Minuman manis kini menjadi bagian dari gaya hidup sebagian remaja. Berbagai jenis minuman, seperti teh kemasan, kopi susu, minuman bersoda, dan minuman kekinian dengan tambahan gula, mudah ditemukan di lingkungan sekolah, pusat perbelanjaan, hingga sekitar kampus. Rasanya yang manis, harganya yang terjangkau, serta promosi menarik membuat minuman tersebut semakin digemari.
Namun, di balik kenikmatannya, konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. Menurut World Health Organization (WHO, 2015), konsumsi gula bebas sebaiknya dibatasi hingga kurang dari 10% total asupan energi harian. Pengurangan hingga di bawah 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Anjuran ini menunjukkan pentingnya memperhatikan jumlah gula yang dikonsumsi, terutama melalui minuman kemasan.
Konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan remaja. Salah satu risikonya adalah peningkatan berat badan yang tidak sehat karena minuman berpemanis dapat menambah asupan energi tanpa memberikan rasa kenyang seperti makanan padat.
Baca juga : Pencegahan Penyakit Dimulai dari Kesadaran Hidup Sehat Masyarakat
Penelitian Malik dan Hu (2022) menjelaskan bahwa konsumsi minuman berpemanis gula berkaitan dengan peningkatan risiko kenaikan berat badan, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Meskipun beberapa penyakit tersebut lebih sering muncul pada usia dewasa, kebiasaan konsumsi gula yang terbentuk sejak remaja dapat berlanjut hingga kemudian hari. Selain itu, konsumsi gula berlebihan juga berkaitan dengan kesehatan gigi. WHO (2015) menyatakan bahwa pembatasan gula bebas berperan penting dalam mengurangi risiko karies gigi. Oleh karena itu, kebiasaan mengonsumsi minuman manis setiap hari perlu mendapat perhatian.
Tingginya konsumsi minuman manis tidak terlepas dari pengaruh lingkungan. Promosi melalui media sosial, kemasan menarik, dan berbagai pilihan rasa dapat meningkatkan ketertarikan remaja untuk membeli minuman berpemanis. Di sisi lain, kurangnya pemahaman mengenai kandungan gula membuat sebagian remaja tidak menyadari jumlah gula yang dikonsumsi. Satu minuman dapat mengandung beberapa sendok teh gula, bergantung pada ukuran dan komposisinya.
Kementerian Kesehatan (2013) menetapkan anjuran pembatasan konsumsi gula sebanyak 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Batas tersebut perlu diperhatikan dengan menghitung gula dari berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi.
Baca juga : Kesehatan Pencernaan sebagai Kunci Kesehatan Tubuh
Pencegahan konsumsi gula berlebihan membutuhkan peran keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan. Orang tua dapat membiasakan penyediaan air putih, sedangkan sekolah dapat meningkatkan edukasi gizi serta menyediakan pilihan minuman yang lebih sehat.
Remaja juga perlu membiasakan membaca label informasi nilai gizi, memperhatikan takaran saji, dan mengurangi frekuensi pembelian minuman berpemanis. Pada akhirnya, minuman manis bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi konsumsinya perlu dibatasi. Membangun kebiasaan memilih minuman yang lebih sehat sejak remaja merupakan langkah penting untuk mencegah masalah kesehatan pada masa mendatang.
Artikel ini ditulis oleh Machika Putri Indriyani, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.