Dark/Light Mode

Adopsi AI dalam Pelayanan Kefarmasian: Dari Manual Menuju Otomatis

Kamis, 13 Agustus 2026 21:49 WIB
Ilustrasi transformasi pelayanan kefarmasian (Gambar dibuat dengan AI).
Ilustrasi transformasi pelayanan kefarmasian (Gambar dibuat dengan AI).

Bayangkan apotek rumah sakit pada jam sibuk: resep bertumpuk, petugas memeriksa satu per satu, sementara pasien menunggu obat. Ketika pelayanan sangat bergantung pada proses manual, pekerjaan menjadi lebih berat dan ruang bagi kesalahan manusia tetap ada.

Persoalannya adalah bagaimana teknologi membantu tenaga kefarmasian bekerja lebih aman dan berbasis data. Di sinilah Artificial Intelligence (AI) mulai mendapat perhatian. AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti apoteker.

Manual: Risiko yang Perlu Dikelola

Pelayanan kefarmasian memiliki banyak tahapan yang membutuhkan ketelitian, mulai dari pemeriksaan resep, penyiapan obat, hingga pemberian informasi kepada pasien. Salah satu persoalan penting adalah medication error. Kesalahan pengobatan dapat terjadi pada berbagai tahap dan memengaruhi keselamatan pasien. Tinjauan sistematis Alqahtani et al. (2025) menunjukkan bahwa kesalahan resep obat merupakan salah satu tantangan penting dalam pelayanan kesehatan dan menjadi area perhatian dalam pengembangan AI untuk farmasi klinis.

Persoalan juga dapat muncul pada tahap dispensing atau penyiapan dan penyerahan obat. Kompleksitas alur kerja serta kemiripan nama atau tampilan obat dapat menjadi bagian dari risiko dispensing error. Ouda et al. (2026) membahas AI sebagai bagian dari pendekatan sistem untuk mendukung keselamatan dan kualitas pelayanan serta membantu mengurangi risiko kesalahan dispensing.

AI sebagai Alat Bantu: Lebih Terarah dan Berbasis Data

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Ancaman atau Peluang bagi Generasi Apoteker?

AI menawarkan kemungkinan baru dalam mengelola informasi yang besar dan kompleks. Dalam praktik kefarmasian, AI dapat membantu menganalisis data pasien. Analisis tersebut berpotensi membantu mengidentifikasi interaksi obat, menilai keamanan dan efektivitas obat, serta mendukung rekomendasi sesuai kebutuhan pasien (Chalasani et al., 2023).

Literatur tersebut juga membahas aplikasi AI untuk mendeteksi adverse drug events, mendukung clinical decision support, mengotomatisasi dispensing, mengoptimalkan dosis, mengidentifikasi interaksi obat, dan mendukung kepatuhan pasien.

Namun, potensi teknologi tidak boleh disamakan dengan bukti bahwa AI pasti menghasilkan perbaikan dalam setiap kondisi pelayanan. Keberhasilannya bergantung pada kualitas data, validasi sistem, kompetensi pengguna, dan integrasinya dengan alur kerja.

Hal tersebut sejalan dengan studi bibliometrik Dino et al. (2025), yang menunjukkan meningkatnya perhatian penelitian terhadap penggunaan AI dalam konteks medication error. Karena itu merupakan analisis bibliometrik, hasilnya menggambarkan perkembangan penelitian, bukan bukti klinis bahwa AI pasti menurunkan medication error.

AI dan Perubahan Peran Apoteker

Adopsi AI dapat mengubah kompetensi yang dibutuhkan tenaga kefarmasian. Apoteker di masa depan tidak hanya dituntut memahami obat dan terapi, tetapi juga perlu memahami cara teknologi digunakan untuk mendukung pelayanan. Chalasani et al. (2023) menunjukkan bahwa AI dapat membantu analisis data pasien dan mendukung keputusan klinis berbasis informasi. Perkembangan ini mendorong profesi kefarmasian memperluas kompetensinya.

