RM.id Rakyat Merdeka - Perubahan iklim semakin berkembang dari isu lingkungan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan risiko di industri keuangan. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan dan aset fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur, kualitas pembiayaan, nilai agunan, kondisi pasar, likuiditas, hingga kinerja keuangan perusahaan.
Risiko tersebut dapat muncul melalui dua jalur utama, yaitu risiko fisik dan risiko transisi. Risiko fisik mencakup berbagai kejadian seperti banjir, kebakaran, cuaca ekstrem, kenaikan suhu, dan permukaan air laut. Sementara itu, risiko transisi dapat muncul akibat perubahan kebijakan, perkembangan teknologi, perubahan preferensi konsumen dan investor, serta peralihan menuju ekonomi rendah karbon.
Bagi industri keuangan, tantangannya menjadi semakin kompleks karena dampak perubahan iklim tidak selalu muncul secara langsung. Risiko iklim dapat terlebih dahulu memengaruhi aktivitas bisnis, nilai aset, dan kondisi ekonomi sebelum kemudian ditransmisikan menjadi risiko keuangan dalam rangka pengambilan keputusan. Karakteristik tersebut membuat perusahaan perlu memiliki pendekatan yang bersifat forward-looking untuk memahami bagaimana perubahan kondisi iklim dapat memengaruhi eksposur dan kinerja keuangan di masa depan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Climate Risk Stress Testing (CRST). Melalui pengujian ini, perusahaan dapat melihat bagaimana berbagai kemungkinan kondisi iklim memengaruhi eksposur dan kerentanan bisnis, sekaligus mengukur potensi dampaknya terhadap risiko keuangan. Dengan demikian, climate risk dapat ditempatkan secara lebih konkret dalam kerangka manajemen risiko perusahaan.
Baca juga : Menteri Jumhur Pamer Aksi Nyata Prabowo Lakukan Pengendalian Perubahan Iklim
Dalam penerapannya, CRST membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap karakteristik bisnis dan eksposur perusahaan. Prosesnya mencakup penilaian kesiapan perusahaan dan data, identifikasi risiko fisik maupun transisi yang relevan, analisis bagaimana risiko tersebut dapat ditransmisikan ke risiko perusahaan, hingga pengembangan skenario dan pengukuran potensi dampaknya terhadap indikator keuangan. Hasil pengujian selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan strategi mitigasi serta memperkuat kapasitas internal perusahaan dalam mengelola climate risk.
Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi sektor keuangan karena risiko iklim memiliki keterkaitan erat dengan risiko-risiko yang telah dikelola perusahaan. Risiko fisik, misalnya, dapat memengaruhi nilai agunan dan kemampuan bayar debitur, sementara risiko transisi dapat memengaruhi kondisi pasar dan nilai aset. Karena itu, pemahaman terhadap jalur transmisi tersebut menjadi penting agar perusahaan dapat mengantisipasi dampaknya secara lebih dini.
Dalam konteks tersebut, PT Surveyor Indonesia (Persero) atau PTSI berperan dalam membantu perusahaan menerjemahkan climate risk menjadi informasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan strategi risiko yang lebih efektif. Dengan kapabilitas di bidang sustainability, risk assessment, serta climate & carbon, PTSI mendukung proses mulai dari identifikasi dan pemetaan risiko, pengembangan pendekatan pengukuran, hingga penyusunan rekomendasi, peluang, dan knowledge transfer.
Direktur Niaga dan Operasi PT Surveyor Indonesia (Persero), Euis Emalia Noor, menerangkan bahwa perubahan iklim saat ini tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai faktor yang dapat memengaruhi ketahanan dan kinerja finansial perusahaan. Karena itu, industri keuangan membutuhkan pendekatan yang mampu menerjemahkan risiko iklim menjadi potensi dampak yang terukur terhadap bisnis dan keuangan.
Baca juga : Erdogan Di PBB: Dunia Lebih Besar Dari Lima Negara
“Climate Risk Stress Testing menjadi salah satu instrumen penting untuk memahami tingkat ketahanan perusahaan terhadap berbagai kemungkinan kondisi di masa depan, sekaligus menjadi dasar untuk memperkuat manajemen risiko dan strategi bisnis,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (8/10/2026).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, PTSI bekerja sama dengan PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF dalam pelaksanaan Climate Risk Stress Testing. Kerja sama ini mencakup penguatan pemahaman terhadap kesiapan SMF dalam mengelola climate risk, identifikasi risiko fisik dan transisi yang relevan dengan karakteristik bisnis Perseroan, serta pengembangan pendekatan untuk mengukur potensi dampaknya terhadap profil risiko dan kondisi keuangan SMF.
Kerja sama ini juga diarahkan untuk menghasilkan kerangka dan perangkat yang dapat mendukung proses pengujian risiko iklim, sekaligus memberikan pemahaman kepada internal SMF agar hasilnya dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan risiko secara berkelanjutan. Dengan demikian, CRST diharapkan tidak berhenti sebagai satu kali pengujian, tetapi dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas perusahaan dalam mengantisipasi risiko iklim.
Pengalaman PTSI dalam climate risk analysis juga telah diterapkan pada sejumlah perusahaan lintas sektor, di antaranya PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI). Dalam berbagai inisiatif tersebut, PTSI berperan dalam mengidentifikasi risiko fisik perubahan iklim, melakukan overlay data spasial untuk menganalisis tingkat exposure dan indeks risiko bencana, serta menyusun strategi mitigasi risiko perubahan iklim yang relevan dengan karakteristik sektor bisnis masing-masing perusahaan.
Baca juga : Tingkatkan Industri Batubara, PTSI Akan Hadir di ICMMS Indonesia 2026
Pengalaman tersebut memperkuat kapabilitas PTSI dalam menghubungkan data risiko iklim, kondisi geografis, eksposur aset, dan karakteristik bisnis untuk menghasilkan pemahaman risiko yang lebih spesifik dan dapat ditindaklanjuti.
Melalui kolaborasi dengan SMF, pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih kuat mengenai potensi dampak perubahan iklim terhadap sektor pembiayaan perumahan, sekaligus membantu memperkuat kesiapan dan kapasitas internal dalam mengantisipasi risiko iklim. Dalam jangka panjang, penguatan climate risk management diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih adaptif, meningkatkan resiliensi bisnis, serta menjaga keberlanjutan sektor keuangan dan pembiayaan perumahan di tengah perubahan kondisi iklim.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.