Dark/Light Mode

Hilirisasi Nikel, Jalan Indonesia Menjadi Kekuatan Baru Industri EV

Rabu, 8 Juli 2026 15:46 WIB
Ilustrasi. Salah satu pengisian daya mobil listrik di SPKLU Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)
Ilustrasi. Salah satu pengisian daya mobil listrik di SPKLU Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Suara mesin nyaris tak terdengar ketika sebuah mobil listrik melaju di jalanan Tokyo, Berlin, atau New York. Namun, di balik senyapnya laju kendaraan masa depan itu, tersimpan kisah panjang yang mungkin berawal ribuan kilometer jauhnya di perut bumi Halmahera, Sulawesi, atau Papua, tempat nikel Indonesia ditambang.

Tak banyak yang menyadari, masa depan kendaraan listrik dunia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi otomotif.

Pertarungan sesungguhnya terjadi jauh sebelum sebuah mobil dirakit, yakni pada perebutan bahan baku dan rantai pasok baterai yang menjadi jantung kendaraan listrik.

Di tengah perubahan besar itu, Indonesia sedang memainkan pertaruhan sejarah. Selama puluhan tahun negeri ini dikenal sebagai pengekspor bahan mentah. Kekayaan mineral berlayar ke berbagai penjuru dunia, sementara nilai tambah terbesar dinikmati negara lain.

Kini arah itu mulai berubah. Melalui hilirisasi, Indonesia berusaha memutus mata rantai lama dengan membangun industri dari hulu hingga hilir, agar kekayaan alam tidak lagi berhenti di mulut tambang, melainkan menjelma menjadi baterai, kendaraan listrik, lapangan kerja, dan kemajuan teknologi.

Perubahan tersebut bukan tanpa alasan. Transisi energi global telah menggeser pusat persaingan dari sekadar memproduksi kendaraan listrik menjadi menguasai rantai pasok baterai.

Dalam peta baru inilah Indonesia memiliki modal yang sulit ditandingi banyak negara: lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia, bahan baku utama baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang masih menjadi pilihan kendaraan listrik berperforma tinggi.

Baca juga : Perpusnas Perkenalkan Jenama Baru Pustakawan sebagai Pemelajar Sepanjang Hayat

Namun sejarah mengajarkan satu hal. Kekayaan alam saja tidak pernah cukup untuk menjadikan sebuah bangsa besar.

Yang membedakan adalah kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, menguasai teknologi, dan membangun industri yang mampu bertahan dalam persaingan global.

Kesadaran itulah yang mendorong pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi, mulai dari pertambangan, pengolahan mineral, produksi material baterai, pembuatan sel baterai, hingga perakitan kendaraan listrik.

Targetnya bukan sekadar meningkatkan ekspor, melainkan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.

Optimisme itu disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik global berkat kekayaan sumber daya alam, besarnya pasar domestik, serta komitmen pemerintah membangun ekosistem kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.

"Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 telah menegaskan komitmen terhadap pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda transisi energi, ekonomi hijau, dan industrialisasi nasional," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Baca juga : Hashim Lantik Srikandi Jaga Desa, Perkuat Peran Perempuan Bangun Desa

Komitmen tersebut diperkuat dengan upaya membangun industri yang inklusif. Pemerintah tidak hanya mendorong investasi perusahaan besar, tetapi juga membuka ruang bagi industri kecil dan menengah, agar ikut menjadi bagian dari rantai pasok kendaraan listrik melalui transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Pengamat industri sekaligus Managing Partner BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LM FEB) Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto, mengingatkan bahwa nilai tambah terbesar hanya akan tercipta apabila Indonesia mampu mempercepat investasi di sektor hilir, terutama industri baterai kendaraan listrik.

"Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV (Electric Vehicle/kendaraan listrik) oleh konsorsium IBC (Indonesia Battery Corporation) yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka, (12/5/2026).

Pandangan tersebut menemukan relevansinya dalam langkah yang kini ditempuh Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama Grup MIND ID.

Dari tambang nikel ANTAM, pembangunan fasilitas Cathode Active Material (CAM) di Halmahera, hingga pabrik sel baterai di Karawang, Indonesia mulai menyusun mata rantai industri yang selama ini didominasi negara lain.

Bagi MIND ID, hilirisasi bukan semata membangun pabrik atau meningkatkan produksi mineral.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan hilirisasi harus memberi manfaat nyata bagi bangsa.

Baca juga : D-8 Halal Expo Indonesia 2026 Perluas Perdagangan Dan Investasi Industri Halal

"MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional. Sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia."

Pada akhirnya, hilirisasi bukan hanya tentang nikel. Ia adalah tentang bagaimana sebuah bangsa memutus ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Dan mulai membangun peradabannya sendiri melalui industri, inovasi, dan penguasaan teknologi.

Pesan itu sejalan dengan pandangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

"Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan."

Mungkin suatu hari nanti, ketika sebuah mobil listrik kembali melaju tanpa suara di jalanan dunia, tak seorang pun mengetahui dari mana energi itu berasal.

Namun jika hilirisasi berjalan konsisten, dunia akan mengenal satu nama di balik baterai yang menggerakkannya: Indonesia.

Bukan lagi sekadar negeri penghasil nikel, melainkan bangsa yang berhasil mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri dan harapan bagi generasi mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.