Begitu pagi tiba, banyak dari kita langsung mencari ponsel. Kita cek pesan, buka media sosial, lihat notifikasi, dan tanpa sadar waktu habis untuk menggulir layar. Saat lapar, tinggal pesan makanan tanpa perlu keluar rumah. Kalau butuh sesuatu, cukup buka aplikasi belanja. Belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, bahkan bekerja, semua bisa dilakukan lewat satu perangkat. Inilah hidup di era digital yang serba cepat dan mudah.
Tidak bisa dipungkiri, teknologi membawa banyak kemudahan. Informasi bisa didapat dalam hitungan detik, komunikasi tidak lagi terhalang jarak, dan berbagai kebutuhan bisa diselesaikan hanya dengan beberapa sentuhan. Namun, di balik semua kenyamanan ini, muncul pertanyaan: saat semuanya menjadi lebih mudah, apakah hidup kita juga menjadi lebih sehat?
Teknologi yang terus berkembang perlahan mengubah kebiasaan kita sehari-hari. Dulu, kalau ingin membeli makanan atau barang, kita harus keluar rumah. Sekarang, semuanya bisa diantar sampai depan pintu lewat layanan pesan antar. Pertemuan yang dulu harus dilakukan secara tatap muka, sekarang bisa dilakukan lewat layar.
Semua kemudahan ini memang membantu. Namun, jika hampir semua aktivitas dilakukan sambil duduk, tubuh menjadi semakin jarang bergerak. Kurangnya aktivitas fisik telah menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat secara global, terutama karena semakin banyak aktivitas sehari-hari yang dilakukan dengan sedikit gerakan tubuh (WHO, 2024). Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat mendorong gaya hidup sedentari, yaitu perilaku dengan pengeluaran energi yang rendah ketika seseorang duduk atau berbaring dalam keadaan terjaga (WHO, 2024).
Baca juga : Bali Darurat Rabies, DPR Desak Pemerintah Turun Tangan
Padahal, aktivitas fisik yang teratur memberikan manfaat penting bagi kesehatan tubuh dan membantu mencegah berbagai penyakit tidak menular (WHO, 2024). WHO merekomendasikan anak-anak dan remaja untuk melakukan rata-rata setidaknya 60 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat setiap hari (WHO, 2024).
Bergerak tidak harus selalu berarti melakukan olahraga berat. Jalan kaki ke tempat yang dekat, memilih naik tangga, membersihkan rumah, melakukan peregangan setelah duduk lama, atau olahraga ringan dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat tubuh tetap aktif. Bahkan aktivitas fisik dalam jumlah tertentu tetap lebih baik dibandingkan tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali (WHO, 2024). Di tengah kemudahan teknologi, kebiasaan kecil seperti ini penting agar tubuh tidak sepenuhnya terbiasa dengan kehidupan yang minim gerak.
Teknologi juga mengubah cara kita mendapatkan makanan. Cukup membuka aplikasi, kita bisa memesan berbagai makanan dan minuman kapan saja. Promo, diskon, dan layanan antar membuat berbagai pilihan makanan semakin mudah dijangkau. Perkembangan lingkungan pangan dan perubahan gaya hidup turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat, termasuk meningkatnya konsumsi makanan yang telah banyak diproses (WHO, 2026). Masalahnya, sesuatu yang mudah didapat juga mudah menjadi kebiasaan. Kadang kita memilih makanan karena rasanya, harganya, atau karena cepat, tanpa terlalu memikirkan kandungan yang masuk ke dalam tubuh.
Sesekali mengonsumsi makanan cepat saji tentu bukan berarti kita langsung menjalani pola hidup tidak sehat. Namun, jika terlalu sering dan tidak diimbangi dengan pola makan yang baik, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi kesehatan. Pola makan sehat perlu memperhatikan kecukupan, keseimbangan, keberagaman, dan konsumsi secara moderat (WHO, 2026).
Baca juga : Menjaga Kesehatan Mata di Era Layar Digital
WHO juga menyebut pola makan tidak sehat sebagai salah satu faktor risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit jantung, diabetes, dan kanker (WHO, 2026). Konsumsi gula bebas, garam, serta jenis lemak tertentu juga perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan sehat (WHO, 2026). Karena itu, tubuh tetap membutuhkan makanan yang beragam dan bergizi serta pola makan yang teratur. Teknologi memang memudahkan kita mendapatkan makanan, tetapi pilihan mengenai apa yang kita konsumsi tetap berada di tangan kita.
Selain pola makan dan aktivitas fisik, waktu istirahat juga menjadi tantangan di era digital. Pernah niatnya hanya membuka media sosial selama lima menit sebelum tidur, tetapi tahu-tahu sudah satu jam berlalu. Hal seperti ini memang terlihat sepele, tetapi mudah sekali menjadi kebiasaan. Video pendek, game, film, dan media sosial selalu tersedia untuk dilihat. Tubuh sudah lelah, tetapi mata masih menatap layar. Akibatnya, waktu tidur dapat berkurang karena kita terus berkata, “sebentar lagi”.
Penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja juga dikaitkan dengan waktu tidur yang lebih sedikit dan jam tidur yang lebih larut (WHO Regional Office for Europe, 2024). Data WHO juga menunjukkan peningkatan penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022 (WHO Regional Office for Europe, 2024). Oleh karena itu, membatasi penggunaan ponsel, terutama menjelang tidur, dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu menjaga waktu istirahat.
Meski demikian, teknologi tidak selalu menjadi musuh bagi hidup sehat. Justru jika digunakan dengan tepat, teknologi dapat membantu kita menjaga kesehatan. Teknologi kesehatan digital dapat mendukung promosi kesehatan, pencegahan penyakit, serta membantu masyarakat memperoleh dan menggunakan informasi maupun layanan kesehatan (WHO, 2021). Ponsel juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas kesehatan, misalnya melalui aplikasi yang membantu memantau aktivitas fisik atau memberikan informasi terkait kesehatan. Artinya, persoalannya bukan hanya terletak pada seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi juga bagaimana kita menggunakannya.
Baca juga : Air Putih Sering Dilupakan, Padahal Penting bagi Tubuh
Kita tidak perlu meninggalkan dunia digital untuk menjadi sehat. Yang diperlukan adalah kemampuan menciptakan keseimbangan antara menikmati kemudahan teknologi dan tetap memenuhi kebutuhan tubuh. Dunia mungkin akan terus menjadi semakin cepat, praktis, dan digital. Namun, kesehatan tidak dapat diperoleh hanya dengan satu sentuhan layar. Hidup sehat tetap membutuhkan proses, kesadaran, dan kebiasaan yang dijalankan secara konsisten. Jadi, di tengah kehidupan yang serba instan dan serba digital, pertanyaannya bukan hanya “ke mana perginya hidup sehat?”, tetapi juga “masihkah kita menyediakan waktu untuk menjaganya?”
Artikel ini ditulis oleh Makayla Aisyah, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.