BREAKING NEWS
 

Avatar The Last Airbender di Netflix Tunjukkan Kekuatan Pasar Nostalgia

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 22 Juli 2026 19:03 WIB
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehadiran Avatar: The Last Airbender dalam format live action di Netflix dinilai tidak hanya menjadi bentuk adaptasi dari serial animasi ke medium baru.

Lebih dari itu, serial tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh nostalgia dan loyalitas penggemar sebagai modal penting dalam industri hiburan.

Pengamat industri perfilman sekaligus akademisi Institut Kesenian Jakarta, Satrio "Pepo" Pamungkas, mengatakan karya yang telah memiliki basis penggemar besar memberikan keyakinan lebih bagi rumah produksi untuk menghidupkannya kembali.

"Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat. Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak," kata Pepo, Rabu (22/7/2026). 

Menurutnya, fenomena tersebut juga terlihat pada berbagai waralaba populer seperti Dragon Ball dan Doraemon, yang terus diadaptasi karena memiliki penggemar lintas generasi.

Baca juga : Percepat Pemulihan Aceh, Kementerian PU Tuntaskan Jembatan Pantai Dona

"Termasuk Dragon Ball, Doraemon, atau apa pun yang mempunyai basis penggemar luar biasa. Apalagi The Last Airbender, sejak awal memang sudah memiliki basis penonton yang besar," ujarnya.

Pepo menilai, industri hiburan akan melihat sejauh mana penonton lama masih dapat ditarik kembali, sekaligus memanfaatkan adaptasi sebagai pintu masuk bagi generasi penonton baru yang belum mengenal karya aslinya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa mengandalkan popularitas nama besar saja tidak cukup. Menurutnya, setiap adaptasi harus memiliki nilai tambah atau unique selling point agar mampu menarik penggemar lama sekaligus memperluas pasar.

Adsense

"Industri pasti melihat bagaimana pasar sebelumnya, yang sudah mempunyai konsumen atau penonton dalam jumlah banyak, dicoba untuk dihadirkan kembali," tuturnya.

"Tetapi, tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak," sambungnya.

Baca juga : Pemerintah Luncurkan SRUK, Perkuat Ekosistem Pasar Karbon Indonesia

Pepo juga menilai, format serial yang dipilih Netflix memberikan ruang lebih luas untuk membangun kedekatan emosional antara penonton dengan karakter.

Durasi yang lebih panjang memungkinkan pengembangan cerita dan karakter dilakukan secara bertahap dibandingkan film layar lebar.

"Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama," jelas Pepo.

Ia menambahkan, adanya sejumlah perbedaan antara versi animasi dan live action merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Penyesuaian alur cerita maupun karakter dinilai wajar agar sesuai dengan kebutuhan medium dan durasi penyajian.

"Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru," terang Pepo.

Baca juga : Hilirisasi Nikel, Jalan Indonesia Menjadi Kekuatan Baru Industri EV

Menurutnya, dari sisi industri, basis penggemar yang telah terbentuk turut mengurangi ketidakpastian pasar. Produsen tidak perlu membangun popularitas dari awal karena karakter dan dunia cerita sudah dikenal luas oleh publik.

"Kepercayaan diri itulah yang kemudian menumbuhkan keyakinan dari sisi finansial dan industri untuk menciptakan sebuah produk baru, yaitu versi live action," tutup Pepo.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense