RM.id Rakyat Merdeka - Sebagai bentuk komitmen nyata mendukung pemerintah dalam program ketahanan pangan di sektor pertanian, PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) yang merupakan Anggota Holding Asuransi dan Penjaminan, Indonesia Financial Group (IFG) menggandeng PT Tugu Insurance menjalin kerja sama melalui skema co-insurance berbasis teknologi Agritech.
Berkat konsep progresif ini, Askrindo berhasil keluar sebagai runner-up dari ajang Call for Proposal – Inclusive Insurance Challenge Fund (IICF) 2025, yang diselenggarakan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dan Insurance and Risk Finance Facility – United Nations Development Programme (IRFF UNDP).
Atas penghargaan ini di hadapan 800 perwakilan dari 20 negara, Askrindo juga telah melakukan penandatanganan Letter of Acceptance untuk pengembangan terobosan Asuransi Pertanian ini dalam acara AAUI 29th Indonesia Rendezvous di Bali International Convention Center, Bali.
Direktur Bisnis Askrindo, Budhi Novianto mengapresiasi, inisiatif jawara ini yang dinilai mampu mendorong penguatan literasi serta inklusi asuransi di kalangan petani.
Baca juga : 81,5 Persen Masyarakat Indonesia Percaya Dengan Pemerintahan Prabowo-Gibran
Budhi mengatakn bahwa asuransi pertanian merupakan solusi penting untuk memitigasi risiko yang dihadapi petani, seperti menjaga arus kas dan mempercepat pemulihan pascabencana.
Ia menambahkan, asuransi konvensional yang selama ini diterapkan berbasis indemnity, sehingga memerlukan verifikasi kerugian di lapangan — proses yang cenderung lambat, mahal, dan rawan moral hazard.
“Askrindo hadir dengan pembaruan konsep produk asuransi pertanian agar sesuai dengan keadaan dan adaptif terhadap pola risiko yang berubah atas perubahan iklim, seperti skema asuransi pertanian berbasis indeks atau parametrik yang memungkinkan pembayaran otomatis berbasis data,” ujar Budhi dalam keterangannya, Kamis (23/10/2025).
Tidak seperti asuransi konvensional berbasis indemnity yang membutuhkan verifikasi langsung di lahan sebelum klaim dibayarkan, asuransi pertanian berbasis parametric memungkinkan pembayaran klaim secara otomatis berdasarkan indikator tertentu, seperti curah hujan yang berada di bawah ambang batas atau hasil panen yang tidak mencapai standar.
Baca juga : Kebijakan Pangan Sudah Bagus
Dengan mekanisme ini, proses klaim menjadi lebih cepat, efisien, dan dapat mencakup wilayah yang lebih luas.
“Skema ini juga menghilangkan kebutuhan verifikasi per individu petani, sehingga proses pencairan klaim menjadi lebih cepat dan biaya administrasi dapat ditekan," ujar Budhi.
Meski demikian, menurutnya skema ini tetap mengandung risiko yang perlu dikelola melalui perancangan indeks yang tepat serta penggunaan data berkualitas tinggi.
Budhi menamnahkan, Askrindo menawarkan solusi asuransi adaptif untuk mendukung asuransi di sektor pertanian.
Baca juga : ABMM Tegaskan, Energi Berkelanjutan Harus Inklusif dan Menyejahterakan
"Diharapkan skema ko-asuransi pertanian berbasis teknologi ini diharapkan dapat mendukung visi pemerintahan Kabinet Merah Putih yang tercantum dalam Misi Asta Cita serta program-program prioritas lainnya," ujar Budhi.
Askrindo optimis inisiatif ini akan mempermudah implementasi asuransi pertanian dan memperluas jangkauannya secara lebih efektif.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.