Dark/Light Mode

Peringatan Hari Quds Internasional 2021

Quds, Kiblat Pertama Ummat Islam

Selasa, 4 Mei 2021 14:58 WIB
Konselor Kebudayaan Iran di Indonesia, Mehrdad Rakhshandeh Yazdi, PhD [Foto: M Qori Haliana/Rakyat Merdeka/RM.id]
Konselor Kebudayaan Iran di Indonesia, Mehrdad Rakhshandeh Yazdi, PhD [Foto: M Qori Haliana/Rakyat Merdeka/RM.id]

RM.id  Rakyat Merdeka - Berdasarkan firman Allah SWT dalam Alquran, Baitul Maqdis adalah kiblat pertama umat Islam dunia. Dari sana, Nabi SAW diberangkatkan ke langit dan menjalani Mikraj. Karena itu, umat Islam selalu mengingat Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa sebagai dua tempat suci di dunia Islam. Dua tempat suci ini menjadi kutub dan simbol persatuan di dunia Islam.

Umat Islam berbangga, karena keyakinan terhadap Quds dan kecintaan terhadap Baitullah Masjidil Haram, didasari oleh agama Islam dan Alquran.

Baca Juga : Tingkatkan Lifting, Green Surfactant Petrokimia Gresik Jadi Incaran Industri Migas

Lebih dari 4 dekade berlalu sejak Imam Khomeini menyebut Jumat terakhir di bulan suci Ramadan sebagai Hari Quds sedunia. Barangkali signifikansi langkah Imam Khomeini saat itu belum tampak bagi sebagian orang sebagaimana mestinya. Namun melalui langkah tersebut, Imam Khomeini dengan pandangan bijak jauh ke depannya mengingatkan kita semua, bahwa konflik di Palestina adalah sebuah konflik Islam–Zionis. Palestina adalah titik benturan peradaban besar Islam dan Zionisme global.

Quds pada hakekatnya adalah simbol keislaman permasalahan Palestina dan penindasan tanah yang selalu menjadi incaran dan didambakan oleh kolonialisme sepanjang sejarah. Dalam sebuah situasi ketika kita menyaksikan terjadinya tindak kejahatan sejarah paling keji terhadap bangsa yang tidak berdaya, bangsa Palestina yang tertindas mengharapkan dukungan dari saudara-saudara Muslimnya untuk berkontribusi dalam pertempuran haq dan batil di tanah para Nabi dan tempat Mikraj Nabi SAW.

Baca Juga : SMF Benahi Rumah Tak Layak Di Lubunglinggau

Hari Quds Sedunia adalah peninggalan dan warisan abadi dalam muqawamah (perlawanan) dari pendiri besar Revolusi Islam, Imam Khomeini, serta simbol persatuan dan kesatuan seluruh umat Islam yang senantiasa akan dikenang dalam sejarah dan benak pembela kemerdekaan.

Langkah ini menjadikan permasalahan Quds dan kemerdekaan wilayah-wilayah Islam berpindah level, dari tingkat negara dan pemerintahan, ke tingkat bangsa dan rakyat. Negosiasi dengan pemerintah dapat saja membawa hasil bagi musuh. Namun bangsa dan rakyat tidak akan pernah dapat dikelabui dengan rencana-rencana yang mengandung kompromi.
 Selanjutnya