RM.id Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan perbaikan kinerja pada kuartal I-2026. Pendapatan maskapai pelat merah itu meningkat dan kerugian bersih menyusut.
Garuda membukukan rugi bersih atau rugi tahun berjalan yang diatribusikan ke entitas induk sebesar 46,48 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 790,11 miliar. Kerugian Garuda menyusut 39,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal I-2026.
“Penyusutan rugi bersih secara signifikan ditopang pertumbuhan pendapatan dan efisiensi operasional,” ucap Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan dalam laporan keuangan Garuda Indonesia yang dikutip Senin (27/4/2026).
Penurunan kerugian itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasian 5,36 persen yoy menjadi 762,35 juta dolar AS atau setara Rp 12,95 triliun.
“Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan penumpang, perbaikan yield, serta tren positif pendapatan,” ungkapnya.
Baca juga : KEK Jadi Amunisi Kejar Target Ekonomi 8 Persen
Selanjutnya, lanjut Glenny, beban operasi juga turun dari 718,3 juta dolar AS (Rp 12,4 triliun) pada kuartal I-2025 menjadi 713,2 juta dolar AS (Rp 12,3 triliun) di kuartal I-2026.
Alhasil, laba operasi segmen meningkat tajam menjadi 49,13 juta dolar AS (Rp 845,5 miliar).
Menurut Glenny, capaian kinerja di kuartal I-2026 tersebut memberikan sinyal positif bagi Garuda dalam melakukan transformasi akibat penurunan kinerja. Terutama di semester I-2025, yang dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi.
“Jumlah unserviceable aircraft masih menunggu scheduled maintenance,” katanya.
Selain itu, tekanan berasal dari fluktuasi nilai tukar, peningkatan biaya tetap, serta tantangan rantai pasok industri aviasi global yang berdampak pada proses perawatan armada.
Baca juga : DKI Mulai Bidik Potensi Pajak Kendaraan Listrik
Namun, emiten berkode saham GIAA ini mulai menunjukkan perbaikan pada paruh kedua 2025, seiring bertambahnya jumlah armada yang kembali beroperasi dan dukungan pendanaan dari pemegang saham.
Garuda Indonesia menargetkan 2026 sebagai fase titik balik kinerja (turnaround), sejalan dengan pemulihan kapasitas produksi, penguatan struktur keuangan, serta implementasi berbagai inisiatif transformasi bisnis secara berkelanjutan.
“Ke depan, dengan progres pemulihan armada dan implementasi transformasi yang konsisten, kami optimistis kapasitas produksi dan kinerja operasional akan membaik secara bertahap, menuju fase pemulihan yang lebih solid,” harapnya.
Dihubungi terpisah, Pengamat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto berpendapat, penyusutan kerugian dari maskapai nasional ini menunjukkan sinyal positif.
“Tetapi tetap memerlukan kewaspadaan dan evaluasi mendalam. Penurunan rugi bersih merupakan indikator baik, tetapi keberlanjutan tren ini harus dipastikan,” ujar Toto kepada Rakyat Merdeka, Senin (27/4/2026).
Baca juga : Atletico Madrid Vs Arsenal, Duel Beda Identitas
Toto mengatakan, kinerja Garuda Indonesia terpuruk karena masalah masa lalu terkait kesalahan manajemen dan pukulan pandemi Covid-19. Keduanya memang berkaitan erat dengan tata kelola dan keuangan.
“Persoalan kesalahan manajemen itu, misalnya, terkait langkah mereka di masa lalu yang agak sembrono dalam mengelola jalur internasional,” katanya.
Masalah diperburuk lagi oleh pengadaan armada pesawat yang tidak sesuai, serta munculnya kasus korupsi penyewaan (leasing) pesawat.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.