Dark/Light Mode

Musim Panas Panjang

Jumat, 4 September 2026 07:12 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Beberapa media massa juga mengabarkan bahwa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di sejumlah wilayah Indonesia baru mulai datang pada pertengahan Oktober 2026. Hal ini menunjukkan bahwa kita masih akan menghadapi masalah cuaca panas dalam beberapa bulan mendatang, bahkan hingga Oktober, yang tentu akan berdampak pada kesehatan warga bangsa kita.

Pada Juni 2026, WHO Eropa mengeluarkan buku berjudul Heat–Health Action Plans: Guidance. Ini merupakan edisi kedua yang menjadi penyempurnaan dari edisi pertama yang terbit pada 2008.

Dalam buku terbaru ini, Rencana Aksi Kesehatan dalam menghadapi situasi panas (Heat–Health Action Plans/HHAPs) disebut sebagai respons kesehatan masyarakat yang penting. Rencana ini memungkinkan negara-negara mengantisipasi situasi panas ekstrem, melindungi masyarakat, khususnya kelompok berisiko tinggi, memperkuat sistem ketahanan kesehatan, serta mengurangi kemungkinan kesakitan dan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.

Karena isinya cukup lengkap, buku ini dapat menjadi salah satu acuan penting bagi kita dalam menghadapi musim panas panjang selama beberapa bulan mendatang.

Buku WHO edisi Juni 2026 tersebut menyampaikan delapan elemen inti (core elements) yang baik untuk diterapkan juga di negara kita.

Baca juga : Kandungan & Dampak Kesehatan Asap Kebakaran Hutan

Pertama, pengaturan mengenai komitmen politik, peran dan akuntabilitas institusional, koordinasi lintas sektor, serta penyampaian di berbagai tingkat.

Kedua, sistem peringatan kesehatan dalam situasi panas (heat–health warning system) harus menjadi pedoman dengan meliputi data cuaca dan iklim, menampilkan ambang batas, serta mempertimbangkan paparan lain seperti kebakaran hutan dan lahan serta polusi udara.

Ketiga, identifikasi dan perhatian terhadap kelompok berisiko tinggi, termasuk kaum lanjut usia, mereka yang memiliki penyakit kronis, perempuan hamil dan bayi, anak sekolah, serta mereka yang dalam pekerjaannya memang terpapar cuaca panas ekstrem.

Keempat, penguatan kegiatan komunikasi risiko sehingga peringatan cuaca dan iklim yang ada dapat diimplementasikan dalam bentuk kegiatan perlindungan warga serta upaya kesehatan masyarakat yang diperlukan.

Elemen inti kelima adalah penguatan sistem ketahanan kesehatan. Pada dasarnya, hal ini dimaksudkan agar proses kerja dan berbagai kegiatan dapat terus berjalan dengan baik (business continuity arrangements), dengan jaminan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Baca juga : Pelayanan Kesehatan Primer

Keenam, upaya menurunkan dampak paparan panas, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan menjaga lingkungan dan membangun infrastruktur yang sesuai, termasuk memperhatikan pola rumah dan bangunan yang ada.

Ketujuh, perlu dilakukan surveilans kesehatan yang berhubungan dengan cuaca panas (heat–health surveillance) agar dapat menjadi pedoman dalam melakukan respons yang diperlukan.

Elemen inti kedelapan adalah kegiatan pemantauan dan evaluasi yang seharusnya dapat menjadi acuan untuk memperkuat Heat–Health Action Plans (HHAPs) dari waktu ke waktu.

Semoga semua pihak terkait sejak sekarang sudah melakukan program kesiapan yang tepat untuk mengantisipasi cuaca panas berlebihan hingga Oktober mendatang.

Jangan sampai terlambat dan jangan sampai jatuh korban.

Baca juga : CKG Di Pidato Presiden 14 Agustus 2026

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
- Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan
- Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat 
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025


Rakyat Merdeka/RM.id pada 1 September 2026 menurunkan berita berjudul “Data Kementerian Kehutanan: Karhutla Mereda, Tapi Belum Aman”. Dalam berita tersebut dituliskan pernyataan Menteri Kehutanan, “Karena kondisi memang tidak baik-baik saja, BMKG sudah mengatakan bahwa kekeringan ini masih akan membersamai kita sampai awal Oktober.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.