Resistensi antimikroba merupakan salah satu masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian di dunia. Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit sudah kebal dengan obat antimikroba. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko komplikasi, kematian, serta biaya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, resistensi antimikroba menjadi salah satu ancaman penting bagi kesehatan masyarakat di dunia (WHO, 2024).
Masalah resistensi antimikroba tidak hanya disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat. Lingkungan juga memiliki peran dalam muncul dan menyebarnya mikroorganisme yang resisten. Lingkungan dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri, gen resistensi, dan berbagai zat yang memberikan tekanan terhadap mikroorganisme. Karena itu, pengendalian resistensi antimikroba perlu dilakukan dengan memperhatikan hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan melalui pendekatan One Health (Martak et al., 2024).
Salah satu bagian lingkungan yang perlu diperhatikan adalah limbah obat dari rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat memiliki obat yang tersisa setelah pengobatan selesai atau obat yang sudah kedaluwarsa. Obat tersebut masih sering dibuang bersama sampah rumah tangga atau melalui saluran air. Penelitian menunjukkan bahwa praktik pembuangan obat rumah tangga yang tidak tepat masih menjadi masalah di berbagai negara dan dapat menyebabkan masuknya residu obat ke lingkungan (Hiew & Low, 2024).
Masyarakat terkadang membuang obat yang tidak digunakan ke tempat sampah, wastafel, toilet, atau saluran pembuangan karena belum mengetahui cara pembuangan yang benar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan limbah obat masih perlu ditingkatkan. Selain itu, kurangnya fasilitas untuk mengembalikan obat yang sudah tidak digunakan juga dapat menjadi salah satu hambatan dalam melakukan pembuangan obat secara aman (Hiew & Low, 2024).
Baca juga : Hubungan Kualitas Tidur dengan Tingkat Kelelahan pada Mahasiswa
Limbah obat yang dibuang secara tidak tepat dapat masuk ke lingkungan melalui air limbah maupun tempat pembuangan sampah. Residu obat kemudian dapat ditemukan di tanah, air permukaan, air tanah, dan lingkungan lainnya. Jika terdapat senyawa antimikroba dalam lingkungan pada konsentrasi tertentu, senyawa tersebut dapat memberikan tekanan terhadap mikroorganisme dan berpotensi mendukung bertahannya bakteri yang resisten. Namun, limbah rumah tangga bukan satu-satunya penyebab resistensi antimikroba karena masalah ini dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya (UNEP, 2023).
Hubungan antara lingkungan dan resistensi antimikroba dapat dipahami melalui konsep One Health. Pendekatan ini melihat bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan saling berhubungan. Limbah rumah tangga, limbah pelayanan kesehatan, limbah peternakan, serta limbah industri dapat menjadi bagian dari jalur masuknya zat antimikroba dan mikroorganisme resisten ke lingkungan. Oleh karena itu, pengendalian resistensi antimikroba membutuhkan kerja sama dari berbagai sektor (UNEP, 2023).
Dampak resistensi antimikroba terhadap kesehatan masyarakat dapat menjadi serius. Ketika obat antimikroba tidak lagi bekerja secara efektif, infeksi menjadi lebih sulit ditangani sehingga pasien dapat membutuhkan pengobatan yang lebih lama dan lebih kompleks. Resistensi antimikroba juga dapat membuat tindakan medis seperti operasi dan pengobatan kanker menjadi lebih berisiko karena infeksi yang terjadi akan lebih sulit dikendalikan (WHO, 2024).
Selain berdampak pada kesehatan individu, resistensi antimikroba juga dapat meningkatkan beban ekonomi masyarakat dan sistem kesehatan. Pengobatan yang lebih lama dapat menyebabkan meningkatnya biaya pelayanan kesehatan dan berkurangnya produktivitas seseorang. Oleh karena itu, pencegahan resistensi antimikroba tidak hanya penting untuk melindungi kesehatan masyarakat saat ini, tetapi juga untuk menjaga efektivitas obat antimikroba di masa yang akan datang (WHO, 2024).
Baca juga : DBD Mengintai: Pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk di Lingkungan Rumah
Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan masyarakat dalam menggunakan dan membuang obat. Antibiotik sebaiknya digunakan sesuai resep dan petunjuk tenaga kesehatan serta tidak digunakan secara sembarangan. Obat yang sudah tidak digunakan atau kedaluwarsa juga tidak sebaiknya langsung dibuang ke toilet, saluran air, atau lingkungan. Pengelolaan obat yang tepat dapat membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat residu obat (Kementerian Kesehatan, 2024).
Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mengatasi masalah limbah obat rumah tangga. Penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai cara membuang obat yang aman. Karena itu, tenaga kesehatan dan pemerintah perlu memberikan informasi yang mudah dipahami mengenai penggunaan obat secara bijak dan cara pembuangan obat yang benar (Hiew & Low, 2024).
Program pengembalian obat atau take-back program juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu masyarakat membuang obat yang sudah tidak digunakan. Selain itu, pemberian edukasi oleh tenaga kesehatan, penyediaan fasilitas pengumpulan obat, dan peningkatan keterlibatan apoteker dapat membantu memperbaiki perilaku masyarakat dalam mengelola limbah obat rumah tangga (Alfian et al., 2024).
Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, memahami resistensi antimikroba tidak hanya berkaitan dengan penyakit dan pengobatan, tetapi juga dengan perilaku masyarakat dan kondisi lingkungan. Kebiasaan menggunakan antibiotik secara tepat, tidak menggunakan obat tanpa petunjuk tenaga kesehatan, serta membuang obat dengan cara yang benar merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat. Dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, risiko pencemaran lingkungan dan penyebaran resistensi antimikroba dapat ditekan sehingga kesehatan manusia dan lingkungan dapat lebih terlindungi (WHO, 2024).
Baca juga : Bukan Hanya Fisik, Kesehatan Mental Remaja Juga Perlu Dijaga
Artikel ini ditulis oleh Raisya Hafidzah Simatupang, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si., Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.