RM.id Rakyat Merdeka - Standard Chartered Indonesia menggelar Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 untuk membahas perkembangan sistem pembayaran digital dan perubahan rantai pasok global yang memengaruhi strategi bisnis perusahaan.
Forum bertema The Blueprint for Tomorrow: From Today’s Disruption to Tomorrow’s Opportunity yang berlangsung di Jakarta, Selasa (13/10), itu mempertemukan regulator, pelaku industri, pemimpin korporasi, dan para ahli untuk membahas tantangan serta peluang bagi pengelolaan keuangan perusahaan atau treasury.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro mengatakan, pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan kondisi ekonomi global memperluas peran treasury, terutama dalam mengelola likuiditas, modal kerja, pembayaran, dan risiko bisnis.
“Menurut Bank Indonesia, volume transaksi pembayaran digital pada Agustus 2026 mencapai 6,11 miliar transaksi, atau tumbuh lebih dari 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Donny dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Dia mengatakan, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan mata uang digital berpotensi mengubah transaksi keuangan perusahaan menjadi lebih cepat, otomatis, dan terintegrasi.
Selain itu, laporan Future of Trade 2026 dari Standard Chartered menunjukkan percepatan digitalisasi perdagangan berpotensi meningkatkan nilai perdagangan global sebesar 2,8 triliun dolar AS atau 6,9 persen di atas proyeksi dasar pada 2031.
Baca juga : Standard Chartered Perkuat Kolaborasi Inovasi Pembiayaan Ekonomi Biru
Menurut Donny, pemanfaatan AI, dokumen digital, dan otomatisasi proses bisnis dapat meningkatkan efisiensi perdagangan lintas negara sekaligus membuka peluang usaha baru.
Melalui forum tersebut, Standard Chartered mendorong perusahaan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk memperkuat ketahanan bisnis di tengah perubahan ekonomi dan rantai pasok global.
Forum itu membahas dua tema utama, yakni masa depan sistem pembayaran serta penataan ulang rantai pasok global di tengah ketidakpastian.
Pada sesi The Future of Payments: Intelligent. Instant. Resilient., para pembicara membahas potensi pembayaran waktu nyata (real-time), AI, aset digital, dan konektivitas dalam mengubah pengelolaan pembayaran dan likuiditas perusahaan.
Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya keamanan siber, pencegahan penipuan, dan ketahanan operasional seiring semakin cepat dan terhubungnya sistem pembayaran.
Sementara itu, sesi Rewiring Global Supply Chains: From Uncertainty to Opportunity membahas dampak ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan, dan diversifikasi produksi terhadap strategi rantai pasok perusahaan.
Baca juga : Strategi Pengelolaan Stabilitas Fiskal Pemerintahan Daerah
Perubahan tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi Indonesia pada 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, tumbuh 12,7 persen secara tahunan. Adapun investasi hilirisasi mencapai Rp 584,1 triliun, meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan investasi perlu diikuti dengan penguatan nilai tambah di dalam negeri melalui pengembangan pemasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, penguasaan teknologi, serta dukungan infrastruktur, logistik, dan pembiayaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Kamdani dalam pidato utamanya menekankan tiga faktor penting untuk menghadapi perubahan ekonomi global, yaitu peluang, daya saing, dan konektivitas.
Menurut Shinta, dunia usaha perlu menangkap pasar baru, beradaptasi dengan perubahan rantai pasok, serta memanfaatkan teknologi. Di saat yang sama, perusahaan perlu meningkatkan produktivitas, mengelola biaya, dan memperkuat kepastian iklim usaha.
Dia menambahkan, konektivitas juga perlu diperkuat melalui rantai pasok, logistik, akses pembiayaan, dan sistem pembayaran, baik di dalam negeri maupun lintas negara. “Peluang saja tidak cukup. Dunia usaha membutuhkan daya saing untuk memanfaatkan peluang tersebut, serta konektivitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi,” ujar Shinta.
Baca juga : BRICS Sepakat Kerja Sama Gunakan Mata Uang Lokal
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan treasury, Standard Chartered Indonesia meluncurkan layanan Payouts-as-a-Service pada awal 2026. Layanan tersebut memungkinkan nasabah korporasi mengotomatisasi pembayaran dalam skala besar dan berulang kepada berbagai pihak berdasarkan parameter bisnis yang telah ditentukan.
Standard Chartered Indonesia juga meraih sejumlah penghargaan dalam The Asset Triple A Treasurise Awards 2026, termasuk kategori Best Payments and Collections dan Best RMB Bank in Indonesia untuk tahun kedua berturut-turut.
Indonesia Treasury Leadership Forum 2026 merupakan penyelenggaraan kedua forum tahunan tersebut di Indonesia. Standard Chartered menyatakan forum itu menjadi wadah bagi regulator, pelaku usaha, dan ahli untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan treasury serta membantu perusahaan menghadapi perubahan dan memanfaatkan peluang pertumbuhan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.