RM.id Rakyat Merdeka - Pembukuan masih menjadi titik lemah banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Meski mampu menghasilkan produk berkualitas, tidak sedikit pelaku usaha yang masih mencatat transaksi secara manual, sekadarnya, atau bahkan tidak mencatat sama sekali. Padahal, laporan keuangan yang tertib adalah fondasi penting bagi pengembangan usaha, pengendalian arus kas, hingga akses pembiayaan perbankan.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim dosen Universitas Trilogi—Yunita Fitra Andriana, Faizah Syihab, dan Bayyinah Nurrul Haq—menggelar pelatihan Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) bekerja sama dengan Sanggar Ciwitan Lawon Geulis Bogor sebagai mitra program.
Pelatihan berlangsung pada 18 Oktober 2025 secara luring dan dilanjutkan dengan pendampingan daring. Kegiatan ini merupakan bagian dari Hibah Program Inovasi Seni Nusantara yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun pendanaan 2025. Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas bisnis UMKM melalui digitalisasi pencatatan keuangan menggunakan aplikasi SIAPIK, sekaligus menanamkan kemampuan membaca angka dan memahami kesehatan usaha—kompetensi yang sering diabaikan namun sangat menentukan keberlanjutan UMKM.
“Masalah banyak UMKM bukan semata kurangnya penjualan, tetapi aliran kas yang tidak tercatat dengan baik. Dengan SIAPIK, pelaku usaha bisa mengetahui kondisi usaha secara harian, mingguan, hingga bulanan,” ujar Faizah Syihab, dosen manajemen Universitas Trilogi sekaligus narasumber pelatihan.
Baca juga : MOP Agency Bantu Brand Tumbuh Dan Menang Di Pasar
Menurutnya, pencatatan yang tertib membantu UMKM saat mengajukan pembiayaan ke perbankan atau lembaga keuangan nonbank karena data usaha menjadi lebih jelas dan terverifikasi.
Aplikasi SIAPIK memudahkan UMKM menyusun laporan dasar seperti Laporan Posisi Keuangan (Neraca), Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba, Laporan Arus Kas, hingga Laporan Riwayat Transaksi. Pelatihan ini menargetkan pelaku usaha Sanggar Ciwitan Lawon Geulis, dengan memanfaatkan aplikasi berbasis smartphone dan situs web agar langsung dapat diterapkan dalam kegiatan usaha.
Pelatihan dimulai dengan wawancara pendahuluan untuk memetakan kondisi pembukuan mitra. Temuan utamanya: pencatatan masih manual dan bercampur dengan keuangan pribadi. Akibatnya, pelaku usaha sering tidak mengetahui apakah usahanya untung, rugi, atau sekadar “tutup modal”.
Setelah pemetaan kebutuhan, peserta diperkenalkan pada SIAPIK—aplikasi pencatatan keuangan yang dikembangkan Bank Indonesia. Aplikasi ini memiliki tiga menu utama: Data, Transaksi, dan Laporan, yang memungkinkan UMKM mencatat transaksi dan menghasilkan laporan secara otomatis tanpa perlu kemampuan akuntansi.
Baca juga : Pertamina Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Strategi Digital
Materi pelatihan disampaikan secara bertahap. Peserta diajak memasukkan data dasar usaha, seperti profil usaha, saldo awal kas, daftar aset, data pelanggan, dan data pemasok. Fasilitator menekankan bahwa data awal yang benar adalah kunci agar laporan SIAPIK akurat. Setelah itu, peserta mempelajari kategori transaksi yang umum terjadi di UMKM, seperti penjualan tunai, pembelian bahan baku, dan biaya operasional. Pendampingan dilakukan secara personal agar peserta memahami perbedaan antara transaksi modal, biaya, aset, dan penjualan—hal yang sebelumnya membingungkan saat mencatat secara manual.
Peserta kemudian membawa contoh kasus nyata dari usahanya untuk diuji di aplikasi. Tim pendamping memberikan koreksi atas kesalahan kategori transaksi, input data, hingga penataan laporan agar lebih jelas. Peserta juga dilatih membuat backup data dan menyusun laporan bulanan mandiri.
Bagian paling ditunggu mitra adalah fitur Laporan. Dengan pencatatan yang tertib, SIAPIK menampilkan laporan Neraca, Laba Rugi, Arus Kas, hingga Riwayat Transaksi untuk menilai kinerja usaha. Peserta diajak menilai penjualan, beban usaha, margin laba, dan membaca laporan keuangan secara menyeluruh.
“Di titik ini pelaku UMKM biasanya tersadar: ternyata margin kotor dan beban operasional bisa dipantau dari bulan ke bulan. Dari sana, keputusan menaikkan harga, menekan biaya, atau mengubah strategi pemasaran menjadi lebih berbasis data,” jelas Faizah.
Baca juga : Tragedi SMAN 72: Pentingnya Bimbingan Moral dan Spiritualitas di Era Digital
Sanggar Ciwitan Lawon Geulis mengaku sangat terbantu. “Selama ini saya hanya pegang catatan di WhatsApp dan nota kertas. Begitu dimasukkan ke aplikasi, saya bisa lihat mana biaya yang membengkak,” ujar Eka Eka Hari Djayanti, salah satu pelaku UMKM.
Ia menambahkan, keterbatasan sumber daya manusia di bidang pencatatan sering menjadi kendala. Kehadiran SIAPIK membuat proses pencatatan lebih sederhana, terstruktur, dan mudah dipahami bahkan oleh pelaku tanpa latar belakang akuntansi.
Agar pelatihan tidak berhenti di ruang kelas, tim menyusun Modul Terapan SIAPIK: Panduan Praktis Smartphone dan Website untuk UMKM dalam format digital. Modul ini bersifat hands-on, dilengkapi langkah-langkah, contoh, dan ruang praktik. Keunggulannya adalah tangkapan layar pada setiap bab dengan caption yang jelas, sehingga peserta bisa langsung mencocokkan tampilan perangkat mereka.
Menurut Yunita Fitra Andriana, Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat, tujuan akhirnya lebih dari sekadar mengoperasikan aplikasi. “Yang kami bangun adalah budaya tertib data. Begitu pelaku UMKM terbiasa melihat angka, mereka lebih percaya diri berdialog dengan bank, merencanakan investasi kecil, dan mengukur tumbuh kembang usaha secara objektif,” tegasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.