BREAKING NEWS
 

Rasa Kebangsaan di Era Digital: Tantangan dan Harapan

Writer : Kholis Hudaya
Editor : SAIFUL BAHRI
Selasa, 9 September 2025 20:47 WIB
Arie Rui H.C.DMP, S.Sos, MBA

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan kita. Hampir semua aspek dari interaksi sosial, cara bekerja, hingga pola konsumsi informasi telah bergeser ke ranah digital.

Indonesia kini memiliki lebih dari 200 juta pengguna internet. Angka ini menunjukkan potensi luar biasa, sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi rasa kebangsaan.

Era digital membuka pintu globalisasi informasi tanpa batas. Anak-anak muda bisa dengan mudah mengikuti tren budaya Korea, Amerika, atau Jepang, bahkan lebih akrab dengan itu dibanding tradisi daerahnya sendiri. 

Sementara itu, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian semakin sering memecah belah masyarakat. Kementerian Kominfo mencatat ratusan ribu konten hoaks beredar tiap tahun, terutama terkait isu politik dan identitas. Belum lagi kesenjangan digital: masih ada jutaan warga di pelosok negeri yang belum merasakan internet cepat dan murah.

Semua fenomena ini pada akhirnya berhubungan dengan ketahanan nasional. Jika rasa kebangsaan melemah di dunia digital, persatuan bangsa akan ikut terancam.

Baca juga : Persebaya On Fire, Siap Tantang Persib Di Bandung

Perkembangan budaya digital membawa sejumlah tantangan dan hambatan yang dapat mempengaruhi rasa kebangsaan, antara lain: Globalisasi Informasi: Akses mudah ke informasi global dapat mengikis identitas nasional dan mengubah pandangan masyarakat terhadap nilai-nilai lokal. 

Berdasarkan data dari We Are Social, pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta orang pada tahun 2021, yang menunjukkan betapa besarnya akses masyarakat terhadap informasi global. Namun, hal ini juga membawa dampak negatif berupa berkurangnya apresiasi terhadap budaya lokal

Penyebaran Hoaks dan Propaganda: Informasi yang salah atau hoaks dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial, mengganggu stabilitas sosial dan politik. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, terdapat lebih dari 800 ribu kasus hoaks yang terdeteksi pada tahun 2020, yang sebagian besar menyangkut isu-isu politik dan sosial.

Kesenjangan Digital: Tidak meratanya akses teknologi dan internet di berbagai daerah dapat menyebabkan kesenjangan informasi dan pengetahuan, yang pada gilirannya mempengaruhi kesadaran kebangsaan. 

Adsense

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan bahwa masih ada sekitar 20% penduduk Indonesia yang belum memiliki akses internet, terutama di daerah terpencil.

Baca juga : Di Kertanegara, Prabowo Ingatkan Kader: Jaga Ucapan, Jangan Sakiti Rakyat

Menguatkan Kebangsaan di Dunia Digital

Apa yang bisa kita lakukan? Ada beberapa langkah strategis:

1. Literasi digital dengan semangat kebangsaan. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai: bagaimana berinternet secara sehat, kritis, dan berorientasi persatuan.

2. Mendukung konten lokal dan nasional. Dunia digital adalah arena kompetisi narasi. Jika kita tidak mengisinya, narasi luar akan mendominasi. Film, musik, gim, dan konten kreatif yang mengangkat budaya Indonesia perlu diproduksi lebih masif dan didukung oleh pemerintah maupun swasta.

3. Kolaborasi dengan platform digital. Perusahaan teknologi global memiliki tanggung jawab besar. Algoritma media sosial misalnya, tidak boleh hanya mendorong konten sensasional yang memecah belah. Perlu kerja sama dengan pemerintah dan masyarakat sipil untuk menekan dampak negatifnya.

Baca juga : Provinsi Papua Gelar Apel Kebangsaan dan Doa Lintas Agama

4. Pemerataan akses teknologi. Internet harus dianggap sebagai infrastruktur strategis, bukan sekadar fasilitas hiburan. Jika akses merata, setiap warga dapat ikut serta membangun narasi kebangsaan di ruang digital.

Menjaga Indonesia di Dunia Virtual

Budaya digital tidak bisa dihindari. Pertanyaannya, apakah kita hanya menjadi konsumen, atau sekaligus produsen nilai dan identitas di ruang maya? Jika kita berhasil mengintegrasikan semangat kebangsaan dalam budaya digital, maka teknologi akan menjadi alat pemersatu, bukan pemecah.

Rasa kebangsaan bukan hanya tentang lagu kebangsaan, bendera, atau upacara. Di era digital, rasa kebangsaan berarti bagaimana kita bersikap di media sosial, apa yang kita bagikan, dan nilai apa yang kita tanamkan melalui teknologi.

Menjaga Indonesia di era digital berarti menjaga agar ruang maya kita tetap sehat, inklusif, dan mencerminkan nilai-nilai bangsa. Ketahanan nasional dimulai dari hal sederhana: bagaimana setiap klik, unggahan, dan percakapan digital bisa memperkuat, bukan melemahkan, persatuan kita.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense