BREAKING NEWS
 

Lawan Dolar, Rupiah Tak Sekuat Ringgit

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Sabtu, 18 April 2026 07:30 WIB
Nilai tukar rupiah melemah. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan melawan dolar Amerika Serikat (AS). Dalam perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah melemah jadi Rp 17.185 per dolar AS. Sebaliknya, ringgit Malaysia semakin kuat melawan dolar AS. 

Ringgit terus menunjukkan penguatan terhadap dolar AS pada Jumat (17/4/2026). Pada pembukaan perdagangan, ringgit berada di level 3,9505 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi penutupan Kamis (16/4/2026) di level 3,9520. 

Penguatan juga terlihat terhadap mata uang utama lainnya. Terhadap poundsterling, ringgit menguat ke 5,3431 dari 5,3506, terhadap euro ke 4,6537 dari 4,6551, serta terhadap yen Jepang ke 2,4812 dari kisaran 2,4848/4874.

Di kawasan ASEAN, ringgit juga cenderung perkasa. Mata uang ini menguat terhadap dolar Singapura menjadi 3,1026/1078 dari 3,1069/1103, terhadap baht Thailand ke 12,3222 dari 12,3473/3664, serta sedikit menguat terhadap peso Filipina ke level 6,58 dari 6,59. 

Kepala Ekonom Bank Muamalat Malaysia Mohd Afzanizam Abdul Rashid optimis, ringgit akan bertahan di kisaran RM 3,95 per dolar AS. Menurutnya, kondisi ini ditopang oleh sentimen domestik yang solid, terutama menjelang rilis estimasi awal Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia kuartal I-2026. 

Baca juga : Lalu Hadrian Irfani: Fokus Utama Lindungi Korban Dan Tindak Tegas

“Semua perhatian tertuju pada estimasi awal PDB kuartal I-2026, dengan proyeksi median sebesar 5,5 persen. Data ini berpotensi mendukung penguatan ringgit,” ujarnya seperti dikutip Bernama, Jumat (17/4/2026). 

Dari sisi global, optimisme terhadap kelanjutan perundingan AS-Iran serta peluang tercapainya gencatan senjata permanen turut mendorong sentimen positif. Terhadap mata uang negara berkembang, termasuk ringgit. 

Berbanding terbalik, rupiah justru melemah. Berdasarkan data TradingView, nilai tukar rupiah ditutup turun 0,28 persen atau melemah 48 poin ke level Rp 17.185 per dolar AS pada Jumat (17/4/2026). Bahkan, terhadap ringgit Malaysia, satu ringgit kini setara dengan Rp 4.344,83. 

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah dalam sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, blokade Selat Hormuz oleh AS terhadap Iran menjadi salah satu pemicu utama. 

Adsense

Langkah tersebut dilakukan untuk menekan Iran agar menerima kesepakatan gencatan senjata, setelah perundingan di Pakistan berakhir tanpa hasil. Namun, kebijakan itu berisiko mengganggu jalur distribusi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. 

Baca juga : Ubaid Matraji: Segera Keluarkan Status Darurat

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah semakin besar akibat meningkatnya risiko fiskal. Per Maret 2026, defisit anggaran mencapai 0,93 persen dari PDB atau sekitar Rp 240 triliun. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4 persen. 

Dengan asumsi harga minyak dunia berada di level 100 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS, pemerintah diperkirakan akan melakukan revisi anggaran pada Agustus mendatang. Risiko kenaikan harga BBM bersubsidi pun turut membayangi. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah lebih dipicu faktor domestik dibandingkan eksternal. Menurutnya, kepercayaan investor terhadap aset berbasis rupiah masih rendah, di tengah minimnya katalis positif dari dalam negeri. 

Kondisi ini membuat rupiah sulit bangkit meski tekanan global relatif mereda. Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. 

Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan depan. Pasar memperkirakan suku bunga acuan akan ditahan, yang justru dinilai belum cukup kuat menarik aliran modal asing. 

Baca juga : DPR: Proses Hukum Agar Ada Efek Jera

Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS pada pekan depan dengan kecenderungan melemah,” ujar Lukman. 

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah. 

Menurutnya, pelemahan rupiah juga tidak terjadi secara sendiri, melainkan bagian dari tekanan global akibat penguatan dolar AS. 

“Pergerakan nilai tukar tidak dialami Indonesia saja. Sejumlah negara juga mengalami depresiasi,” pungkasnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense