penanganan karhutla. Tiga korban lainnya adalah petugas TNBTS bernama Sukaris serta Wisnu Yuda Pratama dan Sefriel Ardiansyah yang bekerja sebagai sekuriti hotel dan turut menjadi relawan pemadaman api.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyampaikan duka cita atas meninggalnya para petugas dan relawan tersebut. Kementerian juga menyampaikan penghormatan atas pengabdian seluruh pihak yang bekerja di garis depan pengendalian karhutla.
Di sisi lain, upaya pemadaman terus diperkuat menyusul meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot. Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Kamis (15/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 799 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional, naik 427 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 372 titik. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.