Dark/Light Mode

Dari Karawang ke Sigi: Listrik Menyalakan Asa dan Ekonomi Desa

Selasa, 3 November 2026 20:59 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia (kedua dari kiri) didampingi Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno (kiri) dan Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra (ketiga dari kiri) berdialog dengan Ono Taryono (ketiga dari kanan) dan istrinya, Diana (kanan) salah satu keluarga penerima manfaat Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Dusun Prau Bosok, Desa Muar Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Kamis (15/10). (Foto: Dok. PLN)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia (kedua dari kiri) didampingi Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno (kiri) dan Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra (ketiga dari kiri) berdialog dengan Ono Taryono (ketiga dari kanan) dan istrinya, Diana (kanan) salah satu keluarga penerima manfaat Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Dusun Prau Bosok, Desa Muar Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Kamis (15/10). (Foto: Dok. PLN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Puluhan tahun lamanya, tatkala surya beranjak pamit di balik cakrawala Desa Muara Baru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, rasa cemas yang sama selalu menyelimuti benak Ono Taryono.

Di rumah sederhananya di Dusun Prau Bosok, kebebasan menikmati cahaya adalah barang mewah. Demi menyalakan sebutir bohlam agar anak-anaknya bisa membaca buku sekolah, Ono harus "menumpang" sambungan kabel dari tetangga.

Itu pun tak bebas; energi tumpangan tersebut hanya boleh menyala samar sejak pukul enam sore dan harus padam kembali saat fajar menyingsing. Anak-anaknya kerap memeluk pensil dalam temaram, dibayangi rasa takut dan keterbatasan.

Namun, Kamis pertengahan Oktober 2026, lembar sejarah kelam itu resmi ditutup. Sakelar di dinding rumah Ono ditekan, dan seketika ruangan tengahnya benderang terang. Lewat Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) berdaya 900 VA, lengkap dengan Sertifikat Laik Operasi (SLO) serta token perdana, Ono tak perlu lagi menumpang asa pada kabel tetangga.

"Dulu saya menumpang listrik ke tetangga, hanya bisa dari jam 6 sore sampai pagi. Anak-anak kesulitan belajar karena gelap dan takut," kenang Ono dengan mata berkaca-kaca.

"Sekarang, dengan ada listrik sendiri di rumah, mereka bisa belajar dengan jauh lebih nyaman." Kisah Ono di Dusun Prau Bosok bukanlah cerita tunggal.

Di dusun pesisir Karawang itu, pembangunan Program Listrik Desa (Lisdes) meluncurkan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 0,549 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 0,91 kms, dan satu gardu distribusi 50 kVA untuk menyapa 62 keluarga yang selama ini terisolasi dari peradaban cahaya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia (ketiga dari kiri) didampingi Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno (kiri) dan Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra (kedua dari kiri) saat meresmikan sambungan listrik BPBL di salah satu rumah warna penerima manfaat di Dusun Prau Bosok, Desa Muara Baru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada Kamis (15/10/2026). (Foto: Dok. PLN)

Merajut Keadilan Sosial dari Garis Depan Elektrifikasi

Pemerataan akses energi di pelosok Karawang ini menjadi potret nyata dari sinergi kuat antara Pemerintah dan PT PLN (Persero).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa hadirnya negara hingga ke dusun terpencil adalah amanat langsung dari pengejawantahan Sila Kelima Pancasila tentang keadilan sosial.

"Pemerintah hadir agar semua desa dan dusun wajib mendapatkan hak yang sama, yaitu manfaat pelayanan listrik. Listrik ini adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," tegas Bahlil saat meresmikan sambungan BPBL di Karawang, Kamis (15/10/2026).

Komitmen tersebut dibuktikan PLN secara nyata di lapangan.

Baca juga : Dukung Bahlil, Jamaludin Malik: Ekspor SDA Harus Langsung ke Negara Tujuan

Sepanjang tahun 2025, PLN telah mengeksekusi Lisdes di 210 lokasi di Jawa Barat dengan membangun JTM sepanjang 46,82 kms, JTR 182,78 kms, serta gardu distribusi berkapasitas total 3.700 kilovolt-ampere (kVA) yang melayani 6.392 rumah tangga.

Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra, memastikan bahwa percepatan penyambungan ini disokong oleh keandalan Sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) yang kokoh.

“PLN siap menjalankan amanah pemerintah untuk menghadirkan listrik hingga ke dusun-dusun yang belum terjangkau. Kami memastikan proses penyambungan berjalan lancar, didukung pasokan yang aman dan cadangan daya yang memadai,” ungkap Edwin.

