Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin dekat dengan kehidupan manusia. Teknologi yang dahulu identik dengan komputer kini mulai digunakan dalam berbagai bidang, termasuk kesehatan dan farmasi. AI mampu mengolah data, menemukan pola, memberikan prediksi, dan membantu proses pengambilan keputusan.
Dunia farmasi memiliki peluang besar dalam pemanfaatan AI, mulai dari penemuan obat, pelayanan kefarmasian, pengelolaan informasi obat, hingga pendidikan mahasiswa. Namun, semakin canggih teknologi bukan berarti peran manusia menjadi semakin kecil.
Menurut World Health Organization (WHO, 2021), AI memiliki potensi besar dalam bidang kesehatan, tetapi penerapannya harus memperhatikan etika, keselamatan, transparansi, dan akuntabilitas. AI dapat memberikan kemudahan, tetapi tetap membutuhkan manusia yang memiliki pengetahuan dan tanggung jawab profesional.
AI Membuka Peluang Besar bagi Farmasi
Farmasi merupakan bidang yang sangat dekat dengan data dan informasi. Tenaga kefarmasian harus memahami dosis, indikasi, efek samping, interaksi obat, kontraindikasi, serta berbagai informasi lain yang terus berkembang.
Menurut Chalasani (2023), AI memiliki potensi membantu praktik kefarmasian, termasuk pengelolaan obat, analisis data, dan pengambilan keputusan dalam pelayanan pasien. Dengan kemampuan mengolah data dalam jumlah besar, AI dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat dan efisien.
Perkembangan ini juga mulai terlihat di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024) melaporkan pemanfaatan AI dalam uji coba pelayanan kesehatan di beberapa rumah sakit. Kondisi ini menunjukkan bahwa calon tenaga kefarmasian perlu mulai memahami teknologi. Penguasaan ilmu farmasi tetap menjadi dasar, tetapi kemampuan menggunakan teknologi juga akan semakin dibutuhkan.
AI dalam Penemuan dan Pengembangan Obat
Salah satu pemanfaatan AI yang menarik adalah dalam penemuan dan pengembangan obat. Proses pengembangan obat membutuhkan waktu panjang dan melibatkan banyak tahapan penelitian. AI dapat membantu peneliti menganalisis data dan menemukan pola yang sulit ditemukan secara manual.
Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA, 2025), AI dan machine learning dapat digunakan dalam berbagai tahap pengembangan obat, mulai dari tahap nonklinis dan klinis hingga manufaktur dan pascapemasaran.
Baca juga : AI dalam Dunia Farmasi: Teknologi Cerdas untuk Dukung Peran Tenaga Kefarmasian
AI dapat menjadi “asisten” yang membantu peneliti bekerja lebih cepat. Namun, hasil prediksi AI tetap harus dibuktikan melalui penelitian dan validasi. AI dapat membantu menemukan kemungkinan jawaban, tetapi manusia tetap harus memastikan kebenarannya.
AI sebagai Pendukung Pelayanan Kefarmasian
AI juga berpotensi membantu pelayanan kefarmasian, seperti skrining resep, pengolahan data pasien, identifikasi kemungkinan interaksi obat, dan pengelolaan informasi obat.
Menurut Chalasani (2023), AI dapat mendukung berbagai aktivitas dalam praktik kefarmasian. Jika pekerjaan rutin dapat dibantu AI, apoteker dapat memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pasien.
Pelayanan kefarmasian bukan hanya tentang memberikan obat. Apoteker juga memberikan konseling, edukasi, memahami kondisi pasien, dan memastikan penggunaan obat yang tepat. AI mungkin dapat memberikan informasi dengan cepat, tetapi belum tentu dapat memahami kekhawatiran dan kebutuhan pasien seperti seorang apoteker.
Di sinilah sentuhan manusia tetap dibutuhkan. Teknologi dapat membantu pekerjaan, tetapi komunikasi, empati, dan kepercayaan tetap menjadi bagian penting dalam pelayanan kefarmasian.
