RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Marie Elka Pangestu mengatakan agar Indonesia tak panik menanggapi kebijakan tarif impor yang agresif dari Presiden AS Donald Trump.
Hal itu disampaikan Marie dalam diskusi publik yang digelar The Yudhoyono Institute di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Minggu (13/4/2025). Dalan paparannya, Marie memaparkan tiga poin penting yang perlu jadi perhatian Indonesia dan kawasan ASEAN dalam menghadapi dinamika global yang penuh gejolak.
"Don't panic, be calm. Justru dalam situasi krisis seperti ini, kita harus melakukan reformasi," ujarnya.
Baca juga : 4 Resep AHY Hadapi Tarif Trump: Penting Ubah Krisis Jadi Peluang
Menurutnya, tantangan global ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperbaiki fundamental ekonomi, memperkuat daya saing ekspor, dan menjaga efisiensi "Jangka pendek, kita harus bisa deal dengan AS. Tapi jangan lupakan China. Kita harus pintar-pintar menjaga keseimbangan," cetus Marie.
Marie menggarisbawahi, pascapandemi, pertumbuhan ekonomi dunia sudah melambat, dan kini semakin diperparah oleh ketegangan geopolitik, konflik antarnegara, krisis iklim, dan risiko resesi global.
“Kita menghadapi ketidakpastian yang lebih besar, baik dari sisi kebijakan ekonomi maupun perdagangan. Bahkan chairman dari New York sudah menyebut inflasi akan tembus 4 persen, dan pertumbuhan ekonomi AS hanya sekitar 1 persen,” ujarnya.
Baca juga : Hadapi Tarif Trump, AHY Serukan Transformasi Ekonomi dan Soliditas ASEAN
Ia menambahkan, perlambatan ekonomi Amerika dan China bisa berdampak langsung pada negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Setiap penurunan 1 persen di ekonomi AS, menurut Marie, bisa memangkas pertumbuhan ASEAN hingga 0,6 persen.
Mantan Menteri Perdagangan ini menjelaskan berbeda dengan Trump 1.0 yang hanya menargetkan China, pada Trump 2.0 semua negara bisa terkena imbasnya.
"Vietnam, Thailand, Meksiko waktu itu diuntungkan karena ekspor ke AS naik. Tapi sekarang, semua kena. Indonesia pun terdampak, meski relatif lebih kecil dibanding Vietnam atau Kamboja," ungkapnya.
Baca juga : RI Gencar Bernegosiasi & Genjot Kerja Sama ASEAN
Marie menyebut konsep "lengthening of the supply chain" yang terjadi karena negara-negara mencari jalur alternatif untuk masuk ke pasar AS. Namun kini, strategi itu justru menjadi titik rawan yang membuat negara seperti Vietnam dicurigai sebagai tempat "transshipment".
Di akhir paparannya, Marie menegaskan bahwa yang terpenting adalah bagaimana Indonesia menyikapi situasi ini secara strategis.
"Jangan sia-siakan krisis yang baik," ujarnya, mengutip pepatah terkenal.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.