Udara merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kualitas udara menurun akibat asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran, maupun sumber pencemar lainnya, dampaknya dapat dirasakan oleh tubuh. Karena itu, polusi udara bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat.
Salah satu pencemar yang banyak diperhatikan adalah particulate matter atau PM2,5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Menurut (Wellid dkk., 2024) dalam penelitiannya di Kota Bandung, konsentrasi PM2,5 dan PM10 perlu menjadi perhatian karena berkaitan dengan kondisi kualitas udara dan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pencemaran udara dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan pernapasan masyarakat.
Hubungan polusi udara dengan gangguan pernapasan juga terlihat dalam penelitian (Djafri, 2007) terhadap murid sekolah dasar di DKI Jakarta. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa gangguan pernapasan ditemukan lebih banyak pada wilayah dengan tingkat pajanan pencemaran udara yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk.
Baca juga : Peran Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Pola Hidup Sehat Masyarakat
Dampak polusi udara tidak berhenti pada gangguan pernapasan. Pencemaran udara di Indonesia juga dapat menimbulkan beban ekonomi melalui biaya kesehatan akibat morbiditas dan mortalitas. Biaya tersebut antara lain berkaitan dengan perawatan akibat penyakit pernapasan. Artinya, udara yang tercemar dapat memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar rasa tidak nyaman ketika bernapas (Mursinto dan Kusumawardani, 2016)
Sumber pencemaran juga dekat dengan aktivitas sehari-hari. Wilayah terminal Semarang menunjukkan adanya hubungan antara jumlah kendaraan dan kondisi kelembapan dengan konsentrasi karbon monoksida. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kepadatan kendaraan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kualitas udara, terutama di kawasan perkotaan (Kurniawati, Nurullita, dan Mifbakhuddin, 2017)
Kualitas udara di dalam rumah juga tidak boleh diabaikan. Kecamatan Medan Denai menemukan adanya hubungan antara kualitas udara dalam ruangan dengan kejadian ISPA. Hal ini penting karena masyarakat menghabiskan banyak waktu di dalam rumah, sekolah, kantor, dan berbagai tempat tertutup lainnya (Nasution dkk., 2025)
Baca juga : Era Digital vs Kesehatan: Layar Makin Dekat, Gerak Semakin Sedikit
Menjaga kualitas udara membutuhkan tindakan bersama. Masyarakat dapat mengurangi pembakaran sampah, merawat kendaraan, menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki ketika memungkinkan, serta menjaga ventilasi rumah. Pemerintah juga memiliki peran dalam mengendalikan sumber emisi dan melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Informasi mengenai kondisi udara juga penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas di luar ruangan. Dengan mengetahui kualitas udara, masyarakat dapat lebih waspada terhadap lingkungan tempat mereka tinggal.
Upaya ini juga perlu didukung edukasi agar masyarakat memahami sumber polusi, mengenali dampaknya, dan menerapkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. Langkah kecil tersebut dapat dilakukan mulai dari sekarang.
Baca juga : Menhut Maksimalkan 3 Operasi Udara Tangani Karhutla Kalteng
Udara memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya terhadap kesehatan dapat terasa nyata. Polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan sekaligus memberikan beban sosial dan ekonomi. Karena itu, menjaga udara tetap bersih bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat. Udara yang lebih bersih berarti lingkungan yang lebih sehat dan kesempatan bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan dengan kualitas kesehatan yang lebih baik.
Artikel ini ditulis oleh Amira Layla Harahap, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.