BREAKING NEWS
 

Menjadi Apoteker di Era AI: Siapkah Kita Beradaptasi Menuju Era Digital?

Writer : Viesca Nayla Chintya Bella
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 14 Agustus 2026 20:31 WIB
Ilustrasi apoteker di era AI. (Gambar dibuat dengan AI)

Artificial Intelligence atau AI saat ini bukan lagi sesuatu yang hanya ditemukan dalam film atau cerita tentang masa depan. Tanpa disadari, AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukan AI dalam mesin pencari, aplikasi pendidikan, media sosial, layanan kesehatan, hingga berbagai aplikasi yang membantu pekerjaan manusia. Perkembangan tersebut tentu juga mulai memberikan pengaruh terhadap dunia kesehatan, termasuk bidang farmasi.

Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat perkembangan AI sebagai sesuatu yang menarik sekaligus menantang. Di satu sisi, AI dapat memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar, penelitian, pengembangan obat, hingga pelayanan kefarmasian. Namun di sisi lain, penggunaan AI yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah, terutama jika manusia terlalu bergantung pada hasil yang diberikan oleh teknologi.

Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Apakah AI akan menggantikan apoteker?”, tetapi “Apakah apoteker siap bekerja bersama AI?”

AI dan Perubahan dalam Dunia Farmasi

Farmasi merupakan bidang yang sangat berkaitan dengan informasi dan data. Seorang apoteker harus memahami obat, dosis, efek samping, interaksi obat, kondisi pasien, serta berbagai informasi ilmiah yang terus berkembang. Banyaknya informasi tersebut membuat teknologi seperti AI memiliki peluang besar untuk membantu pekerjaan kefarmasian.

Bayangkan seorang apoteker harus memeriksa berbagai obat yang digunakan seorang pasien. Informasi mengenai dosis, aturan penggunaan, efek samping, kontraindikasi, dan kemungkinan interaksi obat harus diperhatikan dengan baik. Teknologi AI dapat membantu mengolah informasi dalam jumlah besar dengan lebih cepat. Dengan demikian, waktu dan tenaga apoteker dapat digunakan untuk hal yang lebih membutuhkan kemampuan manusia, seperti berkomunikasi dengan pasien dan memberikan edukasi mengenai penggunaan obat.

Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa AI seharusnya tidak dipandang sebagai pesaing apoteker. AI dapat menjadi alat bantu yang membuat pekerjaan menjadi lebih efisien, sementara keputusan akhir tetap membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan profesional seorang apoteker.

AI dalam Penemuan dan Pengembangan Obat

AI juga memiliki peluang besar dalam bidang penelitian dan pengembangan obat. Proses menemukan dan mengembangkan obat baru membutuhkan waktu yang panjang serta melibatkan analisis data dalam jumlah besar. AI dapat membantu peneliti mengidentifikasi pola dari data, memprediksi karakteristik senyawa, dan membantu menemukan kandidat obat yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA juga telah mengembangkan berbagai inisiatif mengenai penggunaan AI dalam pengembangan obat. FDA menyebutkan bahwa AI dapat digunakan dalam berbagai aspek pengembangan produk obat dan biologis, sekaligus menekankan pentingnya penggunaan AI yang dapat dipercaya dalam proses regulasi, penelitian, keamanan, efektivitas, dan kualitas obat.

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Kawan Diskusi, Bukan Pengganti Apoteker

Hal tersebut menunjukkan bahwa AI bukan hanya digunakan untuk membuat pekerjaan administratif menjadi lebih cepat. Teknologi ini juga berpotensi memengaruhi proses ilmiah yang lebih kompleks dalam dunia farmasi.

AI untuk Mahasiswa Farmasi

Menurut saya, pengaruh AI juga sangat terasa dalam dunia pendidikan farmasi. Sebagai mahasiswa, kita dapat menggunakan AI sebagai salah satu alat bantu untuk memahami materi yang sulit, mencari ide penelitian, membuat kerangka tulisan, atau menjelaskan suatu konsep dengan bahasa yang lebih sederhana.

Namun, penggunaan AI sebagai alat bantu belajar harus dilakukan dengan bijak. AI tidak selalu memberikan jawaban yang benar. Terkadang AI dapat memberikan informasi yang terlihat meyakinkan tetapi sebenarnya tidak sesuai dengan literatur. Dalam bidang farmasi, kesalahan informasi bukan merupakan masalah kecil karena ilmu yang dipelajari berkaitan langsung dengan obat dan kesehatan manusia.

Oleh karena itu, mahasiswa farmasi tidak boleh menjadikan AI sebagai satu-satunya sumber informasi. Jawaban dari AI harus dibandingkan dengan buku, jurnal ilmiah, pedoman resmi, farmakope, dan sumber terpercaya lainnya.

Bagi saya, kemampuan paling penting di era AI bukan sekadar kemampuan menggunakan AI, tetapi kemampuan untuk memeriksa apakah informasi yang diberikan AI benar atau tidak. Mahasiswa farmasi harus tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan memahami dasar-dasar ilmu yang dipelajarinya.

Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?

Adsense

Pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu kekhawatiran terbesar ketika membicarakan AI dalam dunia farmasi. Jika AI mampu menganalisis data dengan cepat, memberikan informasi obat, bahkan membantu mengambil keputusan, apakah nantinya apoteker tidak lagi dibutuhkan? Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

Baca juga : Dari 10 Tahun Jadi Hitungan Hari: Revolusi AI dalam Mempercepat Penemu Obat Baru

AI dapat memproses data, tetapi pelayanan kefarmasian tidak hanya berkaitan dengan data. Apoteker berhadapan langsung dengan manusia. Pasien dapat merasa takut, bingung, tidak memahami aturan penggunaan obat, atau memiliki kebiasaan tertentu yang harus diketahui sebelum memberikan rekomendasi. Kemampuan berkomunikasi, memahami kondisi pasien, memberikan empati, dan mempertimbangkan situasi secara menyeluruh merupakan aspek yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh sebuah sistem AI.

Apoteker Masa Depan Harus Bisa Beradaptasi

Menurut saya, masa depan profesi apoteker bukanlah tentang memilih antara manusia atau AI. Keduanya justru dapat bekerja bersama.

Apoteker masa depan harus memiliki dua kemampuan sekaligus: kemampuan profesional dalam bidang farmasi dan kemampuan memahami teknologi. Kita tidak harus menjadi programmer untuk dapat menggunakan AI, tetapi kita perlu memahami cara kerja dasar AI, manfaatnya, keterbatasannya, serta risiko penggunaannya.

AI dapat membantu pekerjaan yang bersifat rutin dan membutuhkan pengolahan data dalam jumlah besar. Sementara itu, apoteker dapat lebih fokus pada aspek yang membutuhkan penilaian profesional, komunikasi, edukasi, dan hubungan dengan pasien.

Saya percaya bahwa apoteker yang mampu memanfaatkan teknologi dengan tetap mempertahankan kemampuan klinis dan nilai kemanusiaannya akan memiliki posisi yang kuat di masa depan.

Kesimpulan

AI merupakan salah satu perkembangan teknologi yang tidak dapat dihindari. Dunia farmasi juga akan terus mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya teknologi tersebut. AI memiliki potensi untuk membantu berbagai kegiatan, mulai dari pendidikan, penelitian, pengembangan obat, pengelolaan terapi, hingga pelayanan kefarmasian.

Baca juga : Pemanfaatan AI di Dunia Farmasi: Membantu Manusia, Bukan Menggantikannya

Namun, AI bukanlah pengganti apoteker. AI seharusnya menjadi alat yang membantu apoteker bekerja lebih efektif dan efisien. Penggunaannya harus tetap disertai pengawasan manusia, pertimbangan profesional, verifikasi informasi, perlindungan data pasien, serta penerapan prinsip etika.

Sebagai mahasiswa farmasi, saya melihat perkembangan AI bukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sebagai tantangan untuk terus belajar dan beradaptasi. Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi, tetapi kita dapat menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Pada akhirnya, apoteker masa depan bukanlah apoteker yang melawan AI, melainkan apoteker yang mampu bekerja bersama AI tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi keputusan yang menyangkut kesehatan manusia tetap membutuhkan tanggung jawab, empati, dan pertimbangan seorang profesional.

Daftar pustaka

World Health Organization. (2021). Ethics and governance of artificial intelligence for health: WHO guidance. World Health Organization. 

World Health Organization. (2024). Regulatory considerations on artificial intelligence for health. World Health Organization. 

International Pharmaceutical Federation. (2025). An artificial intelligence toolkit for pharmacy: An introduction and resource guide for pharmacists. FIP. 

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense