Sebelumnya
Dari kegiatan ini, mereka mengaku memperoleh sedikit pendapatan, sehingga bisa memenuhi kebutuhan hariannya selama di Lapas. Hal ini cukup untuk tidak membebani keluarga. Bahkan, mereka bisa menyisihkan penghasilannya untuk dikirim ke keluarga.
Manager Pertamina EP Jambi Field Hermansyah berharap, program pemberdayaan warga binaan ini bisa berjalan berkesinambungan. Artinya, keahlian yang didapatkan melalui pelatihan bisa benar-benar diimplementasikan oleh mereka ketika kembali ke lingkungan masyarakat.
“Mereka sudah punya keahlian baru, yang seharusnya bermanfaat untuk memulai usaha dan hidup mandiri. Jangan sampai balik lagi ke Lapas,” tegas Hermansyah.
Sementara, Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) & Giantja Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIB Jambi Ria Rachmawati menjelaskan, tidak semua warga binaan bisa mengikuti pelatihan tersebut.
“Tentu ada syarat dan aturan tertentu yang harus dipatuhi. Seperti harus sudah menjalani sepertiga dari masa hukuman,” katanya.
Karenanya, dari 217 warga binaan yang ada di sini, hanya sekitar 70 orang yang mengikuti pelatihan ini.
Baca juga : Swiss Vs Spanyol, Misi Meraih Kemenangan
Dia melihat, berlangsungnya aktivitas di lapas yang berkelanjutan, mendorong warga binaan untuk terus mengembangkan potensi dirinya.
Bahkan, pihaknya juga turut mempromosikan produk-produk warga binaanya ke banyak institusi pemerintahan, bekerja sama dengan desainer lokal untuk mendesain batik dan produk turunannya. Lalu, turut aktif dalam acara bazar.
Hingga memanfaatkan e-commerce ataupun media sosial sebagai wadah promosi produk-produk yang dihasilkan.
“Yang orderannya ada terus itu tata boga. Kalau batik, kain 2 sampai 2,5 meter bisa dijual seharga Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu, tergantung desain dan motif,” katanya.
Tak sampai di situ, beberapa motif batik yang dihasilkan warga binaan ini juga ada yang telah terdaftar HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).
Total motif ada 40, tujuh motif sudah ada hak ciptanya. Misalnya, motif corona sudah didaftarkan HAKI, dengan Nomer Pendaftaran IDD000058653 masa berlaku 10 tahun, yakni terhitung sejak tanggal penerimaan pemohon 14 Juli tahun 2020.
Baca juga : Pemprov Kudu Buka Posko Pengaduan Di RT Dan RW
Dia menuturkan, motif corona ini merupakan hasil kreatifitas saat terjadi pandemi Covid-19. Ide ini menunjukkan rasa rindu warga binaan terhadap keluarganya.
“Hampir dua tahun, tidak boleh ada kunjungan, hanya bisa kunjungan online. Jadilah ada ide-ide yang tercipta dari kondisi yang dirasakan,” katanya.
Dia pun berharap, program pelatihan ini bisa membawa perubahan bagi kehidupan warga binaan ke depannya. Termasuk bagi mereka yang sudah bebas dari lapas.
Hal ini diamini salah satu mantan warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIB Jambi, Meli kurniati, yang telah bebas sejak 2022.
Dia mengaku mendapat pelatihan membatik saat berada di lapas pada 2019. Kala itu, batik menjadi program pelatihan satu-satunya yang diajarkan.
“Saya angkatan pertama yang dapat pelatihan batik,” akunya.
Baca juga : Garuda Hajar 2 Gajah Perang
Sayangnya, ketika selesai menjalani masa hukuman dan kembali ke masyarakat, tidak ada program lanjutan.
Untuk itu, semenjak bebas dari lapas, perempuan usia 37 tahun itu berusaha memenuhi kebutuhan hariannya dengan membuat kue-kue kering. IMA
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Minggu, 8 September 2024 dengan judul "Pertamina Beri Pelatihan Membatik Dan Buat Kue, Ini Cara Agar Mantan Napi Survive Di Kehidupan Baru"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.