Ketika Teknologi Terlalu Dipercaya
Semakin mudah AI digunakan, semakin besar pula risiko ketergantungan. WHO (2021) menekankan bahwa penggunaan AI dalam kesehatan harus memperhatikan keselamatan dan akuntabilitas.
Dalam dunia farmasi, kesalahan informasi mengenai dosis, interaksi obat, atau kontraindikasi tidak boleh dianggap sepele. Prinsip yang harus diterapkan adalah AI boleh membantu memberikan informasi, tetapi keputusan profesional tetap berada pada manusia.
Baca juga : Riset Farmasi Dipercepat AI, Keamanannya Jadi Pertanyaan Baru
Informasi dari AI harus dibandingkan dengan jurnal, buku, pedoman, atau sumber resmi yang terpercaya. Dengan demikian, manusia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga pengawas terhadap hasil yang diberikan.
Privasi dan Etika Tetap Penting
Penggunaan AI dalam kesehatan juga berkaitan dengan privasi. AI membutuhkan data agar dapat bekerja, sedangkan data kesehatan dapat mengandung informasi pribadi yang sensitif.
Menurut WHO (2021), penggunaan AI dalam kesehatan harus memperhatikan otonomi manusia, keselamatan, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan.
Kecanggihan teknologi tidak boleh membuat kita melupakan hak pasien. Data pasien harus dijaga dan tidak boleh dimasukkan ke platform AI secara sembarangan. Penggunaan teknologi tetap harus memperhatikan keamanan data dan etika profesi.
Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?
Pertanyaan apakah AI akan menggantikan apoteker mungkin akan semakin sering muncul. Saya lebih melihat AI sebagai partner kerja bagi apoteker, bukan pengganti.
AI dapat mengolah data dan memberikan informasi, sedangkan apoteker tetap bertanggung jawab menilai informasi tersebut dan menentukan tindakan yang sesuai. Apoteker juga memiliki peran dalam komunikasi, konseling, edukasi, empati, dan tanggung jawab profesional.
Karena itu, calon apoteker perlu mempersiapkan diri untuk bekerja berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai profesinya.
Manusia Tetap Penting dalam Farmasi
Pada akhirnya, AI menawarkan banyak kemudahan bagi dunia farmasi. Teknologi dapat membantu penelitian obat, mengolah informasi, mendukung pelayanan kefarmasian, dan membantu mahasiswa dalam pembelajaran.
Menurut WHO (2021), manusia tetap harus memiliki kendali terhadap sistem dan keputusan kesehatan. Bagi saya, inilah inti pemanfaatan AI dalam farmasi: AI seharusnya membantu manusia menjadi lebih baik, bukan membuat manusia berhenti berpikir.
Baca juga : Artificial Intelligence sebagai Pendukung Farmakovigilans
Teknologi dapat memberikan kecepatan, tetapi manusia memberikan pertimbangan. AI dapat mengolah data, tetapi manusia memberikan konteks. AI dapat memberikan prediksi, tetapi manusia tetap melakukan validasi.
Masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan AI, melainkan tentang bagaimana manusia dan AI dapat bekerja sama. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi dunia farmasi tetap membutuhkan sentuhan manusia karena obat bukan hanya tentang data dan teknologi, melainkan tentang manusia yang membutuhkan keamanan, kepercayaan, dan pelayanan yang bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Chalasani, S. H. (2023). Artificial intelligence in the field of pharmacy practice: A literature review. Exploratory Research in Clinical and Social Pharmacy, 12, 100346.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). AI Mulai Wujudkan Efisiensi Pelayanan Kesehatan Indonesia.
U.S. Food and Drug Administration. (2025). Artificial Intelligence for Drug Development.
Weidmann, A. E. (2024). Artificial intelligence in academic writing and clinical pharmacy education: Consequences and opportunities. International Journal of Clinical Pharmacy, 46, 751–754.
World Health Organization. (2021). Ethics and Governance of Artificial Intelligence for Health: WHO Guidance.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.