BREAKING NEWS
 

Imperial Pictures Ajak Pelajar Bijak Memilih Tontonan Lewat LSF Goes to School

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Rabu, 30 September 2026 14:01 WIB
Kegiatan literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) melalui program LSF Goes to School di SMP Al Fajar Bekasi. (Foto: Dok. Imperial Fictures

RM.id  Rakyat Merdeka - Imperial Pictures berkolaborasi dengan Lembaga Sensor Film (LSF) dalam kegiatan literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) melalui program LSF Goes to School di SMP Al Fajar Bekasi. 

Kegiatan ini menghadirkan Yasamin Jasem dan Leony V. H, pemain film Ghosthing, bersama produser Hartawan Triguna untuk bertemu langsung dengan para pelajar.

Kunjungan tersebut mengajak siswa melihat film lebih dari sekadar hiburan. Melalui pertemuan dengan pelaku perfilman, pelajar diajak mengenal proses kreatif di balik sebuah karya sekaligus memahami pentingnya memilih tontonan yang sesuai dengan usia mereka.

Pesan ini menjadi relevan ketika film dan berbagai bentuk tayangan kini semakin mudah ditemukan, baik di bioskop maupun melalui media digital.

Baca juga : LSF Gandeng Mahasiswa Kampanyekan Budaya Sensor Mandiri

LSF Goes to School merupakan bagian dari upaya LSF memperkenalkan budaya sensor mandiri kepada generasi muda.

Dalam praktiknya, budaya sensor mandiri dimulai dari langkah sederhana: mencari informasi tentang sebuah film, memperhatikan klasifikasi usianya, lalu mempertimbangkan apakah tayangan tersebut sesuai untuk ditonton.

Kehadiran para pemain film membuat pembahasan ini lebih dekat dengan minat dan pengalaman seharihari para siswa. Bagi Imperial Pictures, keterlibatan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk membangun hubungan yang lebih bermakna antara film dan penontonnya.

Adsense

Produser Eksekutif Ghosthing, Peter Surya Wijaya berharap pertemuan antara insan perfilman dan pelajar dapat menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap film Indonesia sekaligus kesadaran untuk menjadi penonton yang bijak.

Baca juga : STLS sebagai Instrumen Perlindungan Hukum bagi Produser dan Penonton Film

“Film dapat menjadi ruang untuk menikmati cerita, mengenal sudut pandang baru, dan berdiskusi. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap para pelajar semakin dekat dengan film Indonesia serta terbiasa memilih tontonan yang sesuai dengan usia mereka,” ujar Peter dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).

Selain membawa pesan literasi, kunjungan ini memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengenal film Ghosthing melalui orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Yasamin Jasem memerankan Maya, arwah seorang influencer yang belum menemukan jawaban atas kematiannya.

Dalam cerita, Maya bertemu Alfian, seorang perias jenazah yang dapat melihat arwah.

Baca juga : Nyala Film Daerah: Klasifikasi Usia dan Nilai Lokal

Pertemuan keduanya membawa penonton mengikuti sebuah misteri yang dikemas dengan unsur komedi dan horor.

Leony turut memperkuat jajaran pemain film tersebut. Bersama Hartawan Triguna sebagai produser, kehadiran keduanya di SMP Al Fajar Bekasi menjadi bagian dari rangkaian pertemuan Ghosthing dengan calon penontonnya menjelang penayangan di bioskop.

Ghosthing dijadwalkan tayang mulai 15 Oktober 2026 dan telah memperoleh klasifikasi 13 tahun ke atas dari LSF. Klasifikasi tersebut sekaligus menjadi contoh nyata bagi pelajar mengenai informasi yang perlu diperhatikan sebelum memilih sebuah film.

Melalui kolaborasi ini, Imperial Pictures dan LSF berharap pesan budaya sensor mandiri dapat terus hadir dalam percakapan yang dekat dengan generasi muda.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense