BREAKING NEWS
 

Dukung E20, Agrinas Palma dan IPB Kembangkan Bioetanol Multifeedstock

Reporter & Editor :
FAZRY
Minggu, 4 Oktober 2026 15:05 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama IPB University mengembangkan bioetanol berbahan baku singkong, sorgum, dan jagung untuk mendukung implementasi campuran etanol 20 persen atau E20.

Pengembangan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong” yang digelar Fakultas Pertanian IPB University bersama Agrinas Palma, Sabtu (3/10), di Taman Kencana, Bogor.

Forum tersebut turut dihadiri Managing Director Teknologi Advancement Danantara Dwi Susanto dan menjadi tindak lanjut kerja sama Agrinas Palma dengan Pertamina.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan, pengembangan bioetanol perlu dilakukan sebagai sebuah ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Agrinas Palma telah melakukan pemetaan lahan dan menyiapkan peta jalan atau roadmap pengembangan multifeedstock.

Dalam roadmap tersebut, Agrinas Palma menargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung pada 2029. Dari lahan tersebut, kapasitas produksi bioetanol ditargetkan sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun.

“Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting,” ujar Abdul Ghani.

Baca juga : Komisi XII DPR Bahas Kesiapan Biodiesel B50 dan Bioetanol E10

Perlu Kolaborasi Lintas Disiplin Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University Prof. Suryo Wiyono mengatakan, kolaborasi lintas disiplin diperlukan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan.

Menurut dia, Faperta IPB University memiliki berbagai inovasi dan kompetensi yang dapat dikolaborasikan, mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, serta model pengembangan.

“Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik. Faperta memiliki berbagai inovasi dan siap berkolaborasi untuk mendukung program ini agar dapat dikembangkan secara produktif dan berkelanjutan,” kata Suryo.

Wakil Rektor I IPB University Prof. Deni Noviana mengatakan, kebijakan strategis perlu dibangun berdasarkan scientific base dan kompetensi lintas fakultas.

Pengembangan bioetanol, kata dia, tidak dapat dikaji dari satu aspek karena berkaitan dengan pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Adsense

“Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah,” ujar Deni.

Delapan Arah Pengembangan

Dalam FGD tersebut, terdapat delapan arah penting dalam pengembangan industri bioetanol.

Baca juga : DPR Dukung Upaya Kurangi Ketergantungan Impor BBM

Pertama, bioetanol dipandang sebagai agenda strategis nasional untuk mengurangi impor energi dan mendukung target Net Zero Emission 2060.

Kedua, keberlanjutan pasokan bahan baku menjadi kunci, termasuk dari sisi kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen.

Ketiga, lokasi pengembangan bioetanol perlu dibedakan dari kawasan produksi pangan untuk mencegah persaingan harga.

Keempat, kesesuaian komoditas dan lokasi perlu divalidasi melalui uji lapangan karena setiap tanaman memiliki kebutuhan lingkungan dan teknologi budidaya yang berbeda.

Kelima, desain industri perlu mengintegrasikan sektor on-farm dan off-farm sebagai satu rantai nilai. Keenam, kawasan industri perlu membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk ketersediaan enzim, sehingga tidak bergantung pada pasokan dari luar kawasan.

Ketujuh, bioetanol diarahkan agar kompetitif secara ekonomi tanpa ketergantungan subsidi.

Kedelapan, IPB University siap menindaklanjuti penyusunan Feasibility Study (FS) terintegrasi, termasuk pendampingan lapangan untuk aspek on-farm dan off-farm.

Baca juga : Prabowo Tinjau Bioetanol PTPN I, Dukung Ketahanan Pangan dan Energi

FGD juga menempatkan kemitraan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengembangan industri bioetanol.

Salah satu opsi yang dibahas adalah skema kemitraan sekitar 10–20 persen dari produksi, termasuk kemungkinan integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.

Kebutuhan bioetanol untuk mendukung implementasi E20 diproyeksikan mencapai sekitar 7 juta kiloliter. Karena itu, pengembangan industri tidak hanya membutuhkan peningkatan kapasitas, tetapi juga kepastian bahan baku, teknologi, rantai pasok, serta kelayakan ekonomi.

Bagi Agrinas Palma, pengembangan bioetanol juga berkaitan dengan pemberdayaan petani, pemanfaatan lahan, penguasaan teknologi, penguatan industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense