BREAKING NEWS
 

Pertamina Jalankan Dua Jalur Pertumbuhan Hadapi Transisi Energi

Reporter & Editor :
FAZRY
Kamis, 10 September 2026 15:06 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) menjalankan strategi dual growth atau pertumbuhan ganda untuk menjaga ketahanan energi saat ini sekaligus menyiapkan sumber energi dan pertumbuhan baru di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Strategi tersebut dilakukan melalui dua jalur, yakni memaksimalkan bisnis eksisting (legacy business), terutama minyak dan gas bumi, serta mengembangkan bisnis rendah karbon melalui energi baru dan terbarukan (EBT) dan teknologi rendah karbon.

“Bagi Pertamina, transisi energi bukan hanya mengenai bagaimana menurunkan emisi, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki sumber energi yang semakin beragam, berkelanjutan, dan berasal dari potensi dalam negeri,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Menurut Baron, pendekatan dual growth diperlukan karena transisi energi tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan energi saat ini.

Pertumbuhan permintaan energi dan ketidakpastian geopolitik membuat ketersediaan energi yang aman, andal, berkualitas, dan berkesinambungan tetap menjadi kebutuhan.

Pada jalur pertama, Pertamina memperkuat bisnis legacy sebagai fondasi ketahanan energi nasional.

Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan memperkuat produksi minyak dan gas serta mengoptimalkan aset kilang untuk menjaga kemampuan pengolahan dan pasokan energi di tengah perubahan kebutuhan dan dinamika pasar.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Tindak 31 SPBU di Sumbar, 6 Dialihkan Pengelolaannya

Sementara itu, jalur kedua diarahkan untuk membangun sumber energi dan bisnis baru yang dinilai semakin penting pada masa mendatang.

Fokus pengembangannya mencakup EBT, seperti panas bumi dan energi surya, serta bahan bakar nabati. Pertamina juga mengembangkan teknologi rendah karbon, antara lain carbon capture, utilization and storage (CCUS) dan hidrogen rendah karbon. Melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina mengelola kapasitas terpasang panas bumi sebesar 1.932 megawatt (MW).

Kapasitas tersebut terdiri dari 727 MW yang dikelola langsung dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Jumlah itu setara sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi terpasang nasional.

Transisi bertahap

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai strategi dual growth Pertamina tepat.

Menurut dia, Pertamina perlu mempertahankan bisnis yang selama ini menjadi fondasi perusahaan sekaligus menyiapkan sumber pertumbuhan baru seiring perubahan lanskap energi.

Bisnis minyak dan gas, kata Faisal, masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi domestik.

Adsense

Namun, Pertamina juga perlu mengantisipasi tantangan jangka panjang karena minyak dan gas merupakan sumber energi tidak terbarukan dengan cadangan yang semakin terbatas.

Baca juga : Pertamina EP Rantau Bangkit Dari Nol Barel

Karena itu, pengembangan EBT menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia.

“Harus mencari sumber lain di luar migas untuk yang kaitannya dengan energi, untuk mendorong ketahanan energi dan memenuhi kebutuhan domestik yang semakin terus mengalami peningkatan sejalan dengan upaya juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Faisal.

Faisal mengatakan, Indonesia memiliki potensi EBT yang beragam, mulai dari energi surya, hidro, angin hingga panas bumi. Potensi tersebut dapat menjadi arah pertumbuhan Pertamina ke depan.

Meski demikian, pergeseran dari migas menuju EBT perlu dilakukan secara bertahap. Bisnis migas masih dapat menjadi penopang selama Pertamina membangun ekosistem energi baru.

Pendekatan tersebut, menurut Faisal, merupakan safe transition. Dengan mempertahankan bisnis migas sembari meningkatkan pengembangan EBT, Pertamina dapat menghindari perubahan yang terlalu mendadak terhadap kinerja perusahaan.

Dorong Swasembada Energi

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan EBT merupakan bagian dari program prioritas pemerintah untuk mendorong swasembada energi.

Menurut dia, dinamika geopolitik global dapat mengganggu rantai pasok energi dan berdampak pada kenaikan harga energi, inflasi, biaya produksi, hingga beban subsidi dan kompensasi pemerintah.

Baca juga : Solusi cara membatalkan transaksi wondr bni

“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” katanya saat membuka IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).

Kementerian ESDM mencatat bauran EBT nasional pada semester I-2026 baru mencapai 17,3 persen.

Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat menjadi 30 persen pada 2034.

Kondisi tersebut menunjukkan strategi dual growth tidak hanya berkaitan dengan strategi bisnis Pertamina, tetapi juga menjawab kebutuhan ketahanan energi sekaligus transisi menuju energi yang lebih rendah karbon.

Bisnis legacy menjadi fondasi untuk menjaga ketahanan energi nasional saat ini, sedangkan pengembangan EBT dipersiapkan sebagai sumber energi dan pertumbuhan Pertamina pada masa depan.

“Perjalanan tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan energi hari ini tetap terpenuhi sembari membangun fondasi energi masa depan menuju Net Zero Emission 2060,” kata Baron.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense