RM.id Rakyat Merdeka - The Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia bersama International Pepper Community (IPC) menjalin kemitraan untuk memperkuat pengembangan sektor lada berkelanjutan di Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing komoditas lada nasional melalui penguatan kapasitas petani, penerapan praktik budidaya yang ramah lingkungan, serta perluasan akses ke pasar global.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, Rabu (22/7/2026). Kemitraan ini menghubungkan upaya konservasi lingkungan dengan peningkatan kualitas produksi dan penguatan kelembagaan petani di sentra-sentra penghasil lada.
National Coordinator GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala mengatakan, keberlanjutan sektor lada perlu dibangun dari tingkat masyarakat melalui solusi yang sesuai dengan kondisi lokal. Menurut dia, pelibatan komunitas menjadi kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Melalui program hibah berskala kecil, GEF SGP Indonesia akan mendukung berbagai inovasi masyarakat untuk mencegah degradasi lahan, memperkuat penghidupan lokal, serta membangun kapasitas kelembagaan di daerah penghasil lada.
Baca juga : WWF Indonesia Dukung Langkah Menhut Perkuat Ranger di 13 Taman Nasional
Sidi menambahkan, perubahan pola pikir petani juga menjadi bagian penting dalam program tersebut. Petani didorong untuk memandang usaha perkebunan sebagai kegiatan bisnis yang dikelola secara profesional sehingga mampu meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi lahan.
"Kelompok tani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga pelaku usaha yang mampu mengelola aset pertaniannya secara mandiri," kata Sidi.
Sementara itu, Executive Director International Pepper Community Marina Novira Anggraini mengatakan, keberlanjutan kini menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing komoditas lada di pasar internasional. Karena itu, IPC akan berkontribusi melalui penyediaan informasi pasar, riset, pendampingan teknis, dan pertukaran pengalaman antarnegera produsen lada.
Menurut Marina, petani tidak hanya memerlukan dukungan pembiayaan, tetapi juga peningkatan keterampilan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah dan memenuhi kebutuhan pasar global.
Baca juga : GIAMM: Industri Komponen Otomotif RI Makin Tangguh Di Rantai Pasok Global
"Kami ingin menghubungkan petani dengan akses informasi dan teknologi sehingga mereka tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mampu mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi," ujarnya.
Sejumlah produk turunan lada, seperti minyak atsiri, parfum, kopi lada, hingga aromaterapi, dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan pendapatan petani. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, teknologi pengolahan tersebut akan diperkenalkan kepada kelompok-kelompok tani.
Dari sisi hilir, keterlibatan sektor swasta diharapkan memperkuat rantai pasok lada nasional. Direktur PT Supa Surya Niaga S. Kris mengatakan, perusahaan siap menjadi penghubung antara hasil panen petani dengan kebutuhan pasar yang menerapkan standar keamanan pangan dan kualitas produk.
Menurut dia, pasar internasional semakin menuntut produk yang diproduksi secara berkelanjutan dengan mutu yang konsisten. Karena itu, sinergi antara pemerintah, lembaga internasional, komunitas, dan pelaku usaha diperlukan untuk meningkatkan daya saing lada Indonesia.
Baca juga : PLN Indonesia Power dan DEN Perkuat Sinergi Ketahanan Energi
Kemitraan antara GEF SGP Indonesia dan IPC juga diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menghadapi tantangan sektor lada, seperti fluktuasi harga, panjangnya rantai pasok, dan dampak perubahan iklim terhadap produktivitas perkebunan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.