RM.id Rakyat Merdeka - Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari berkomitmen mengakselerasi pengembangan Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh Indonesia. Dukungan tersebut mencakup channeling, pelatihan, pendampingan, peningkatan kapasitas, akses permodalan, digitalisasi, hingga pembukaan peluang usaha dan pasar.
Ketua Umum KSP Nasari Frans Meroga Panggabean menegaskan, keterlibatan pihaknya merupakan mandat langsung dari Pemerintah yang harus dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Kami ini dipanggil langsung oleh Menteri Koperasi. Pada 20 November 2025 kami diminta menandatangani piagam komitmen. Jadi ini bukan seremoni, tapi penugasan untuk bekerja nyata di lapangan,” kata Frans, dalam Deklarasi Asosiasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih se-Indonesia, di Bekasi, Minggu (25/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) antara KSP Nasari dan Asosiasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih se-Indonesia tentang Kemitraan Strategis Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih. Dalam MoU itu disepakati 10 peran dan bidang usaha bersama dalam rangka pembinaan dan pemberdayaan koperasi desa dan kelurahan.
Ketua Umum Asosiasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih se-Indonesia Tri Wuryantoro menyatakan, asosiasi tersebut diharapkan menjadi rumah besar bagi seluruh Kopdes Merah Putih di Tanah Air.
Baca juga : Universitas Trisakti Gelar PKM Pemberdayaan Koperasi Merah Putih di Ciambar
“Dengan penandatanganan kesepakatan bersama ini, KSP Nasari menjadi kakak asuh dalam memperkuat konsolidasi, standarisasi tata kelola, dan memperluas kolaborasi strategis lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, agar daya saing koperasi meningkat dan manfaatnya dirasakan langsung masyarakat akar rumput,” ujar Tri.
Menurut Frans, keterlibatan KSP Nasari dilandasi prinsip ketujuh koperasi, yakni kerja sama antar koperasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. “Kalau koperasi jalan sendiri-sendiri, dampaknya kecil. Tapi kalau kita kolaborasi, kekuatannya akan berlipat. Itulah roh dari koperasi,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, KSP Nasari meluncurkan program Kolaborasi Koperasi (Collab Coop). Program ini dirancang bertahap untuk menjawab persoalan riil koperasi desa, mulai dari rendahnya literasi koperasi hingga keterbatasan modal dan akses usaha.
“Kami mulai dari hal paling dasar, yaitu sosialisasi masif. Banyak masyarakat desa yang belum benar-benar paham apa itu koperasi dan manfaatnya,” lanjut Frans.
Tahap berikutnya adalah pelatihan serta pendampingan intensif bagi pengurus, pengelola, dan pengawas koperasi desa.
Baca juga : Menkop: Kopdes Merah Putih Jadi Solusi Lapangan Kerja Bagi Generasi Muda
“Pengurus koperasi tidak bisa dilepas begitu saja. Mereka harus didampingi, dilatih, dan diperkuat kapasitasnya supaya koperasinya sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam aspek pembiayaan, KSP Nasari menerapkan skema channeling produk simpan pinjam sebagai sarana pembelajaran langsung bagi koperasi desa dalam mengelola pembiayaan secara profesional.
“Simpan pinjam itu bisnis paling kompleks. Tapi lewat channeling, koperasi desa bisa belajar menilai karakter anggota, kemampuan bayar, sampai mitigasi risiko secara nyata,” jelas Frans.
Ia menambahkan, setiap pencairan pembiayaan channeling sebesar Rp 1 miliar akan disertai fasilitas pinjaman berbentuk barang kebutuhan pokok senilai Rp 10 juta tanpa agunan. “Kami ingin koperasi desa punya ruang napas usaha. Jadi bukan hanya pinjaman di atas kertas, tapi ada barang nyata yang bisa langsung dimanfaatkan,” ungkapnya.
KSP Nasari juga mendorong Koperasi Desa masuk ke ekosistem strategis nasional, salah satunya sebagai pemasok dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sesuai Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025.
Baca juga : Menkop Tekankan Koperasi Pesantren Jadi Kakak Asuh Bagi Kopdes Merah Putih
“Aturannya jelas, Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih harus diprioritaskan sebagai pemasok. Kami siap membantu permodalan dan membuka akses kerja samanya,” ujar Frans, yang juga menjabat Ketua Angkatan Muda Koperasi Indonesia (AMKI).
Dalam skema pemasokan MBG, pembagian hasil ditetapkan 70 persen untuk koperasi desa dan 30 persen untuk mitra. “Yang paling penting, koperasi desa tidak hanya jadi penonton. Mereka harus menjadi pemain utama dan menikmati manfaat ekonominya,” tegas Frans.
Ia menegaskan, kerja sama antara KSP Nasari dan Asosiasi Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih se-Indonesia tidak dibatasi waktu. “Komitmen kami selamanya, sampai koperasi desa benar-benar menjadi pilar ekonomi kerakyatan dan masyarakat desa makin mandiri secara ekonomi,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.