Baca juga : AI DI DUNIA FARMASI: MEMPERCEPAT INOVASI, TETAP MEMBUTUHKAN PERAN MANUSIA

Kesiapan sumber daya manusia menjadi bagian penting. Hasan et al. (2024) meneliti mahasiswa dan anggota fakultas farmasi di enam negara kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Sebanyak 92,6% responden pernah mendengar tentang AI, tetapi hanya 39,5% yang menyatakan memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep AI. Sikap terhadap AI positif, tetapi pengalaman menggunakan AI masih terbatas. Hanya 18,6% yang melaporkan pernah memperoleh pendidikan atau pelatihan mengenai AI.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran terhadap AI belum tentu sama dengan kemampuan menggunakannya. Pendidikan farmasi perlu memberi ruang lebih besar bagi literasi AI. Mahasiswa perlu memahami konsep dasar AI, keterbatasannya, keamanan data, dan etika penggunaannya.

Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat kemampuan bekerja bersama teknologi sebagai bagian dari kesiapan profesional.

Otomatisasi Tidak Berarti Menghilangkan Sentuhan Manusia

Optimisme terhadap AI tetap harus disertai sikap kritis. AI dapat membantu mengolah data dan mengenali pola, tetapi pelayanan kefarmasian tidak hanya terdiri atas data. Pasien memiliki kondisi, kebutuhan, kekhawatiran, kemampuan memahami informasi, dan keadaan sosial yang berbeda.

Karena itu, keputusan mengenai terapi dan penggunaan obat tidak seharusnya diserahkan begitu saja kepada algoritma. AI harus menjadi alat bantu bagi tenaga profesional, bukan pengganti penilaian klinis dan tanggung jawab profesional. Ouda et al. (2026) juga menempatkan AI sebagai bagian dari sistem pelayanan, bukan solusi tunggal yang berdiri sendiri.

Baca juga : PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM DUNIA FARMASI: ANTARA KEMAJUAN TEKNOLO

Penggunaan AI juga menuntut perhatian pada kualitas data, privasi, keamanan, transparansi, dan tanggung jawab. Karena itu, tenaga kefarmasian tetap perlu melakukan verifikasi dan penilaian profesional.

Masa Depan Pelayanan Kefarmasian

Transformasi dari manual menuju otomatis bukan berarti semua pekerjaan manusia harus digantikan mesin. Teknologi sebaiknya digunakan untuk membantu pekerjaan yang dapat diproses sistem, sementara tenaga profesional berfokus pada aspek yang membutuhkan penilaian, komunikasi, dan tanggung jawab.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa AI memiliki potensi dalam pelayanan kefarmasian, mulai dari analisis data pasien, identifikasi interaksi obat, dukungan pengambilan keputusan klinis, pendeteksian kejadian obat yang merugikan, hingga penguatan proses dispensing (Chalasani et al., 2023; Alqahtani et al., 2025). Perkembangan penelitian mengenai AI dan medication error juga terlihat dalam analisis bibliometrik Dino et al. (2025). Efektivitas AI tetap perlu dievaluasi pada lingkungan pelayanan yang berbeda.

Pada akhirnya, masa depan pelayanan kefarmasian bukan pertarungan antara manusia dan mesin, melainkan kolaborasi keduanya. Mesin dapat membantu mengolah data, mengenali pola, dan memberikan peringatan terhadap potensi masalah. Apoteker tetap berperan dalam menilai konteks klinis, berkomunikasi dengan pasien, mempertimbangkan manfaat dan risiko terapi, serta memastikan keputusan berorientasi pada keselamatan pasien.

Dari manual menuju otomatis, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat pelayanan lebih cepat. Tujuan yang lebih penting adalah membangun pelayanan kefarmasian yang lebih aman, terintegrasi, berbasis data, dan tetap berpusat pada manusia. Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi pelayanan kesehatan tetap membutuhkan pengetahuan, tanggung jawab, dan empati manusia.

Evi shinta
Evi shinta
Mahasiswa Farmasi Universitas Batam

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.