Dark/Light Mode

Taiwan Bisa Jadi Landak Jika China Nyerang

Kamis, 8 April 2021 21:55 WIB
Militer Taiwan memberi penghormatan pada bendera negara di Chiang Kai-shek Memorial Hall, Taipei, Taiwan. (Foto Reuters/Tyrone Siu)
Militer Taiwan memberi penghormatan pada bendera negara di Chiang Kai-shek Memorial Hall, Taipei, Taiwan. (Foto Reuters/Tyrone Siu)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketegangan antara China dan Taiwan terus meningkat. Negeri Tirai Bambu itu menklaim China sebagai wilayahnya. Situasi ini membuat Amerika Serikat (AS) melihat adanya kemungkinan aksi militer dari kedua negara. Jika itu terjadi, Taiwan bertekad akan berjuang hingga titik darah penghabisan.

Beberapa bulan terakhir, Taiwan kerap mengeluhkan aktivitas militer Beijing dalam beberapa bulan. Angkatan udara China hampir setiap hari melakukan serangan di zona identifikasi pertahanan udara Taiwan. Pada Senin (5/4) China mengklaim, sekelompok kapal induk mereka berlatih di dekat negara pulau itu.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Taiwan Joseph Wu mengatakan, AS mengamati perkembangan di kawasan itu. Menurut Wu, dari situasi yang ada, AS melihat jelas kemungkinan China melancarkan serangan terhadap Taiwan.

Baca Juga : DPR Desak Pemerintah Realisasi BUMN Pembiayaan UMi

Jika hal itu terjadi, dia menegaskan, pihaknya akan membela diri sendiri. Kata dia, Taiwan akan berperang jika memang diperlukan untuk berperang. "Dan jika perlu, kami akan mempertahankan diri hingga hari terakhir," tegas Wu, dikutip Channel News Asia, kemarin.

AS, pendukung dan pemasok senjata internasional terpenting Taiwan, telah mendorong Taipei untuk memodernisasi militernya. Sehingga Taiwan bisa menjadi "landak", yang sulit diserang China. Wu mengatakan, mereka bertekad untuk meningkatkan kemampuan militer. Dan membelanjakan lebih banyak untuk pertahanan.

"Pertahanan Taiwan adalah tanggung jawab kami. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kami," terang Wu.

Baca Juga : Pulihkan Kelistrikan NTT, PLN Gandeng TNI Dan Polri Bereskan Pohon Tumbang

Terpisah, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan, bulan ini mereka akan menjalankan delapan hari latihan perang dengan bantuan komputer. Latihan ini disebut fase pertama dari latihan perang.

Fase kedua, termasuk latihan tembak langsung, akan dilaksanakan Juli mendatang. Perwira tinggi militer Taiwan Mayor Jenderal Liu Yu-ping menyebut, latihan itu dirancang berdasarkan ancaman musuh terberat.

"Lewat komputer dilakukan simulasi kemungkinan skenario invasi musuh di Taiwan," jelas Liu.

Baca Juga : Tindak Pegawainya yang Nakal, Bentuk Komitmen KPK Jaga Integritas

Fase kedua dari latihan perang Taiwan akan melibatkan mobilisasi sekitar 8.000 personel cadangan. Mereka bergabung dengan latihan menembak, anti-pendaratan. Dan rumah sakit juga mengadakan latihan untuk menangani banyaknya korban.[PYB]