BREAKING NEWS
 

Teten Dukung Bank Ciptakan Ekosistem Bisnis Bagi UMKM

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : SRI NURGANINGSIH
Rabu, 7 Agustus 2024 16:55 WIB
Menkop UKM Teten Masduki (tengah) dan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja (kiri) di acara BCA UMKM Fest 2024 yang selenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di Jakarta, Rabu (7/8/2024). Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Koperasi dan UKM (Menkop UKM) Teten Masduki mendukung industri perbankan tak hanya memberikan pembiayaan atau kredit ke UMKM, tetapi juga menjadi enabler (fasilitator) membangun ekosistem bagi UMKM, termasuk menyediakan pasar hingga UMKM menjadi bagian dari supply chain industri.

“Karena UMKM di Indonesia ini, rata-rata bersifat mandiri sehingga masih sulit untuk masuk menjadi bagian dari supply chain industri. UMKM di Korea Selatan misalnya, mereka tidak takut tak dapat pembiayaan karena mereka sudah menjadi bagian dari industri,” ungkap Teten saat memberikan opening speech BCA UMKM Fest 2024 yang selenggarakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di Jakarta, Rabu (7/8/2024).

Penyelenggaraan BCA UMKM Fest ini sambung Teten, menjadi contoh bagaimana bank membangun ekosistem masuk dalam supply chain industri.

Ia juga mengapresiasi BCA yang sejak 2021 juga terus membantu UMKM bukan hanya dari sisi pembiayaannya saja. Karena UMKM perlu tak hanya sekadar kredit.

“Kebanyakan UMKM di Indonesia ini dari sisi produksi disconnected dengan offtaker industri dan disconnected dengan pembiayaan. BCA tak hanya menjadi bank tetapi juga fasilitator” katanya.

Baca juga : Sinar Mas Dukung Perkembangan Ekosistem Sepak Bola Nasional

Teten menyebut, sebanyak 30 juta UMKM belum terhubung dengan pembiayaan ke bank. Untuk itu, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) tengah menjajaki dan intens berbicara dengan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencari pendekatan lain dalam memudahkan UMKM terhubung dengan pembiayaan.

Menurutnya, bagaimana UMKM bisa meraih kredit tetapi tidak dengan mengandalkan satu data SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) OJK, tetapi juga menggunakan data alternatif lewat history credit misalnya pembayaran listrik atau telepon, atau yang disebut dengan Innovative Credit Scoring (ICS).

“Kami telah uji coba kepada 72 ribu data UMKM melalui data SLIK ditambah dengan data alternatif lain. Ternyata sebesar 74 persen dari UMKM tersebut layak dibiayai dengan tingkat rasio kredit macet atau NPL (Non Performing Loan) di level 0,6 persen atau di bawah 1 persen. Ini masih menarik UMKM bagi industri keuangan," ujar Teten.

Adsense

ICS sambung Menteri Teten, telah diterapkan di 145 negara. Di Indonesia meski belum bisa dlterapkan secara mandatory, tetapi OJK tengah membuat daftar sebanyak 17 perusahaan yang melakukan kombinasi data SLIK dengan data alternatif.

“Jika ini ke depan berjalan baik, bank akan semakin besar based nasabahnya. UMKM juga semakin memiliki akses market yang lebih luas,” harap Teten.

Baca juga : Bank DKI Siap Dukung Transaksi Perbankan Universitas Kristen Teknologi Solo

Sementara itu dalam menghadapi daya beli masyarakat yang masih turun ditambah indeks bisnis UMKM yang turun, Teten menegaskan, kalau tidak segera dilakukan bantalan maka akan menimbulkan problem sosial politik yang besar.

“Situasi yang sulit ini meski dihadapi dengan upaya gotong royong. Menerapkan ICS serta membangun ekosistem bisnis untuk UMKM,” ucapnya.

 Teten juga mengajak perbankan untuk ikut mendorong UMKM memaksimalkan potensi ekonomi domestik. Mengunggulkan produk dari Sumber Daya Alam (SDA) unggulan di daerah, mengingat bahan baku yang melimpah di Indonesia.

“UMKM ini backbone ekonomi dalam negeri. Dukungan industri termasuk perbankan diharapkan sektor UMKM ini growing bukan menjadi sunset industry (penurunan). Memang berat (ekonomi) tetapi kalau kita optimis dan bersama pasti bisa,” yakinnya.

Di kesempatan yang sama, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kontribusi 60 persen UMKM terhadap PDB menjadikan UMKM harus didukung dalam perkembangannya.

Baca juga : Projo Dukung Bacakada Yang Setia Di Garis Rakyat

Namun, melihat UMKM tak hanya melulu soal kredit/pembiayaan tetapi juga ekosistem mulai dari pelatihan, hingga penyediaan akses pasar.

“UMKM menyerap jutaan tenaga kerja. Maka dari itu dibutuhkan UMKM berkualitas untuk terus bertahan. Kualitas UMKM dilihat dengan melakukan kurasi packaging yang menarik, kualitas yang baik hingga aspek on-time delivery," ujar Jahja.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense