Dark/Light Mode

Ahli Epidemiologi, Dicky Budiman

Ironi, Kasus Positif Turun, Kematian Tinggi

Sabtu, 24 Juli 2021 07:09 WIB
Ahli Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman (Foto: Istimewa)
Ahli Epidemiologi Griffith University, Dicky Budiman (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi telah memberikan sinyal pelonggaran PPKM Level 4 pada 26 Juli 2021. Dengan syarat, jumlah kasus baru terus mengalami penurunan.

Namun, penurunan jumlah kasus belakangan ini terkesan semu, karena jumlah testing juga ikut melorot.

Kamis (22/7), performa testing sebenarnya sudah mulai membaik, dengan penambahan 112.470 orang dites (39.040 via PCR/TCM, 73.430 via antigen).

Tapi sayang, hari ini turun lagi. Jumlah orang diperiksa berkurang 26.317 (12.710 via PCR/TCM< 13.607 via antigen).

Berita Terkait : Kasus Positif Meledak Di Angka 56.757, Didominasi Jakarta Dan Jawa Barat

Bagaimana situasi ini harus disikapi? Jangan sampai, pelonggaran malah bikin euphoria, dan situasi Covid menjadi semakin buruk.

Berikut pandangan Ahli Epidemiologi Griffith University, Australia Dicky Budiman kepada wartawan RM.id, Faqih Mubarok.

Bagaimana tanggapan Bapak, terkait rencana pelonggaran yang akan dilakukan pemerintah pada 26 Juli 2021, dengan syarat jumlah kasus baru terus mengalami penurunan?

Mau tak mau, pemerintah akan melakukan pelonggaran. Karena, pemerintah bertumpu pada aspek kesehatan dan ekonomi.

Berita Terkait : Ayo Genjot 500 Ribu Testing Sehari, Jangan Sampai Ada Ledakan Besar Di Akhir Juli

Sulit bagi masyarakat, untuk menerima pengetatan. Sementara pemerintah, sulit untuk menanggung.

Kenapa? Karena sejak awal, pilihannya sudah salah. 16 bulan berlalu, 3T (testing, tracing, dan treatment) tidak digencarkan.

Karena ekonomi harus diselamatkan, pembatasan pasti dilonggarkan.

Dalam kondisi seperti itu, apa yang harus dilakukan, supaya situasinya tidak memburuk?

Berita Terkait : Epidemiolog Minta Pemerintah Waspada Varian Lambda

Nggak lockdown, nggak apa-apa. Yang penting, 3T harus tinggi. Jangan dibebankan ke masyarakat. 3T harus dilakukan negara.

Ini bisa mencegah kematian, mencegah banyak orang masuk ICU. Perlu visitasi mendatangi rumah warga. Supaya terdeteksi, mana yang layak isolasi mandiri (isoman), mana yang tidak.

Kunci utamanya, tidak boleh terlambat terdeteksi, terlambat ditangani, terlambat dirujuk dan diobati. Seringkali terjadi, ketika seseorang harus ke fasilitas kesehatan, tapi faktanya masih isoman.

Jadi, sekali lagi, testingnya harus ekstrem.
 Selanjutnya