Menanggapi ekspansi masif ini, Pengamat Ketahanan Energi, Feiral Rizky Batubara, memandang bahwa pemerataan akses listrik merupakan instrumen paling mendasar dalam pengentasan kemiskinan dan pencapaian keadilan sosial.

"Listrik bukan sekadar infrastruktur, tetapi enabler pembangunan manusia dan ekonomi. Dengan adanya akses listrik, anak-anak memiliki kesempatan belajar lebih baik, masyarakat dapat mengakses teknologi digital, dan aktivitas ekonomi rumah tangga menjadi lebih produktif," ujar Feiral dalam wawancara secara tertulis kepada Rakyat Merdeka, Selasa (3/11/2026).

Namun, ia mengingatkan bahwa elektrifikasi tidak otomatis menghapus kemiskinan. Program Listrik Desa dan BPBL perlu berjalan beriringan dengan pengembangan UMKM, pertanian, perikanan, pendidikan, dan layanan kesehatan agar listrik benar-benar terkonversi menjadi produktivitas ekonomi nyata.

Suasana saat petugas PLN melayani pelanggan dalam proses pembayaran listrik di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (16/10/2026). Kolaborasi yang dibangun oleh PLN dengan KDKMP guna memperkuat ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. 

Dari Terang Rumah Menuju Denyut Koperasi Desa

Pemerataan energi nyatanya tidak berhenti di ambang pintu rumah warga. Dari terang lampu di Dusun Prau Bosok, denyut kemandirian bergerak menuju penguatan ekonomi kerakyatan di pedesaan Jawa Barat melalui integrasi layanan listrik di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Di KDKMP Citaman Nagreg, Bojongloa Rancaekek, Cangkuang Wetan Dayeuhkolot, dan Padalarang, warga kini tak perlu lagi menempuh jarak jauh sekadar untuk membeli token atau membayar tagihan listrik.

PLN menggandeng KDKMP melalui jaringan transaksi berbasis Payment Point Online Bank (PPOB).

Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, mengapresiasi terobosan ini sebagai langkah strategis memperkuat fungsi koperasi desa.

"KDKMP bukan sekadar toko retail, melainkan infrastruktur pemerintah untuk menyalurkan bantuan dan barang bersubsidi. Kehadiran transaksi kelistrikan PLN memperluas jangkauan pelayanan publik di desa," ujar Bima Arya saat meninjau lokasi, Jumat (16/10/2026).

Baca juga : Pemerintah Tak Akan Ekspor Listrik

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menggalakkan ekonomi berbasis akar rumput, Direktur Retail dan Niaga PLN, M. Fahrur Rozy, menegaskan bahwa PLN all out mendukung kemandirian koperasi.

"Kolaborasi ini memberikan pendapatan tambahan (fee-based income) bagi koperasi sekaligus membantu warga yang belum terbiasa dengan transaksi digital. Ini adalah wujud nyata dukungan PLN terhadap kemandirian ekonomi desa," jelas Fahrur Rozy.

Bagi Kepala Desa Cangkuang Wetan, Asep Kusmiadi, kemudahan akses energi yang menyatu dengan pusat ekonomi desa adalah bentuk efisiensi yang dirasakan langsung oleh warganya.

"Masyarakat makin mudah memenuhi kebutuhan pokok sekaligus mengakses layanan kelistrikan dalam satu tempat," tuturnya.

Terkait model kolaborasi ini, Feiral Rizky Batubara menilai pelibatan KDKMP sebagai mitra layanan transaksi kelistrikan merupakan langkah positif untuk mendekatkan energi sekaligus memperkuat ekonomi desa.

"Selama ini masyarakat desa lebih banyak ditempatkan sebagai konsumen energi. Padahal, mereka juga berpotensi menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi energi. Ke depan, perannya dapat dikembangkan menjadi simpul ekonomi energi lokal, termasuk mendukung pengelolaan PLTS komunitas dan kegiatan ekonomi produktif," jelas Feiral.

Petugas PLN memasang instalasi transformator pada pembangkit tambahan di Sidera, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari kesiapan operasi untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik di Sulawesi. (Foto: Dok. PLN)

Benteng Ketangguhan di Tengah Ujian Iklim Sulawesi

Ketika Jawa Barat memanen manfaat pemerataan dan efisiensi ekonomi desa, ujian ketahanan energi yang tak kalah sengit berkecamuk ribuan kilometer di Pulau Sulawesi.

Kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah tropis sempat menyusutkan debit air di sejumlah waduk, mengancam produktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Tanpa mengulur waktu, PLN bergerak cepat mengeksekusi langkah antisipatif di Lembah Sidera, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 50 Megawatt (MW) disiagakan dan dioperasikan untuk menutup potensi defisit pasokan daya.

Langkah responsif ini mendapat apresiasi hangat dari Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid.

“Listrik adalah kebutuhan primer masyarakat dan penggerak investasi. Kolaborasi PLN dengan Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi dalam mempercepat pasokan 50 MW ini sangat luar biasa,” puji Anwar belum lama ini.

Saidin Ali, warga Kabupaten Sigi yang mengelola usaha depot air minum, mengaku bersyukur dengan tambahan pembangkit di Sidera. Kehadiran listrik yang andal tak hanya mempermudah operasional usahanya, tetapi juga turut mendorong peningkatan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Sabtu (17/10/2026). (Foto: Dok. PLN)

Baca juga : Bahlil Sentil Pengusaha Tambang: Jangan Kelola SDA Seperti Orang Kelaparan

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menekankan bahwa penguatan sistem di Sigi merupakan wujud fleksibilitas dan ketangguhan PLN dalam merespons dinamika cuaca ekstrem.

“Dari total 50 MW, sebanyak 20 MW telah beroperasi dan 30 MW berikutnya siap menyusul. Kami ingin menjaga sistem kelistrikan Sulawesi semakin tangguh dan adaptif, sehingga aktivitas masyarakat dan sektor produktif tetap terlindungi,” jelas Rizal.

Bagi warga lokal seperti Saidin Ali, keandalan listrik di daerahnya adalah modal utama untuk menjaga kelangsungan usaha harian.

"Kami bersyukur ada tambahan pembangkit di Sidera. Listrik jadi makin andal dan menyala terus, kami pun beraktivitas dengan tenang," ungkap Saidin, Sabtu (17/10/2026).

Menganalisis situasi tersebut, Feiral Rizky Batubara menegaskan bahwa langkah PLN mengoperasikan PLTD Sidera merupakan respons darurat yang tepat untuk menjaga keandalan di tengah ancaman El Niño. Namun, ia juga memberi catatan strategis untuk jangka panjang.

"Transisi energi harus dirancang dengan mempertimbangkan ketahanan dan keandalan sistem, bukan hanya penambahan kapasitas. Dalam jangka panjang, Indonesia perlu membangun sistem yang terdiversifikasi melalui kombinasi energi terbarukan, gas, serta teknologi penyimpanan energi seperti Battery Energy Storage System (BESS)," ulas Feiral.

Menyoroti tantangan geografis kepulauan Indonesia, Feiral menambahkan bahwa ukuran "Indonesia Berdaya" bukan semata-mata besar kapasitas pembangkit yang dibangun, melainkan apakah masyarakat di seluruh wilayah memperoleh listrik yang andal, berkualitas, dan terjangkau secara merata.

Diolah Rakyat Merdeka 

Menenun Asa "Energi Mandiri, Indonesia Berdaya"

Dari senyum anak-anak Ono Taryono di Karawang yang kini bisa belajar malam tanpa rasa takut, geliat transaksi ekonomi warga di Koperasi Merah Putih Bandung, hingga kesiapan gardu pembangkit Sigi dalam menerjang ujian iklim; sebuah benang merah tercetak amat terang.

Merangkum visi besar kemandirian bangsa, Feiral Rizky Batubara menekankan bahwa pencapaian "Indonesia Berdaya" bertumpu pada tiga prasyarat utama: diversifikasi energi berbasis potensi domestik, penguatan infrastruktur dan fleksibilitas sistem interkoneksi, serta pembangunan ekosistem industri di dalam negeri.

"Kemandirian energi bukan berarti kita harus memproduksi semuanya sendiri, melainkan memiliki kapasitas strategis untuk menentukan pilihan, mengelola risiko, dan menjaga keberlanjutan pasokan tanpa mudah rentan terhadap tekanan eksternal," pungkas Feiral.

Ketika listrik hadir tanpa diskriminasi menembus dusun terpencil dan menyala stabil di pusat-pusat ekonomi warga, di situlah cita-cita besar bangsa ini menemukan wujud nyatanya: Energi Mandiri yang Membawa Indonesia Benar-Benar Berdaya. (FAZRY)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.