Beberapa tahun terakhir, kita sering mendengar istilah kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diucapkan di mana-mana. Namun bagi saya, penerapan AI di bidang farmasi adalah salah satu yang paling menarik untuk dicermati. Sebab, bidang ini menyentuh langsung nyawa dan keselamatan manusia . Di tengah euforia ini, pertanyaan yang menggelitik: apakah kehadiran AI benar-benar membawa kemajuan, atau justru menyimpan risiko yang perlu kita waspadai?
Saat Algoritma Meracik Masa Depan
Dulu, menemukan satu molekul obat yang aman dan efektif bisa memakan waktu bertahun-tahun dengan biaya besar dan tingkat kegagalan tinggi. Kini, melalui machine learning, AI mampu memprediksi efektivitas suatu senyawa sebelum diuji pada manusia. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa integrasi AI dalam perancangan formula obat dapat mempercepat proses penyaringan senyawa, meningkatkan efisiensi optimasi formula, sekaligus menekan biaya penelitian. Contoh nyata adalah AlphaFold yang memetakan struktur protein—pencapaian yang dulu memerlukan bertahun-tahun riset manual. Ketika pandemi Covid-19 melanda, dunia menyaksikan sendiri bagaimana AI turut mempercepat identifikasi senyawa kandidat obat di tengah situasi darurat global.
Manfaat AI juga dirasakan di tingkat pelayanan. Kemampuan AI mendeteksi potensi interaksi obat dengan menganalisis riwayat medis pasien menjadi lapisan keamanan berharga, terutama bagi pasien lanjut usia yang mengonsumsi banyak obat sekaligus. Di ranah manajemen, algoritma prediktif membantu memperkirakan kebutuhan stok obat berdasarkan pola penyakit—sesuatu yang sangat berarti di negara kepulauan seperti Indonesia, di mana distribusi obat ke daerah terpencil kerap terkendala .
Mesin Belum Tentu Lebih Tahu
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Menjanjikan Kemajuan, Menuntut Tanggung Jawab Etis.
Namun, di balik kecanggihannya, ada fakta mengejutkan yang jarang diungkap. Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Health-System Pharmacy menguji dua chatbot AI populer untuk menjawab 300 pertanyaan farmasi. Hasilnya? ChatGPT dan Gemini hanya sepenuhnya akurat dengan referensi terpercaya 19% dari waktu. Bahkan, 15% jawaban ChatGPT dan 5% jawaban Gemini sepenuhnya tidak akurat dengan referensi palsu/tidak dapat diandalkan . Studi ini menegaskan bahwa alat AI generatif tidak boleh menggantikan riset para profesional kesehatan atau konsultasi dengan tim farmasi.
Bahkan para pemimpin industri farmasi di ajang BIO 2026 mengakui bahwa AI belum sepenuhnya memenuhi janjinya. Mereka menyebutkan, AI masih belum bisa menciptakan obat dari awal (from scratch)—hanya bisa mengoptimalkan dari senyawa yang sudah ada . CEO Seeker Labs juga mengungkapkan kekhawatiran tentang pembatasan kata kunci dalam model bahasa besar yang menghambat penelitian penyakit menular .
Dilema Etis di Persimpangan Jalan
Dalam konteks Indonesia, transformasi digital sektor farmasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal ini untuk mendongkrak efisiensi dan daya saing global. Langkah nyata telah dilakukan melalui uji coba teknologi AI untuk pemeliharaan prediktif di PT Kalbe Farma Tbk—dan hasilnya positif .
Namun, saya prihatin dengan tiga tantangan utama. Pertama, keamanan data. Data medis adalah data paling pribadi, dan ketika diolah AI, muncul pertanyaan: siapa yang menjamin data tidak bocor? Kedua, kesenjangan akses. Puskesmas dan apotek kecil di daerah terpencil belum tentu memiliki infrastruktur maupun SDM memadai. Jika tidak diantisipasi, AI berpotensi memperlebar kesenjangan layanan kesehatan. Ketiga, bias algoritma. Data yang tidak representatif menghasilkan rekomendasi keliru yang bisa berakibat fatal bagi pasien .
Baca juga : Apoteker di Ujung Tanduk? Menimbang Ulang Peran Manusia di Tengah Gemuruh AI
Dari seluruh pertimbangan di atas, sikap saya terhadap AI di dunia farmasi adalah optimisme yang realistis. AI adalah alat bantu luar biasa yang mampu mempercepat riset, meningkatkan akurasi, dan memperluas jangkauan layanan. Namun AI tetaplah alat—ia tidak memiliki empati, tidak bisa mempertimbangkan konteks sosial-emosional pasien, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban etis maupun hukum .
Saya sepakat dengan Prof. Maksum Radji, Guru Besar Farmasi UEU, bahwa AI tidak akan menggantikan apoteker, melainkan mendorong lahirnya Apoteker 5.0 yang memadukan kompetensi kefarmasian dengan penguasaan teknologi digital . Di era Farmasi 5.0, yang bertahan bukan yang tercepat meng-generate jawaban, tapi yang paling dalam memahami dan paling humanis dalam melayani. Karena pada akhirnya, di balik setiap algoritma dan resep, ada denyut nadi kemanusiaan yang tidak pernah bisa digantikan oleh secuil pun kode program.
Daftar Rujukan
Ramadhaniyah, R. (2026). Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Farmasi: Antara Harapan dan Kehati-hatian. RM.id
Putrisfaradilla. (2026). Ketika Algoritma Ikut Meracik Obat: Refleksi tentang AI di Balik Layar Farmasi. RM.id
Baca juga : Farmasi di Era AI: Antara Efisiensi Revolusioner dan Tanggung Jawab Etis
Frazer, A., Yoon, E., & Durant, K. M. (2026). Artificial intelligence for drug information: Evaluating its use in real-world pharmacy practice. American Journal of Health-System Pharmacy, 83(12), 669-676
Shafrina Anggrek Lestari. (2026). AI dan LLM Dalam Farmasi: Revolusi Farmasi Berbasis Kecerdasan Buatan. Kompasiana
Viyolafap. (2026). Farmasi 4.0: Siapkah Generasi Apoteker Muda Berdampingan dengan AI? RM.id.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.