Kesepian sering dianggap sebagai keadaan ketika seseorang tidak memiliki teman atau berada sendirian. Padahal, seseorang dapat merasa kesepian meskipun berada di tengah banyak orang. Seorang mahasiswa dapat merasa sendiri di dalam kelas yang penuh, seseorang dapat merasa asing di lingkungan keluarganya, bahkan seseorang yang aktif di media sosial dapat tetap merasakan kekosongan dalam dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa kesepian bukan sekadar persoalan jumlah orang di sekitar kita, melainkan berkaitan dengan kualitas hubungan dan perasaan seseorang terhadap lingkungan sosialnya. Ketika kebutuhan untuk dipahami, didengarkan, dan diterima tidak terpenuhi, keramaian sekalipun belum tentu mampu menghilangkan rasa sepi.
Perkembangan teknologi dan media sosial turut mengubah cara manusia berinteraksi. Saat ini, berkomunikasi dengan orang lain dapat dilakukan hanya melalui layar tanpa harus bertemu secara langsung. Media sosial memang dapat membantu seseorang tetap terhubung dengan teman atau keluarga yang berada jauh, tetapi interaksi digital tidak selalu memberikan kedekatan emosional yang sama dengan hubungan secara langsung. Ironisnya, semakin banyak seseorang melihat kehidupan orang lain melalui media sosial, semakin mudah pula muncul perasaan tertinggal, tidak cukup baik, atau tidak memiliki kehidupan seperti orang lain. Karena itu, banyaknya jumlah pengikut, teman, atau pesan yang diterima tidak dapat dijadikan ukuran bahwa seseorang benar-benar terbebas dari kesepian.
Baca juga : Ketika Hijau Menghilang: Ancaman bagi Kehidupan Manusia
Kesepian yang berlangsung terus-menerus tidak seharusnya dianggap sebagai masalah sepele. Perasaan terisolasi dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang dan membuatnya lebih mudah mengalami stres, kecemasan, atau kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Seseorang yang merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita juga mungkin memilih memendam masalahnya sendiri. Jika keadaan tersebut berlangsung dalam waktu lama, hubungan sosial dapat semakin menjauh karena seseorang mulai menghindari interaksi dengan orang lain. Oleh sebab itu, kesepian perlu dipandang sebagai salah satu persoalan kesehatan yang membutuhkan perhatian, bukan sekadar keadaan emosional yang harus ditanggung sendirian.
Mengatasi kesepian tidak selalu berarti harus memiliki banyak teman. Hubungan yang bermakna dengan satu atau beberapa orang dapat memberikan rasa diterima dan dipahami yang jauh lebih penting. Berbicara secara terbuka dengan keluarga, teman, dosen, guru, atau orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi perasaan terisolasi. Selain itu, bergabung dalam kegiatan sosial, organisasi, komunitas, atau aktivitas yang sesuai dengan minat dapat membuka kesempatan untuk membangun hubungan baru. Yang tidak kalah penting adalah belajar menyadari bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Ketika kesepian mulai mengganggu kehidupan sehari-hari secara serius, mencari bantuan profesional juga merupakan pilihan yang wajar.
Baca juga : Krisis Air Bersih, Saatnya Kesehatan Menjadi Prioritas
Pada akhirnya, kesepian merupakan persoalan yang dapat dialami siapa saja, termasuk mereka yang terlihat paling bahagia dan memiliki banyak teman. Karena itu, masyarakat perlu berhenti menilai kondisi seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Terkadang, perhatian sederhana seperti menanyakan kabar dengan sungguh-sungguh, mendengarkan tanpa menghakimi, atau mengajak seseorang berbicara dapat memiliki arti yang besar. Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh yang bebas dari penyakit, tetapi juga dengan kemampuan seseorang untuk merasa aman, terhubung, dan memiliki dukungan sosial. Di tengah dunia yang semakin ramai, mungkin yang paling dibutuhkan bukan semakin banyak orang di sekitar kita, melainkan hubungan yang membuat kita benar-benar merasa tidak sendirian.
Artikel ini ditulis oleh Salsabila Siregar, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadillah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.