RM.id Rakyat Merdeka - Kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal II-2025 membawa tiga sinyal positif yang menepis sejumlah kekhawatiran publik.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tumbuh sebesar 5,12 persen (year-on-year). Angka ini dianggap sebagai indikasi kuat bahwa fondasi ekonomi nasional tetap tangguh di tengah dinamika global.
Menurut Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, ada tiga indikator utama yang patut dicermati dari capaian ini: konsumsi rumah tangga, industri pengolahan, dan investasi.
Christiantoko menyebut, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97 persen, menguat dibandingkan kuartal sebelumnya dan periode yang sama tahun lalu. “Kinerja ini menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Baca juga : Judi Online Pangkas Pertumbuhan Ekonomi, Picu Kenaikan Kejahatan
Ia merujuk data Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juni 2025 diperkirakan mencapai 233,7, naik dari 232,4 pada Mei 2025. Ini mengindikasikan optimisme konsumen tetap tinggi.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menunjukkan simpanan masyarakat tumbuh 4,02 persen menjadi Rp9.109 triliun per Mei 2025. Bahkan simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta tumbuh 3,75 persen.
“Masyarakat masih punya uang. Kemungkinan, hanya pola belanjanya yang berubah,” tambahnya, seraya menyebut fenomena ‘Rojali’ (rombongan jarang beli) dan ‘Rohana’ (rombongan hanya nanya-nanya).
Indikator kedua adalah kinerja sektor industri pengolahan yang tumbuh 5,68 persen. Angka ini tidak hanya lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, tapi juga menjadi pencapaian tertinggi dalam empat tahun terakhir, sejak 2022.
Baca juga : Dubes Achmad Rizal Purnama Sambut Kapal Perang RI Di Pelabuhan Mersin
Christiantoko menyebut, sektor ini penting karena menyerap 19,6 juta tenaga kerja per Februari 2025, menjadikannya sektor ketiga terbesar setelah pertanian dan perdagangan.“Ini kabar bagus yang memberi harapan akan terjadinya reindustrialisasi,” katanya.
Sinyal positif ketiga berasal dari investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,99 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan investasi pada mesin dan perlengkapan, yang tumbuh hingga 25,30 persen.
Pertumbuhan ini sejalan dengan lonjakan produksi industri mesin dan perlengkapan, yang meningkat 18,75 persen — tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
“Ini menunjukkan ekonomi kita tidak hanya ditopang konsumsi, tetapi juga mulai digerakkan oleh investasi alat produksi,” tegas Christiantoko.
Baca juga : Meriahkan Dua Momen Penting, DatascripMall.ID Hadirkan Promo Agustusan
Ia juga mengaitkan peningkatan investasi dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka yang turun menjadi 4,76 persen pada Februari 2025, dari 4,82 persen setahun sebelumnya.
Meski data menunjukkan tren positif, Christiantoko mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Menurutnya, dua komponen terbesar perekonomian nasional, konsumsi rumah tangga dan investasi berkontribusi lebih dari 70 persen terhadap PDB, sehingga harus terus dijaga momentumnya.
“Momentum ini jangan sampai kendor. Apalagi kita sedang menghadapi tantangan global yang tak menentu,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.