RM.id Rakyat Merdeka - Ekonomi Indonesia di bawah Pemerintahan Prabowo Subianto sukses memulai tahun 2026 dengan angin segar. Hal ini ditandai oleh sembilan sinyal kuat yang mencakup sentimen positif pasar keuangan, pasar saham hingga inflasi, berikut rinciannya:
1. Pasar Keuangan Menguat
Pasar keuangan dibuka dengan momentum yang jauh lebih kuat dibanding awal 2025. Kondisi ini menjadi modal positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menatap arah ekonomi nasional sepanjang 2026.
Dalam laporannya, BRI Danareksa Sekuritas menyebut titik awal 2026 jauh lebih stabil, didukung membaiknya situasi makro global dan domestik.
2. Situasi Makro Global & Domestik Lebih Stabil
Tekanan besar yang sempat membayangi pasar tahun lalu, mulai dari menguatnya dolar AS, melonjaknya yield global, hingga ketatnya likuiditas, perlahan mereda.
“Starting point 2026 terlihat jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025. Sejumlah headwind (kendala yang menghambat kinerja, Red) utama kini justru mereda,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan terbarunya, Rabu (14/1/2026).
3. Inflasi Global Mendingin
Baca juga : 2 Pemain Muda Jadi Penentu Kemenangan Persija di GBK
Dari sisi global, inflasi yang terus mendingin membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar.
4. Ekspektasi The Fed Cenderung Akomodatif
Ekspektasi The Fed yang cenderung akomodatif, diperkirakan menekan penguatan dolar AS dan mempersempit diferensial suku bunga. Kondisi ini dinilai lebih ramah bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
5. Likuiditas Global Relatif Longgar
Likuiditas global masih relatif longgar. Yield jangka pendek tertahan. Sementara kenaikan yield tenor panjang lebih dipicu oleh risiko fiskal dan geopolitik, bukan karena pengetatan moneter agresif.
Situasi tersebut memberi ruang bagi stabilitas pasar obligasi dan aset berisiko.
6. IHSG Naik 3,4% YtD dan Tembus 9.000
Laporan BRI Danareksa Sekuritas mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,4% secara year to date, dan sempat mencetak rekor tertinggi dengan menembus level psikologis 9.000 pada pekan pertama Januari 2026.
Baca juga : Kemenperin Targetkan Industri Pengolahan Tumbuh 5,51 Persen Di 2026
Secara historis, penguatan awal tahun kerap menjadi sinyal membaiknya minat risiko investor.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa kinerja setahun penuh tetap ditentukan faktor makro dan rotasi sektoral. Pengalaman 2025 menunjukkan, penguatan IHSG juga bisa didorong oleh reli terbatas pada saham-saham tertentu.
7. Inflasi Domestik Lebih Sehat
Dari sisi domestik, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih sehat. Inflasi Desember 2025 yang tercatat 2,92%, merupakan yang tertinggi sejak 2022. Angka ini didorong oleh harga emas, volatile food, dan penyesuaian harga yang diatur pemerintah.
Inflasi inti yang meningkat moderat mencerminkan pemulihan permintaan domestik.
8. Kenaikan UMP Rata-Rata 5,82 Persen
Kebijakan upah bergerak lebih seimbang. Kenaikan Upah Minimum Provinsi 2026 yang rata-rata mencapai 5,82% dinilai sukses menjaga daya beli, tanpa membebani dunia usaha.
Baca juga : Pemkab Tanah Datar Apresiasi Indonesia CARE Atas Aksi Kemanusiaan Di Sumbar
Di sejumlah daerah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah mencerminkan dampak positif hilirisasi nikel.
9. Investor Global Catatkan Net Inflow
Meski rupiah dan yield masih berfluktuasi, arus dana asing menunjukkan sinyal konstruktif. Investor global kembali mencatatkan net inflow ke pasar obligasi dan saham di awal tahun.
Dengan kombinasi stabilitas makro, normalisasi inflasi, dan dukungan arus modal, awal kuat 2026 menjadi bekal penting bagi pemerintahan Prabowo menjaga optimisme ekonomi nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.