BREAKING NEWS
 

Sampah Menumpuk, DBD Mengancam

Writer : IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 11 Oktober 2026 21:03 WIB
Ilustrasi pencegahan DBD. (Gambar dibuat dengan AI)

Di berbagai sudut permukiman padat, pemandangan tumpukan sampah masih menjadi hal yang lumrah. Bau tidak sedap dan pemandangan kumuh seringkali menjadi keluhan utama. Namun ancaman yang lebih besar dari sekadar estetika adalah dampaknya terhadap kesehatan, khususnya sebagai pemicu meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Hubungan antara sampah dan DBD sering kali tidak disadari. Padahal keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD memiliki perilaku berkembang biak yang khas. Nyamuk ini tidak bertelur di got yang kotor dan hitam, melainkan di genangan air jernih yang tertampung dalam wadah-wadah kecil di sekitar manusia.

Di sinilah peran sampah menjadi krusial. Sampah anorganik seperti botol plastik bekas, kaleng minuman, gelas plastik, bungkus makanan, ban bekas, hingga potongan styrofoam adalah wadah yang sangat ideal. Ketika musim hujan, sampah-sampah tersebut berserakan di halaman, di atas atap, di selokan, dan di lahan kosong, kemudian menampung air hujan. Dalam waktu kurang dari seminggu, genangan itu sudah dipenuhi jentik-jentik Aedes aegypti..

Baca juga : JakAntro Dukung Digitalisasi Pelayanan Smart Posyandu di Jakarta

Menurut World Health Organization (WHO, 2024), dengue merupakan penyakit infeksi virus yang penularannya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mobilitas penduduk, dan perubahan iklim. Keberadaan tempat perindukan buatan manusia menjadi salah satu determinan utama tingginya kasus. Artinya, semakin banyak sampah yang tidak terkelola, semakin tinggi pula risiko penularan.

Di Indonesia, persoalan ini diperparah oleh dua hal. Pertama, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memilah dan membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan membuang sampah ke selokan atau membiarkannya menumpuk di belakang rumah masih sering terjadi. Kedua, sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir yang belum optimal. Keterbatasan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), armada pengangkut yang tidak rutin, serta belum berjalannya program pemilahan sampah di tingkat rumah tangga membuat sampah menumpuk lebih lama di lingkungan.

Adsense

Penting untuk dipahami bahwa sampah tidak secara langsung menyebabkan DBD. DBD hanya ditularkan melalui gigitan nyamuk _Aedes aegypti_ betina yang terinfeksi virus dengue. Namun sampah yang menumpuk adalah faktor risiko yang menyediakan tempat bagi nyamuk tersebut untuk berkembang biak secara masif. Oleh karena itu, pengelolaan sampah merupakan bagian tak terpisahkan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Baca juga : Cermat Pilih Makanan: Cara Efektif Jaga Kesehatan

Upaya pencegahan tidak bisa dilakukan sepihak. Diperlukan kolaborasi.

Dari sisi masyarakat, Gerakan 3M Plus harus kembali dihidupkan maknanya. Menguras bak mandi, Menutup rapat tempat penampungan air, dan Mendaur ulang barang bekas harus disertai dengan Plus mengelola sampah dengan benar. Memilah sampah organik dan anorganik, memastikan tidak ada sampah yang dapat menampung air dibiarkan terbuka, serta aktif dalam kerja bakti membersihkan lingkungan adalah kunci. Peran kader Jumantik (Juru Pemantau Jentik) di tingkat RT/RW juga harus dioptimalkan untuk melakukan pemeriksaan jentik berkala.

Dari sisi pemerintah, tanggung jawabnya adalah menyediakan infrastruktur pendukung. Masyarakat akan sulit menjaga kebersihan jika TPS tidak tersedia atau sampah tidak diangkut berminggu-minggu. Pemerintah daerah perlu menjamin layanan pengangkutan sampah yang terjadwal, menyediakan fasilitas pemilahan, serta melakukan edukasi kesehatan lingkungan yang berkelanjutan melalui Puskesmas.

Baca juga : Sampah Menumpuk, DBD Mengancam

Melawan DBD bukan hanya soal fogging atau mengobati pasien di rumah sakit. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tidak membunuh jentik dan telurnya. Pencegahan yang paling efektif dan berkelanjutan adalah dengan memutus siklus hidup nyamuk sejak awal, yaitu dengan tidak memberi mereka tempat untuk lahir. Pengelolaan sampah adalah investasi kesehatan. Lingkungan yang bersih bukan hanya nyaman dipandang, tetapi juga melindungi kita semua dari ancaman penyakit yang dapat dicegah.

Artikel ini ditulis oleh Makayla Aisyah, Luthfia Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense