Dark/Light Mode

Hadapi Tarif Trump, AHY Serukan Transformasi Ekonomi dan Soliditas ASEAN

Minggu, 13 April 2025 10:14 WIB
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka diskusi panel The Yudhoyono Institute bertajuk “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global”, Jakarta, Minggu (13/4/2025). Foto: RM.ID/BCG
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka diskusi panel The Yudhoyono Institute bertajuk “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global”, Jakarta, Minggu (13/4/2025). Foto: RM.ID/BCG

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan sejumlah pandangan strategis untuk merespons kebijakan tarif tinggi Presiden AS Donald Trump yang berpotensi memicu krisis global. Beberapa diantaranya adalah tranformasi ekonomi dan soliditas negara-negara anggota ASEAN. 

Hal tersebut disampaikan AHY saat membuka pembukaan panel diskusi TYI bertema “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global” yang digelar di Hotel Sahif, Jakarta, Jumat (12/4/2024). Hadir dalam acara ini Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para ekonom dan akademisi seperti Bos CT Corp Chairul Tanjung, Chatib Basri, Marie Elka Pangestu dan Raden Pardede. 

Dalam sambutannya, AHY mengajak semua pihak untuk tidak hanya bertahan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, tetapi juga berani membentuk zaman. 

Baca juga : RI Gencar Bernegosiasi & Genjot Kerja Sama ASEAN

“Dalam dunia yang gelap, mari kita jadi jembatan. Ketika ketakutan menyebar, mari hadirkan harapan,” ucap AHY. Ia menekankan, dunia kini tidak hanya butuh pemimpin yang kuat, tetapi juga yang mampu menyatukan.

AHY lalu menyampaikan sejumlah pandangan strategis untuk menghadapi krisis global yang sedang berlangsung. Pertama, pentingnya memperkuat struktur ekonomi domestik, menjaga daya beli masyarakat, serta menjaga stabilitas harga. Ia juga menekankan perlunya terus menarik investasi untuk pembangunan dan penciptaan lapangan kerja.

Kedua, AHY mengutip pesan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bahwa krisis harus bisa diubah menjadi peluang. “From crisis to opportunity,” ujar AHY. Momentum krisis, katanya, harus digunakan untuk mendorong transformasi ekonomi, percepatan digitalisasi, dan transisi menuju ekonomi hijau dan energi terbarukan.

Baca juga : Petani Sawit Minta Pemerintah Turunkan Pajak dan Pungutan Ekspor Sawit

Ketiga, AHY menyoroti pentingnya diversifikasi pasar dan kemitraan strategis. Indonesia, menurutnya, harus aktif mengembangkan perdagangan di kawasan potensial seperti Eropa, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Amerika Latin dan negara-negara Global South.

Keempat, AHY menegaskan pentingnya memperkuat solidaritas ASEAN. Ia menolak adanya perpecahan di antara negara-negara Asia Tenggara akibat agenda masing-masing. “ASEAN harus bersuara satu, membela prinsip perdagangan yang adil dan terbuka,” tegasnya.

Sebagai penutup, AHY menekankan bahwa solidaritas dan kolaborasi adalah kunci dalam menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi. “In a world full of uncertainties and danger, solidarity is our strength, collaboration is our hope,” tandasnya.

Baca juga : Puji Strategi Pemerintah Hadapi Tarif Trump, SBY: Langkah Negosiasi Lebih Tepat

AHY berharap forum diskusi kali ini bisa menghasilkan solusi nyata, bukan sekadar wacana, demi masa depan yang lebih baik untuk bangsa, kawasan, dan dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.